SULUNG

SULUNG
PILIHAN


__ADS_3

Sejak pertemuan dengan mama Alan, Nadya sudah membulatkan tekad ia akan menerima lamaran Alan saja. Menjalani hubungan dengan atasan yang hampir tiap hari bertemu membuat ia khawatir. Secara logika, mungkin ia bisa menjaga hubungan pacaran mereka dengan sehat, namun kalau sedang berduaan tak menutup kemungkinan lama kelamaan akan timbul skinship yang sementara ini bisa dihindari oleh keduanya.


"Tumben sudah di rumah?" tanya ibu yang tiba-tiba muncul di dapur, menganggetkan Nadya yang saat itu sedang meneguk air dingin, lagian setahu Nadya malam Jumat seperti biasanya ibu akan melakukan pengajian rutin di masjid perumahan. Tapi malam ini, baru jam 7 ibu sudah di rumah.


"Nggak lembur, Bu!" ujar Nadya menjelaskan.


"Biasanya kan pulang di atas jam 9, sama Alan!"


Nadya menelan ludah kasar, sepertinya ini bukan pertanyaan lebih tepatnya sindiran. Nadya sadar sejak menjalin kasih dengan Alan, ia selalu pulang di atas jam 9. Alan selalu mengajaknya kencan terlebih dulu dan itu hampir tiap hari.


"Tadi juga diantar sama Mas Alan, Bu!"


Ibu hanya mengangguk dengan wajah sinisnya. Tumben sekali ibu bersikap jutek seperti itu, pasti ada yang tidak beres.


"Ibu tuh khawatir sama kamu, Mbak. Tiap hari pulangnya malam terus, anak perawan ...malu juga sama jilbab, Mbak."


Nah kan, sepertinya ada bahan gosip tentang dirinya. "Nadya paham, Bu!'


"Jangan paham-paham aja, ibu tuh sebenarnya gak suka kamu pacaran sama bos kamu, Mbak. Tiap hari ketemu, tiap hari bikin dosa dong kan?"


Jleb


To the point sekali ibu malam ini, biasanya beliau sangat lembut dalam menasehati anaknya. Tapi sekarang, yang menasehati Nadya bukan seperti ibunya. Terkesan sekali nasehat ibu adalah sebuah tamparan keras untuk Nadya. Ketus dan sinis.


"Ibu harap kamu secepatnya memutuskan mau dibawa hubungan kalian, Mbak. Mau nikah secepatnya atau putus."


"Bu....!" rengek Nadya manja, bagaimana bisa ibu memberikan pilihan tersebut.


"Kamu anak gadis ibu, Nad. Kamu perempuan yang baik, jangan sampai satu kesalahan yang kamu perbuat mengecewakan ibu. Selama ini ibu bangga dengan kamu, Nad. Bahkan ibu berterimakasih sama kamu, kamu berhasil memenuhi amanah ayahmu untuk melindungi kami."

__ADS_1


Hati anak mana yang tak terenyuh mendengar ungkapan sayang dari seorang ibu. Nadya langsung memeluk ibu dengan erat, sesekali ia menciumi pipi gembul sang ibu dengan menitikan air mata.


"Besok Nadya akan bilang sama Mas Alan, Bu!"


"Jadi besok ibu siap-siap masak yang banyak?"


Nadya melonggarkan pelukannya, menatap beliau dengan mengernyitkan kening. "Kenapa kok masak banyak?'


"Kan besok Alan pasti melamar kamu!"


"Buuuuuuuu!" rengek Nadya yang diikuti tawa ngakak ibunya. Ya kali, besok baru bilang masalah lamaran, saat itu juga langsung melamar. Emangnya gak perlu persiapan buat seserahan?


Setelah berbincang lumayan serius dengan ibu, Nadya segera membersihkan diri dan sholat isya. Baru saja ia mau melepas mukenahnya, ponsel Nadya berdering. Panggilan video dari Alan, ia pun mengurungkan melepas mukenahnya.


"Assalamualaikum sayang!" sapa Alan dengan senyum cerianya. Wajah gantengnya terlihat begitu mempesona hingga Nadya pun tertegun beberapa detik. "Hei, ada apa?" tanya Alan seakan tahu Nadya sedang dirundung masalah.


"Gak pa-pa. Kamu ganteng banget si mas."


"Kamu kenapa?"


Nadya menggeleng.


"Kalau ada masalah tuh cerita sayang, siapa tahu aku bisa meringankan beban pikiran kamu."


Nadya menghela nafas berat, benar dugaan Alan, perempuannya kini sedang tidak baik-baik saja, tapi Nadya tetap diam. "Besok aja aku ceritanya."


"Yang, kondisi kamu kayak gini bikin aku gak bisa tidur malah."


"Ck....lebay kamu, mas!"

__ADS_1


"Dibilangin gak percaya, ayo cerita atau aku ke sana?"


"Jangan ngaco deh kamu mas. Bukannya kamu harusnya berkumpul sama adik kamu yang baru datang. Masa' sih kamu gak kangen-kangenan gitu sama dia."


"Hem...malas banget ngeladenin Ardhan Yang, kayak gak ada kerjaan aja."


"Lah kamu emang longgar kali mas."


"Tadi udah say hello, toh aku tadi cepet-cepet antar kamu juga mau jemput dia di bandara."


"Kamu sama adik kamu ganteng mana, Mas?"


"Ya akulah!"


Nadya tertawa ngakak, obrolan receh malam ini setidaknya meringankan beban pikiran Nadya akan keputusan hubungan dengan Alan.


"Nah gitu dong ketawa sayang. Ardhan tuh mirip plek sama kakek dari keluarga mama, kalau aku plek sama papa, agak bule dan level kegantengannya maksimal."


"Bos gue narsis abiiiizzz!" celetuk Nadya dengan memutar bola matanya.


"Dibilangin gak percaya, nanti kalau dia longgar deh aku kenalin sama kamu."


"Suruh ke kantor aja deh."


"Ck...maunya, bisa-bisa cewek-cewek di kantor ganti aliran."


"Iya, mereka ganti haluan jadi suka adik kamu. Apalagi kamu udah punya pacar yang cantiknya naudzubillah gini."


Alan tertawa ngakak mendengar kenarsisan Nadya, ia semakin yakin Nadya ada masalah, karena malam ini Nadya cukup aneh. Okelah Alan menyuruh Nadya untuk tidur, besok ia akan menjemputnya.

__ADS_1


Love you sayang, salam cinta dari Alan yang dijawab Nadya waalaikumsalam Mas Alan.


"


__ADS_2