SULUNG

SULUNG
TERLIHAT RAPUH


__ADS_3

"Jadi...hiks...jadi kalian udah ..udah pu..putus?" Cindy kembali memastikan hubungan Alan dan Nadya dengan sesenggukan. Bahkan Imel dan Ersa pun ikut menangis meski tak sampai sesenggukan.


Nadya heran, bukannya ketiga gadis ini penggemar Alan, kok malah sedih dengar Alan jomblo. Aneh.


"Udah dong, aku yang putus kenapa kalian yang sedih sih?" Nadya tak nyaman juga kalau beberapa orang sudah menatap ke meja mereka.


"Kamu sadar gak sih, Nad. Kalian tuh masih cinta tapi gak bisa bersatu karena keadaan, nyesek banget." Cicit Cindy yang mulai bisa mengontrol emosinya.


"Drama banget Mbak kisah cinta kamu!" sahut Imel masih dengan mengusap pipinya karena lelehan air mata yang tak bisa berhenti.


"Meskipun kita penggemar Pak Alan, tapi dengar cerita kami kayak gini, kita sedih banget, Nad."


"Gak pencintraan kan?" goda Nadya, berniat mencairkan suasana haru di meja mereka.


"Keji banget tuduhan Lo, Nad!" Ersa langsung menepuk lengan Nadya gemas, bisa-bisanya mereka sudah menangis lebay dibilang pencitraan. "Lagian Pak Alan gue yakin kalau masih cinta banget sama Lo, Nad!"


"Mungkin masih, tapi kayaknya dia menghindar dari saya, Mbak."


"Gak bisa move on kalau lihat Mbak Nadya terus!" prediksi Imel yang diangguki Ersa dan Cindy, sedangkan Nadya hanya mengangkat bahu saja, tak mau percaya diri, niatnya untuk putus ya putus saja, segera move on biar tidak menyakiti satu sama lain.


Niat hati ingin segera move on, terlebih ruangan Alan dan Nadya juga beda lantai, jam berangkat dan pulang pun berbeda, Nadya pikir akan mudah, tapi kenyataannya berbeda.


Seperti pagi ini, Nadya malah duduk berdampingan lagi dengan Alan. Yah...hari ini, Nadya dan para manajer mengikuti acara pembukaan training untuk pengangkatan karyawan tetap di Jawa Timur, Nadya menggantikan Erick yang ada tugas di luar kota.


Posisi yang membuat jantung Nadya berdegup kencang, pasalnya saat Erfina mulai membuka acara, Alan duduk di samping Nadya persis. Bahkan lengan keduanya bersinggungan.


"Apa kabar, Nad?" bisik Alan dengan tatapan lurus ke arah Erfina, seolah dirinya tak mengajak bicara gadis di sampingnya itu.


Nadya sempat menoleh, kaget lebih tepatnya karena disapa Alan. "Baik, Pak!" jawab Nadya kemudian menatap ke arah Erfina lagi.

__ADS_1


"Kangen kamu!" lirih Alan lagi.


"Sama!" jawab Nadya lirih juga.


Hening. Nadya menyempatkan melirik Alan, namun sayang Alan masih menatap lurus kepada Erfina. Ia pun kembali fokus dengan tugasnya, memberi job desk staf keuangan, hak dan kewajibannya, menceritakan bagaimana suasana staf keuangan.


Nadya begitu cekatan memberikan pengarahan, sekaligus mengajak calon karyawan tetap itu ke devisi keuangan dan memberikan tugas untuk merevisi laporan keuangan bulan ini. Selagi calon karyawan mengerjakan tugasnya, Nadya juga mengamati interaksi masing-masing calon karyawan dengan calon lain, hal ini digunakan untuk menilai kerja dalam tim.


Setelah itu, Nadya mengerjakan tugasnya yang belum terselesaikan, hari ini ia akan mengambil jatah lembur karena Jumat besok, akad nikah Naila digelar, sedangkan Sabtu dilakukan resepsi di ballroom hotel milik keluarga Rafly. Otomatis, ia harus menyelesaikan tugasnya kalau tidak Senin bakal menumpuk.


