SULUNG

SULUNG
MANTU MAMA


__ADS_3

Nadya yang kesal setengah mati bercampur malu, memutuskan untuk tidur saja. Ia akan packing untuk gathering nanti saat bangun tengah malam mungkin, toh besok berangkat jam 8. Masih sempat lah untuk packing, tapi ia baru sadar barang belanjaan tadi tertinggal. Ya sudahlah.


Baru saja memejamkan mata, ponselnya bergetar. Malas sebenarnya mengangkat, palingan Alan yang mau tahu kabarnya, karena beberapa menit lalu, Alan mengirim pesan secara beruntun, biarlah.


Sekali mengabaikan


Dua kali mengabaikan


Panggilan ketiga, Nadya bangkit dan segera menyambar ponselnya. Ia bakal mencaci Alan karena sudah mengganggu tidurnya. Namun ....Nadya melotot tatkala nama Mama Shofi tertulis di layar ponsel, auto kaget dong. Pikiran akan dimaki telah membuat calon mantunya marah sempat terlintas. Dengan bismillah, ia pun menggeser ikon hijau dan mengucap salam.


"Waalaikumsalam sayang!" sapa mama Alan dengan begitu ramahnya, beliau pun tersenyum lebar tatkala melihat wajah Nadya malam itu.


"Apa kabar, Ma?" tanya Nadya yang ketularan ramah menyapa sang mantan calon mertuanya itu, heleh ribet amat nyebutnya.


"Baik sayang, kamu apa kabar. Katanya habis disiram sama Jihan ya, maaf ya Nak. Pasti semua karena Jihan cemburu, Alan sih main grusak grusuk membatalkan perjodohan ini."


Nadya diam, melongo, kaget dengan rentetan ucapan sang mama. Lalu ia harus menanggapi yang mana, bingung kan.


"Tapi tenang, insyaallah besok mama dan Alan ke rumah Jihan kok. Sepertinya Alan sudah mengambil keputusan, tiga bulan berhubungan dengan Jihan eh salah bukan berhubungan tapi mencoba dekat nyatanya malah bikin dia kesal."


"Maaf ya, Ma. Gara-gara Nadya, perjodohan itu gagal."


"Hem...mama sebenarnya gak mau jodoh-jodohin Jihan dan Alan, Nad. Hanya mama tuh khawatir kalau Alan sampai jadi perjaka tua."


Nadya tertawa, "Gak bakal lah, Ma. Yang naksir Mas Alan tuh banyak."


"Yang naksir sih, banyak. Tapi yang disukai Alan cuma kamu. Kalau ibu kamu kasih restu sekarang, mama pun langsung nikahin kalian."


"Ya tapi sayangnya ibu masih megang pamali itu, Ma. Untuk saat ini kami belum bisa menjalin hubungan lagi."


"Nah, Nad. Tolong bilang ke Alan untuk membuka hati buat perempuan lain, selain kamu."

__ADS_1


"Nadya sudah nyoba, Ma. Tapi Mas Alan..."


"Terakhir deh, Nad. Bantuin mama ya, kalau sama Jihan kayaknya udah gak mau ya?"


Nadya mengangguk.


"Cob bujuk ya, Nad. Mama harap kamu juga segera punya pasangan, hingga Alan bisa move on."


Nadya tersenyum lagi lalu mengangguk.


"Asal kamu tahu, Nad. Kamu adalah mantu idaman mama. Mama sayang sama kamu, tapi mama gak mau juga kalau anak mama terlalu dalam terjebak dalam hubungan yang tak berujung ini, Nak."


"Nadya tahu, Ma. Nadya sadar juga semua yang mama lakukan untuk kebaikan Mas Alan."


"Mungkin ini usaha terakhir mama, Nad. Kalau memang Alan tetap menolak, mama akan nunggu Ibu kamu menyetujui hubungan kalian."


"Mama....maafin, Nadya, Ma!" Lirih Nadya sambil menitikkan air mata, betapa dia harus bersyukur karena mama Alan begitu mendamba dirinya sebagai menantu."


"Terimakasih, Ma."


Sambungan video mereka pun berakhir, Naila yang sejak tadi bersandar di pintu ikut menangis mendengar percakapan mertua dan kakaknya. Dalam hati, kadang ia iri karena sang mama mertua tak sedekat itu dengan dirinya. Memang beliau pernah bilang idaman mantunya seperti Nadya.


"Udah nikah aja, Mbak sama Mas Alan." Celetuk Naila tiba-tiba.


"Siapa juga yang mau nikah sama Mas Alan." Elak Nadya menutupi air matanya.


"Gak usah sok tegar, udah tahu cinta mati gitu masih berusaha buat putus."


"Pengennya si gitu, tapi masih ada pamali diantara kita, gimana dong."


"Lalu?"

__ADS_1


"Tetap putus saja, lama-lama Mas Alan juga bosen dengan hubungan gak jelas masa depannya."


"Kalau Mas Alan gak bosen, dan tetap rela nunggu."


"Ya udah, mungkin saatnya aku yang cari calon suami."


"Yakin, Mbak? Hati Mbak Nadya gak sakit?"


"Ck...belajarlah, atau mbak resign aja dari kantor Alan ya?"


"Gak usah ngaco, deh." Ketar ketir juga Naila kalau sampai Nadya resign, bisa gila mungkin kakak iparnya nanti.


"Kayaknya itu ide yang bagus, toh teman gue juga banyak yang punya kantor, Nathan contohnya."


"Gak usah macem-macem deh, Mbak."


"Kenapa sih kok Lo yang gak terima?"


"Ya jelas gak, Mbak Nadya rela putus dengan Mas Alan karena aku nikah sama Rafly, udah sakit banget malah harus meninggalkan pekerjaan yang Mbak Nadya sukai. Double sakit hati tau."


"Sekali-kali tuh nyoba buat menantang takdir, keluar dari zona nyaman. Agar kita semakin bijak dalam mengahadapi tantangan hidup."


"Gak paham gue."


"Otak Lo minimalis, gak bakal paham sama jalan pikrian gue."


"Tapi yang jelas, Mbak. Jangan sampai Mbak resgin."


"Emang kenapa?"


"Mas Alan bisa gila jauh dari Mbak."

__ADS_1


"Cih gak akan."


__ADS_2