SULUNG

SULUNG
PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

"Beuh...anak perawan ibu yang paling rajin dan sholeha mau ke mana nih? bukannya hari Jumat kamu gak ada kuliah ya, dek?" tanya ibu yang memperhatikan penampilan Naila dari ujung kepala hingga kaki.


"Mau kencan dong, Bu! Babang Rafly tadi malam udah mendarat cantik ke Indonesia." Berbeda dengan Nadya yang masih malu-malu mengakui hubungan dengan Alan, Naila justru lebih frontal mengungkapkan hubungannya dengan Rafly.


"Jangan malam-malam pulangnya."


"Enggak malam, Bu. Paling Pagi. Aww!" Sang kanjeng ratu langsung memukul lengan Naila cukup keras hingga si empunya meringis.


"Kamu ya!"


"Mbak Nadya aja sering pulang malam,".


"Gue kerja, lembur!"


"Lembur plus-plus yang bener."


"Ibu----"


"Udah ya, ibu cuma mau ingetin kalian. Perempuan tuh harus bisa jaga diri, secinta-cintanya kalian tuh jangan pernah kasih hal yang berharga kepada laki-laki sebelum menikah. Enak laki-laki gak ada buktinya, sedangkan kalian ...mblendung dah tuh perut."


"Amit-amit." Nadya dan Naila kompak komat Kamit sembari mengetukkan kepalan tangan di meja, naudzubillah ampe kejadian kayak gitu akibat pacaran.


"Makanya ambil keputusan langsung nikah aja atau putus."


"Ya .... Allah,.gue baru aja mau ketemu pujaan hati udah diberi ultimatum nikah atau putus, nyesek Bu!"


"Biarin, lebih baik sakit sekarang ketimbang kalian salah langkah."


"Baiiik!" jawab Nadya dan Naila kompak. Apapun Omelan ibu pagi hari, akan menjadi nyanyian merdu untuk kebaikan mereka.


"Nadya berangkat, Bu!" pamit Nadya sembari mencium punggung tangan sang ibu.


"Dijemput Pak Alan?".


"Iyalah, Mbakmu sekarang kan manja, gak bisa naik motor sendiri."


"Ya deh, besok Nadya berangkat naik motor. Hari ini udah janjian dijemput juga. Kasihan anak orang udah nunggu."


"Sekalian tanya mau lanjut apa putus."

__ADS_1


"Idiih...ibu lama-lama kayak emak tiri deh!"


"Cowok Lo suruh ketemu ibu dulu sebelum kencan, biar kanjeng ratu ikhlas kasih restu."


Naila hanya mengangguk saja. Memang pertemuan pertama, Naila meminta Rafly bertemu ibu, sekedar kenalan dan pendekatan baru deh kencan. Lagian mall masih belum buka kalau jalan jam 7 pagi.


"Ya emang kudu pamitan dulu ke ibu lah!" Nah kan mulai sewot. Nadya pun segera keluar, tak mau membuat Alan menunggu lama, sengaja memang ia melarang Alan masuk rumah, karena sang ibu lagi emosi tingkat dewa. Kasihan anak orang kalau kena imbas juga.


Sepeninggal Nadya, rumah minimalis itu kedatangan tamu. Naila yang membuka, sengaja memang karena ia yakin itu Rafly.


Deg deg setengah mati. Hari ini adalah hari pertama ia bertemu dengan teman tapi mesranya. Ia akan bertemu di dunia nyata, berhubungan dalam hitungan bulan via dunia maya membuat Naila penasaran sosok Rafly. Apakah setampan wajahnya saat di layar telpon? Sangat mendebarkan sekali.


"Assalamualaikum!" sapa Rafly ketika pintu terbuka dan menampilkan sosok cantik Naila.


"Waalaikumsalam! Ayo masuk, Kak!" jawab Naila dengan suara cerianya, sama persis dengan kebiasaan ia saat bertelpon ria dengan Rafly. "Silahkan duduk!" lanjut Naila mempersilahkan.


Pemuda itu hanya tersenyum, terlebih melihat rona merah di wajah Naila yang sedang malu-malu. Ah manis sekali.


"Apa kabar, Nai?"


" Baik kak, kakak sendiri gimana? gak jetleg?"


"Alhamdulillah udah enggak, maaf ya gak bisa langsung ke sini tadi malam."


"Gak boleh?" goda Rafly dengan senyum manisnya. Pemuda yang sedang menjalani program spesialis anak itu memang gampang bergaul, tak ada kesan dingin ataupun datar. Cukup menyenangkan memang, sangat cocok dengan kepribadian Naila, sifat mereka mengimbangi satu sama lain.


"Ya gak lah, harus orang tua dulu yang ditemui, mereka pasti kangen sama kakak."


"Banget, malah tadi malam aku tidur dibina bobokan sama mama."


"Ya Allah." Pekik Naila dengan tertawa ngakak. Begitulah awal pertemuan mereka, cukup menyenangkan meski jantung mereka berdetak lebih cepat, karena gugup.