Urusan kantor masih ribet, pesan WA dari ibu terus saja masuk. Cukup memecah konsentrasi Nadya juga sih, tapi mau gimana lagi, urusan dengan Ibu apalagi ini menyangkut kepentingan orang banyak tak bisa diabaikan begitu saja. Kali ini, Ibu membahas tentang pengajian nanti malam, padahal Nadya sebelum berangkat tadi sudah menjelaskan makanan dan kue untuk bingkisan sudah dipesan dan diantar nanti jam 4, ibu tinggal duduk manis.


Untuk urusan biaya pernikahan dan rangkaiannya, memang semua dari keluarga Rafly. Besok ijab sekalian dua keluarga akan bertemu, aneh memang, tapi itulah keinginan Rafly tak perlu ribet yang penting sah.


"Iya, Pak!" sekarang Nadya mengangkat telpon dari Erick yang meminta data keuangan yang dipegang Nadya. Manajer keuangan itu meminta mengirimkan via email sekaligus perkembangan training hari ini. Oke menambah list pekerjaan Nadya.


"Bisa aku bantu?" tawar Imel yang kebetulan hari ini pekerjaannya tidak terlalu banyak.


"Kecil itu, Ma!" Imel paham dengan apa tugasnya, karena ia pernah merasakan training seperti ini sebelum menjadi karyawan tetap.


Nadya kembali berkutat di mejanya, sesekali melihat Imel dan calon karyawan yang duduk di sofa ruang tunggu devisi keuangan. Sekali tangkap, Nadya pun menandai siapa ya g banyak berkomunikasi, nanti akan dikroscek pada Imel.


Drt...drt....


Ponsel Nadya bergetar, ia kaget kenapa Alan menghubunginya, bukannya beberapa hari mereka lose contact, apa karena ungkapan hati di ruang training tadi. Entahlah!


"Iya, Pak!"


"Hubungi mama saya kalau kita udah putus!"

__ADS_1


Tut


Nadya belum sempat menjawab, bos gantengnya itu main tutup saja, maksudnya apa sih. Nadya enggan juga menghubungi Nyonya Shofi, meski sering ia bertukar kabar dengan mantan calon mertuanya itu, tapi tak pernah membahas hubungan dengan Alan, hanya sekedar say hello dan hobi seorang wanita saja.


Saat membuat laporan training hari ini, layar ponsel Nadya tertulis Mas Alan memanggil, alamak kenapa lagi sih, kerjaan banyak juga.


"Iya, Pak!"


"Mama nunggu kamu!"


"Untuk?"


Hufh... terdengar helaan nafas Alan yang berat.


"Mama dari tadi meminta kamu merengek kamu jadi mantunya, sekalian saja besok ijab. Saya sudah pusing kasih penjelasan."


"Baik saya akan hubungi Nyonya Shofi."


"Aku tunggu!"


Okelah, daripada urusan pernikahan besok kacau dengan permintaan mamanya Alan, Nadya pun segera menghubungi beliau. Paa jadinya kalau mereka sampai menikah besok, campur jadi satu dengan Naila, tentu ibu akan menolak dan yah....ceramah akan masalah pamali bisa terus berlangsung.


"Nyonya Shofi!" setelah menjawab salam, Nadya berusaha menyapa mama mantan kekasihnya itu.


"Mama, Nad!"


"Maaf, Ma. Kami tidak bisa menikah!" jelas Nadya dengan suara lembut, semua yang ada di devisi keuangan itu menoleh ke meja Nadya. Entah apa yang diucapkan wanita yang dipanggil Nadya dengan sebutan Ma itu, tapi yang jelas Nadya sudah beberapa kali mengambil tisu di mejanya, menyeka air mata yang terus berderai, ditambah ia hanya menganggukan kepala, tanda menerima nasehat dari seseorang di seberang.


"Iya, Ma. Terimakasih!"Ucap Nadya sebelum mengakhiri panggilan telponnya dan setelah itu barulah ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya naik turun menandakan ia sedang menangis, Cindy dan Ersa langsung memeluknya.

__ADS_1


Baru kali ini seorang Nadya terlihat rapuh di kantor, meski putus dengan Alan baru kemarin tapi wajah sedih Nadya tak tampak, ia berhasil membungkus kesedihannya dengan topeng wajah cerianya, tapi untuk siang ini, ia meluapkan kekecewaan, sedih, bersalah pada Alan dan patah hatinya dengan menangis.


__ADS_2