
"Kok tidur lagi sayang?" tanya Alan heran, istrinya jarang sekali tidur lagi setelah sholat shubuh. Biasanya langsung mempersiapkan baju untuk ke kantor, lalu menyiapkan sarapan. Lah sekarang, setelah melepas mukenah langsung menggulung tubuhnya dengan selimut. Sangat aneh.
"Setengah jam lagi, Mas. Mataku lengket banget."
"Kamu sakit?" Alan duduk di tepi ranjang dan menempelkan tangannya di kening Nadya. "Gak panas." Lanjutnya, tapi tak direspon Nadya. Wanita cantik itu sudah terlelap dan terdengar dengkuran halus. Alan mengamati wajah Nadya, memang sudah seminggu ini wanitanya terlihat semakin kurus dan wajah pucat. Nafsu makan juga semakin pilih-pilih, hanya puding dan buah yang ia mau, eh...ada menu makanan yang membuat Alan marah dan kesal dua hari lalu sepulang kantor.
Yah....dia ingat saat istrinya makan malam dengan seblak level mampus. Nadya bahkan rela menunggu orderannya datang, dan tidak makan bersama, dan saat orderan tiba, matanya langsung berbinar dan melahap habis, Alan mengambil sendok, berniat mencicipi...baru satu srupitan kuah, mata Alan melotot dengan wajah merah. PEDAS PAKAI BANGET, SUMPAH. Efek dari seblak itupun Nadya terserang diare hingga lemas, sejak itu Alan melarangnya dengan tegas.
Melirik suasana pagi yang masih gelap, Alan pun ikut membaringkan tubuh sambil memeluk pinggang ramping Nadya, dan tak butuh waktu lama Alan pun ikut terlelap. Hingga....
Drt........
Drt......
Drt.....
Bunyi Alarm yang entah sudah berapa kali berdering dan tidak dianggap. Deringan kali ini berhasil. Nadya menggeliat, mengucek matanya sebentar sambil mengumpulkan nyawa, dan...matanya membulat sempurna tatkala matahari sudah bersinar cukup terang, melihat jam weker malah semakin panik. Jam 9 sodaraaaaaaaa.
"Mas, bangun. Kita telat ke kantor. Kamu gak ada meeting? Coba cek ponsel kamu pasti Mbak Erfina hubungi kamu. Duh..kenapa juga sih kamu ikutan tidur, jadi gini kan kesiangan." Nadya terus mengoceh hingga suaranya menghilang masuk ke kamar mandi. Sementara Alan malah menutup telinganya dengan bantal. Ia tidak sanggup mendengar nyanyian pagi istrinya.
Seingat Alan, pagi ini tidak ada meeting ataupun pertemuan dengan koleganya hingga makan siang, aman.
"Mas bangun." Ucap Nadya lagi, "Mas." panggilnya lagi, namun tak ada hasil. Nadya pun membiarkan, ia segera berganti baju dan menyiapkan keperluan Alan. "Aku berangkat ya, Mas. Aku udah pesan taksi online." Bisik Nadya yang dijawab deheman Alan.
__ADS_1
Nadya tertegun. Padahal dia hanya memanas-manasi Alan agar segera bangun, dan tidak mengizinkan Nadya naik taksi online. Tapi nyatanya, Alan berdehem, dan itu artinga mengiyakan.
*Dia udah gak sayang aku lagi,
Gak biasanya Mas Alan izin aku naik taksi online*?
*Apa dia udah bosen karena aku terlalu bergantung dengannya
Apa dia udah gak perhatian sama aku karena aku tak kunjung hamil.
Ya Allah*.
Nadya sedih, sepanjang perjalanan ke kantor ia masih dibayangi hal negatif tentang perubahan sikap Alan. Mau mewek tapi di kantor, mau bersikap bodoh amat tapi kok sakit hati. Hiks....
Nadya yang baru saja duduk dengan terpaksa mengikuti Erick juga. Oke....hari ini ia akan menjaga jarak dengan suaminya, ikut Erick memang pilihan tepat. Setidaknya ia tidak bertemu dengan Alan hingga sore mungkin. Nadya semakin frustasi saat makan siang pun Alan tak kunjung mencari keberadaannya.
Dasar laki-laki egois, gak sayang istri, awas aja kalau minta maaf gak jelas. Gak bakal aku maafiiiiin.
Kekesalan Nadya sepertinya menular kepada Alan. Karena gangguan deringan telpon dari Erfina, Alan bangun dan tak melihat istri di sampingnya. Kemana dia? Batin Doni, dkk. Alan menerima panggilan dari Erfina lalu membersihkan diri.
"Istriku mana, Ma?" tanya Alan yang sengaja mampir ke dapur, berharap Nadya ada di dapur, tapi hasilnya Nihil.
"Istra istri, mama gak pernah ya ngajari kamu jadi anak gak bertanggung jawab."
__ADS_1
"Maksutnya?"Alan bingung dong, dia tanya keberadaan Nadya eh malah dibilang gak bertanggung jawab.
"Kamu itu kasih izin Nadya naik taksi online. Mama tuh gak mau terjadi apa-apa sama Nadya, eh kamu---"
"Ma, Alan gak pernah kasih izin Nadya naik taksi online, kok." Alan masih menyangkal, karena ia juga gak pernah kasih izin.
"Ah sudalah. Kalau terjadi apa-apa, kamu bakal nyesel." Ancam mama meninggalkan Alan yang mematung. Ia pun segera menuju kantor, dengan tetap menghubungi ponsel Nadya. Tapi tak kunjung diangkat.
Sesampai kantor, Alan langsug menuju ruang kerja Nadya, dan lagi-lagi Nadya tak ada. Semakin geram saat Ersa memberitahu Nadya bersama Erick ke kantor cabang.
Lelucon apalagi ini, rasa khawatir dan cemburu berbalut jadi satu. Alan tak suka Nadya pergi dengan Erick, karena bagaimanapun Erick pernah naksir istri cantiknya itu.
Ia pun menuju ruangan, dengan terus menghubungi ponsel Nadya ataupun Erick tapi tetap saja tak diangkat. Curiga mulai masuk pikiran Alan. Kesal dan geram, tapi tuntutan agenda tetap ia jalankan, ada pertemuan kolega yang harus ia urus, setelah itu ia akan menyusul ke kantor cabang.
Drt...Drt....
Baru saja 10 menit pertemuan terjadi, ponsel Alan berbunyi dan muncullah nama orang yang ia cari sejak tadi. Berpamitan untuk menjawab telpon pada tamuny, Alan pun segera menjawab panggilan Erick.
"Hal--"
"Cepat ke UGD rumah sakit umum, Nadya pingsan."
"APAAAAAA?????"
__ADS_1