
Alan dan Nadya keluar dari kantor tepat jam 7 malam bersama Rilo, kalau ada yang melihat saat itu, mungkin mereka pikir Nadya sedang dijaga oleh dua bodyguard gantengnya. Terlebih Ersa sudah berada di parkiran untuk menunggu mereka.
"Sabar ya, Bu Ersa. Kita diminta jadi obat nyamuk sama Nyonya Alan, biar gak tambah dosa." Sindir Rilo ketika dia sudah menjalankan mobilnya.
"Eh...iya Pak Rilo, gak pa-pa." Jawab Ersa gugup. Baru kali ini ia semobil dengan Rilo dan Alan, Masya Allah, rizeki yang tak akan terjadi dua kali ini mah. Bayangkan semobil dengan dua orang penting di kantor tempat ia bekerja. Ah... rasanya meskipun hanya sebagai obat nyamuk, Ersa mau dan ikhlas.
"Mama kangen sama kamu!" ucap Alan yang kebetulan memilih duduk belakang bersama Nadya di sampingnya, sedangkan Nadya masih mengirim pesan kepada Naila karena pulang telat.
"Iya, udah lama memang aku belum ketemu Mama."
"Emang kamu ketemu Tante Shofi ngapain aja, Nad, sampai Tante Shofi kesemsem sama kamu."
"Nawarin jadi mantu."
Alan tertawa terbahak, tetap saja sang mama menjadikan topik pernikahan sebagai topik penting dengan Nadya. "Enak dong udah dicintai sama mertua, gak bakal perang tuh Menantu vs mertua!"
"Pasti kamu ya yang minta ke mama buat ngajak nikah terus." Todong Nadya curiga.
"Iyalah, dari dulu aku disuruh nikah, sekarang udah ada calon kenapa gak langsung aja dibayar tunai."
"Gantianlah, biar Lo tau rasa Lan, gimana sakitnya ditolak itu." Rilo mencibir.
"Eh gue gak pernah nolak!"
"Sadar diri tuh butuh kaca Lan, gak ingat Lo membatalkan janjian sama anak teman Shofi?"
"Segitunya, Mas. Kasihan mereka." Nadya iba, pasalnya ia juga seorang wanita, pastinya sangat kecewa bila tak dianggap.
"Dia mah mana tahu perasaan orang!"
"Ada alasan gue gak menerima mereka." Celetuk Alan tak terima dianggap tidak menghargai perasaan wanita.
"Apa?" tanya Rilo dan Nadya kompak, tak terkecuali Ersa sampai ikut menoleh. Reflek saja.
"Karena mereka menor dan kecentilan. Gak kayak kamu, pura-pura gak mau tapi aslinya mau banget."
Puk
__ADS_1
Nadya memukul lengan Alan. "Enak aja, aku awalnya juga gak suka sama kamu ya, punya fans kok ekstrem banget. Emang siapa sih kamu ampe digilai sampai segitunya." Cibir Nadya kesal juga.
Ehem, Ersa sengaja berdehem. Menyadarkan akan keberadaannya, sepertinya Nadya lupa kalau ada penggemar berat Alan di mobil itu.
"Eman aku gak ada kelebihannya di mata kamu?" pancing Alan. Niatnya ingin dipuji sang kekasih, tapi ternyata respon yang ditunjukkan Nadya berbanding terbalik.
"Kelebihan kamu mah bagi mereka karena kamu ganteng kaya. Tapi kelebihan kamu bagi aku tuh perhatian banget."
"Emang aku gak ganteng, Yang di depan kamu?"
"Ganteng."
"Terus?"
"Terus kenapa?"
"Ya masa' kamu gak menganggap gantengku ini sebagai kelebihan di mata kamu?"
"Enggak."
"Ya Allah, sabar!" Alan mengelus dadanya karena mendapatkan kenyataan bahwa Nadya hanya melihat sedikit kelebihan dalam dirinya. "Padahal aku kalau di depan kamu tuh selalu tampil maksimal Lo, Yang."
"Sabar ya, Bu Ersa, mendengar kebucinan orang-orang cerdas di belakang." Ucap Rilo yang dijawab anggukan dan senyum tipis dari Ersa.
Penumpang belakang masih saja ngoceh dengan obrolan tak penting mengapa mereka suka satu sama lain. Terlebih Alan yang merasa tertarik pada Nadya sejak pandangan pertama. So sweet.
Saat mobil Alan sudah sampai di rumahnya, Nyonya Shofi langsung membukakan pintu, kebetulan Nadya langsung dipeluk Nyonya Shofi.
"Hem kangen banget mama sama kamu, Nak!" interaksi calon mertua dan calon mantu begitu menyejukkan mata bagi Alan, dalam hatinya ia bersyukur kekasih hatinya langsung diterima oleh mamanya, tanpa drama seleksi ataupun audisi calon mantu.
