
Ponsel Nadya terus ia pegang, hampir tengah malam, Alan tak juga memberi kabar. Pesan yang ia kirim masih centang abu. Khawatir sebenarnya, ia ingin menelpon tapi sudah malam. Takut juga kalau ia sudah tidur. Okelah, ia tidur saja. Besok pagi ia akan menemui Alan.
Niat hati ingin segera bergelut dengan mimpi, apa daya mata tak mau terpejam. Berkali-kali Nadya mengubah posisi tidurnya tetap saja tak terpejam juga.
Hufh
Diambilnya ponsel lagi, tapi tetap saja pesan Alan tak kunjung ada. Ia pun kembali mengirim pesan pada Alan.
/Mas kamu sudah di rumah?/
Etahlah bunyi pesan seperti itu sudah berapa kali Nadya kirimkan tapi tetap saja centang abu. Nadya kesal, ia pun beranjak keluar kamar mengambil air minum siapa tahu bisa mendinginkan hati dan otaknya.
"Mbak!"
"Astaghfirullah, kupret!"
"Cih...enak aja!" protes Naila yang ikut duduk di meja makan.
"Pulang jam berapa kamu?"
"10."
"Diomeli sama ibu?"
Naila mengangguk, sudah pastilah diomeli apalagi pergi berdua aja sama cowok, meskipun cowok itu adalah calon suaminya, eh...beneran direstui kan?
"Kamu gak bisa tidur?" tanya Naila ketika akan menuang air minum ke gelasnya untuk kedua kali.
"Iya!"
"Kenapa?"
"Kepikiran Alan!" jujur Nadya. Ia memang memikirkan kondisi Alan yang sedang ngambek atau bahkan marah. Mungkin bos ganteng itu sudah berpikir Nadya akan melepaskan dirinya, merelakan perasaan Alan begitu saja. Karena Alan tahu, Nadya begitu menyayangi adiknya.
"Kalian tengkar?"
__ADS_1
"Bukan tengkar sih, hanya saja syok dengan keadaan."
"Mbak, tapi secara agama boleh kan?"
Nadya mengangguk. "Toh kalau kalian menikah, terus Lo meninggal, Rafly bisa nikahin gue, istilahnya turun ranjang!"
"Eh astaghfirullah doanya!" protes Naila yang disambut gelak tawa Nadya. Sengaja memang ia mencairkan suasana penat dalam dirinya.
"Trus kenapa kalian tengkar?"
"Gue mungkin yang mau melepas Alan!"
"Astaghfirullah, Mbak. Kita omongin baik-baik lah sama ibu. Gak ada ceritanya keluarga kita kayak gok siapa di kampung nenek itu. Aturannya beda, aturan itu hanya berlaku di kampung nenek saja, kalau sudah di luar gak ada aturan gitu-gituan."
"Yah Lo kayak gak tahu ibu aja, tadi malam mah gue udah ngobrol sama ibu."
"Dan Lo dengan mudahnya melepas Alan?"
Nadya mengangguk.
"Sampai ibu dan Lo bahagia, Nai."
"Dan Lo pikir, gue nikah di atas putusnya hubungan Lo dengan Alan bikin gue bahagia, gitu?"
"Iyalah!"
"Konyol tahu gak! Sebenarnya Lo cinta gak sih sama Pak Alan?"
Kali ini Naila yang cukup emosi. Kenapa juga Nadya begitu mudah menyerah akan hubungannya. Analisis soal cinta ia bego sekali, main nyerah aja. Apa kabar Alan kalau sudah diputus sepihak? mewek kejer pasti, dilihat Naila, Alan sudah bucin tingkat dewa, malah dihempaskan jatuh begitu saja. Sungguh tega.
"Trus Lo maunya?"
"Maksa ibu buat restuin kita lah!"
"Coba aja!" Nadya tampak pasrah lagi.
__ADS_1
"Cinta itu butuh perjuangan, Mbak. Jangan secepat itu menyerah. Pikirkan hati Alan juga."
Nadya menghembuskan nafas berat, memang dia pengecut sekali. Belum berjuang apapun sudah menyerah. Tapi kalau dipikir, jika memang jalan takdir mereka tak berjodoh mau sekeras apapun berjuang tetap saja putus.
"Ingat gak, kenapa gue selalu mengulur penawaran Alan untuk menikah di awal kita mulai jalani hubungan?"
"Gak tahu!" jawab Naila asal. Dadanya masih bergemuruh, kesal setengah mati pada kakaknya.
"Karena hatiku ada yang mengganjal. Ternyata mereka saudara kandung. Saat itu aku juga gak tahu, apa yang menyebabkan hatiku terlalu ragu untuk jawab iya, secara calon gue udah nilai 10, sempurna banget. Gak ada alasan untuk menolaknya kan, tapi sekarang...."
"Mbak, plis jangan korbankan hubungan kalian."
"Aku belum memutuskan, Nai!"
"Ya tapi gelagat Lo udah menuju ke sana!"
Keduanya terdiam, masih dengan pikiran masing-masing. Terlalu berat untuk memutuskan sepihak karena dalam menjalani hubungan tentu ada take and give dari kedua belah pihak, biar sama-sama ikhlas dalam menerima apapun keadaannya.
"Besok pagi jelas gue akan diskusi dengan Alan, Nai."
"Semoga kalian gak mengorbankan perasaan demi gue dan Rafly."
"Kalau seandainya, nih, gue bilang seandainya, gue putus?"
"Gue juga putus, gue gak mau rumah tangga gue berjalan di atas penderitaan Lo. Mungkin Lo bisa memaksa ikhlas, tapi apa Alan bisa? dan setiap gue melihat Alan, gue pasti merasa bersalah."
"Lo gak sayang sama hubungan Lo dan Rafly?"
"Sayanglah. Kalau gue putus nangis Bombay!"
"Trus Rafly mau nikah kapan?"
"Sebel balik ke Singapura, paling lama hari Rabu Minggu depan."
Nadya tersenyum, "Melangkahlah, jangan pernah memikirkan perasaan gue. Karena hatiku bakal sakit hati kalau melihat Lo kecewa, Nai." Pesan Nadya sambil menepuk pundak sang adik sebelum masuk ke kamarnya.
__ADS_1
'Kenapa Lo selalu berkorban demj gue sih, amanah yang diberikan ayah padahal sudah Lo penuhi, kalau gue tetap melangkah, gue adalah adik tertega sedunia.' Batin Naila dengan menatap punggung sang kakak..