"Mana ibu?" tanya Rafly, kesempatan kali ini sengaja memang digunakan Rafly berkenalan dengan keluarga Naila. Ia bukan tipe orang yang mau bolak balik pulang ke Indonesia untuk mengurus suatu hal. Lebih baik saat di Indo, keperluan apapun akan diselesaikan sebelum balik ke Singapura.


"Aku panggil dulu, sekalian mau buatin minum buat kakak atau mau sarapan?"


"Makasih, aku udah sarapan."


"Oke... tunggu sebentar ya."

__ADS_1


Sepeninggal Naila, Rafly mengecek ponselnya. Ia membalas pesan masuk, baik dari teman maupun sang kakak.


/Udah kerja aja, nanti aku kabari kalau udah ketemu sama calon mertuaku/


Begitu balasan Rafly pada sang kakak, sok perhatian padahal mereka jarang-jarang berbalas pesan. Meski Rafly tinggal di luar negeri sang kakak hanya mau mengobrol kalau ia yang menelpon. Tapi kali ini beda. Demi pernikahan kakaknya ini lumayan getol kirim pesan, sepertinya mama mereka akan mantu dua kali dalam setahun.


Hufh... dulu aja kakak Rafly malas memikirkan pernikahan, sampai mama Rafly memaksanya mencari calon mantu, eh sekarang malah dapat secara bersamaan.


"Kak Rafly ini ibu aku!" ujar Naila dengan membawa nampan berdiri di samping ibu. Wanita cantik yang biasa dipanggil kedua putrinya dengan sebutan kanjeng ratu itu cukup ramah menyambut kehadiran Rafly.


Beliau penasaran siapa laki-laki yang mau menikahi Naila, gadis cerewet dan petakilan, ditambah keduanya kenal lewat sosial media dan belum pernah ketemu. Sejak sarapan tadi kanjeng ratu sudah menyusun strategi kalau bertemu Rafly, yakni kupas tuntas kelanjutan hubungan Naila-Rafly.


"Assalamualaikum Ibu, Saya Rafly!" sapa Rafly dengan menjabat tangan ibu Naila, plus mencium punggung tangan beliau. Poin utama yang tertangkap Rafly anak sopan. Oke...lulus sebagai mantu.


"Waalaikumsalam wr wb, Alhamdulillah akhirnya bertemu kamu juga, Nak! Ganteng sekali." Puji Beliau dengan gaya ceria ala emak-emak yang bertemu brondong tampan.


Naila langsung mengernyitkan dahi, heran banget dengan sikap ibunya yang sangat ramah, berbeda 180 derajat saat sarapan dengan kedua putrinya tadi pagi, ketus.


"Ah...Ibu bisa saja, terimakasih!" jawab Rafly dengan menyunggingkan senyum manis.


Ketiga orang tersebut memulai percakapan dengan candaan dan serius, ibu cukup bisa membawa diri kapan waktunya menasehati kapan menggoda keduanya. Tak jarang juga ibu mengomel karena Naila meremehkan nasihat beliau akan hubungan laki-laki dan perempuan sebelum menikah, yah dengan kata lain beliau mengharapkan agar Rafly segera meminang Naila, kalau sudah mantap dan serius. Tak usahlah pacaran lama-lama, buang-buang waktu dan menumpuk dosa. Sama halnya dengan pilihan yang ditawarkan pada Nadya.


"Insyaallah kalau diizinkan ibu, saya menikah dalam seminggu ini bagaimana Bu?"


"Nak Rafly sudah yakin dengan putri saya?" tanya Ibu serius. Dalam hal ini Naila tak berani petakilan atau celometan, hanya mendengar negosiasi Ibu dan Rafly. Pemuda itu tak mengingkari janjinya untuk menikahi Naila. Sejak ia berniat serius menjalin hubungan dengan Naila, di situ dia sudah menjabarkan apa saja yang akan ia lakukan kepada Naila, termasuk kapan melamar dan menikahnya. Rafly cukup menawarkan ke Naila, setuju atau tidak di awal hubungan mereka.


Rafly juga setuju dengan Ibu, tak usah pacaran, buang-buang waktu, mau diajak nikah ayo, dan sekarang Rafly menawarkan weekend ini ijab sekalian tak usah melamar, karena waktunya cukup singkat di Jakarta. Hanya dua minggu.


"Lah.. bagaimana keluarga Nak Rafly, bahkan kita belum bertemu sama sekali. Masa' ujug-ujug nikah?".


"Mama saya tahu hubungan saya dan Naila, mereka juga sudah dekat. Bahkan Naila sudah dua kali shopping sama mama."


"Kamu sudah jalan sama mertua, tapi kamu gak pernah bercerita sama Ibu dan Mbak kamu?" selidik Ibu sedikit judes.


Naila hanya cengengesan. Toh dia hanya bertemu sejam doang dengan mama Rafly, tak perlu lah publikasi kepada ibu dan kakaknya, justru Naila bisa dekat dengan mama Rafly dengan berbalas pesan.


"Jadi gimana, Bu?" tanya Rafly lagi.


"Keputusan kalian bisa nikah nanti ibu bicarakan dengan kakaknya Naila dulu ya Nak Rafly."

__ADS_1


"Mbak pasti setuju." Cicit Naila percaya diri.


"Aamiin." Jawab Rafly tegas.


__ADS_2