Ersa yang berada di belakang Rilo, langsung memotret kedekatan Nadya dengan mama Alan.
/Gue pamit keluar ya, kesempatan dengan bos ganteng sudah tertutup, Mama bos ganteng sayang banget sama Nadya/
Begitu pesan Ersa yang dikirim ke group penggemar Alan, dengan disertai foto Nyonya Shofi yang memeluk Ersa, dan beberapa detik kemudian Ersa left.
"Eh ini siapa?" tanya Nyonya Shofi ketika melihat Ersa juga masuk ke rumah Alan.
__ADS_1
"Ini Ersa, Ma! teman satu revisi Nadya."
"Oh! Senang bertemu kamu, Nak Ersa!" ucap Nyonya Shofi ramah, tak segan juga mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Ersa, sungguh suatu kehormatan bagi Ersa bisa bersalaman dengan mantan calon mertuanya, Halah halu yang hakiki.
"Maaf ya, Ma. Nadya membawa teman Nadya ke rumah Mas Alan."
"Eh gak pa-pa. Pasti kamu gak nyaman kan ke rumah laki-laki?"
Nadya mengangguk, bersyukur sekali dengan calon mertua yang begitu peka padanya. Ketiga perempuan itu melanjutkan obrolan tentang masalah perempuan dan tetap ..topik utama menikah dengan Alan.
Dimana Alan dan Rilo? kedua cowok ganteng itu dengan seenaknya pamit membersihkan diri. Kebetulan Rilo sering menginap di rumah Alan, sehingga ia punya baju ganti di rumah Alan.
"Nyonya sayang banget sama Nadya, saya jadi ingin punya mertua seperti nyonya!" puji Ersa dengan tulus. Pasti mama Alan tahu latar belakang kehidupan Nadya, dan meskipun beliau orang kaya tapi tidak melihat strata sosial sama sekali. Nyonya Shofi mungkin sangat setuju Nadya sebagai calon istri Alan.
"Kamu bisa aja, Nak Ersa. Mama tuh seneng Alan akhirnya mengenalkan perempuan kepada mama. Mama sebenarnya takut sekali melihat Alan yang tak kunjung berumah tangga."
"Doakan saja, Ma. Hubungan kami segera halal."
"Harus, Nad. Apalagi niat baik lebih bagus disegerakan."
"Iya, Ma. Nadya pun takut kalau semakin nambah dosa bila didekat mas Alan." Jujur Nadya dengan apa yang ia pikirkan ketika jalinan hati dengan Alan semakin dekat, terlebih sifat Alan yang kelewat perhatian membuat Nadya tak bisa berkutik.
"Makanya segera diterima lamaran Alan."
"Insyaallah, Ma!"
"Kamu tahu kenapa Alan membeli rumah ini?" Nyonya Shofi masih memegang tangan Nadya, beliau seperti mencari kekuatan untuk menceritakan kenangan berharga Alan.
"Karena marah sama mama."
"Kok bisa, Ma?" tanya Nadya yang membalas genggaman tangan Mama Alan.
wanita paruh baya itu mulai menceritakan kronologi Alan hengkang dari rumah utama dan membeli rumah ini, lantaran karena Amanda. Sejak Amanda bermain di belakang Alan, pemuda itu kehilangan kepercayaan terhadap wanita serta sering murung dan menyendiri. kecewa lebih tepatnya. Dalam kondisi seperti itu mana ada hati ibu yang senang melihat kondisi anaknya yang patah hati seperti itu. Alhasil mama Alan merancang segala perjodohan dengan anak teman arisannya agar Alan move on namun hasilnya nihil. Alan tidak mau membuka hati untuk perempuan pilihan mama. Jangankan membuka hati, datang saat janjian malam minggu pun tak pernah. Ia beralasan mengunjungi bisnis lainnya di hari libur.
"Ketika dia bilang dia suka kamu, dia penasaran sama kamu, dan kamu cewek yang menolak dia berkali-kali, mama yakin kamu sudah mengubah hatinya. Mama harap kamu menjadi pendamping Alan ya Nad?"
"Insyaallah Tante."
__ADS_1
"Mama pasti bahagia banget, karena Alan dan Ardhan sudah punya pasangan, bentar lagi mama punya cucu....yeayyy!!"
Ah begitu bahagianya melihat mama kedua anaknya sudah menemukan tambatan hati. Meskipun dalam hati Nadya masih ada yang mengganjal untuk menerima lamaran Alan, ia akan berusaha mewujudkan harapan mama Alab secepatnya. Terlebih ibu Nadya juga menginginkan ia menikah terlebih dahulu daripada Naila. Mungkin rencana menikah dalam waktu dekat dengan Alan memang lebih baik daripada menunggu pernikahan Naila. Mempercepat mendapat pahala dan mengurangi dosa tentunya.