SULUNG

SULUNG
WEEKEND TERAKHIR


__ADS_3

Sabtu pagi, saatnya hibernasi bagi Nadya. Meskipun dari tadi sang adik, Naila, sudah bertengger dan mengoceh tak jelas di kamarnya. Ia masih betah bergelut dengan selimut setelah sholat shubuh. Bagi Nadya ini adalah weekend yang dinanti-nanti, karena hari senin lusa, ia sudah kembali ke devisi keuangan. Yeeaayyyy.


"Jadi anak perawan kok malas si, Nad!" omel Ibu, tumben juga ibu negara ikut-ikutan membangunkannya, padahal biasanya beliau akan membiarkan Nadya bangun ketika tengah hari. "Ada tamu dari tadi, sampai ibu malu sama bos kamu."


Sumpah, meskipun setengah merem, tapi suara ibu masih terdengar jelas, apa kata beliau, bos? Alan? Ah yang benar, mimpi kali. Toh kemarin di kantor sudah dicek tak ada pertemuan di weekend ini kok.


Puk


Sang ibu sudah kelewat gergetan, ia pun memukul betis Nadya cukup keras. "Ibu!" pekik Nadya dengan menyibakkan selimutnya. Ia terduduk dan mengucek matanya, jangan salah rambut acak-acakan dan wajah bantalnya semakin membuat ibu geleng-geleng kepala. Punya anak perawan kok malas banget.


"Bangun!"


"Hooooaammm!" sempat-sempatnya Nadya menguap, dan menggeliatkan badan. Tampak sekali kalau gadis ini menikmati acara hibernasi.


"Heran ibu sama kamu, Nad. Suara Naila gak kamu hiraukan, ibu juga sama. Malu Nad ibu sama bos kamu."


Nadya masih menggaruk kepalanya yang tak gatal, masih setengah sadar juga, dan ibu masih mengomel. "Bos siapa sih, Bu?" tanya Nadya yang akan rebahan lagi, namun tangannya ditarik ibu.


"Mau tidur lagi kamu, Astaghfirullah. Ngidam apa ibu dulu ya, Nad. Udah segera mandi, bos kamu sudah di depan hampir satu jam yang lalu."


"Bos siapa?" tanya Nadya mengulang lagi. Nyawanya belum lengkap sepenuhnya, sampai lupa nama bosnya. Hadeh.


"Alan." Jawab Naila. "Gue ampe garing ngajak ngobrol dia, ampun deh Mbak bos Lo tapres gitu ya."


"Mau ngapain dia?"


"Ada meeting katanya." Jawab Naila yang juga merebahkan tubuhnya di kasur Nadya. "Numpang bobok ya, kamar gue lagi berantakan."


"Lagian kamar Lo kapan juga pernah rapi."


"Eh ...Maemunah, gue lagi sibuk bikin makalah. Gue anak kuliah, wajarlah berantakan dengan buku."


"Dih...udah numpang. Nyolot lagi." Ucap Nadya dengan menggeser tubuh sang adik pakai kakinya.


"Kalian mau ibu siram. Berisik, malu didengar bos kamu, Nadya. Astaghfirullah anak ibu, malunya ibu." Mulai deh drama ala emak-emak komplek keluar. Mendramatisir. "Cepetan mandi."


"Iya-iya." Nadya pun bangkit, mengambil handuk dan segera menuju kamar mandi di dekat dapur. Naila merem, sedangkan ibu kembali ke dapur untuk menyiapkan suguhan berupa pisang goreng buat bos putrinya itu.


"Gak usah repot-repot, Bu. Lagian lidah bos Nadya beda dengan lidah kita, mana mau pisang goreng gitu."


"Eh....namanya tamu, Nad. Mau dimakan kek, mau gak, yang penting kita sudah berbuat baik dengan menghormati tamu."


"Yelahhhhh!" ucap Nadya segera masuk ke kamar. Entahlah apa yang direncanakan bos gantengnya itu sampai rela pagi-pagi nongkrong di rumah Nadya.


"Ada apa ya, Pak?" tanya Nadya yang hanya mengenakan kaos lengan panjang dan jeans hitam serta kerudung instannya. Menghampiri Alan di ruang tamu. Raut kesal jelas terlihat.


Alan yang sedari tadi fokus sama hanya kemudian mendongak, mungkin ia lupa berkedip saat melihat Nadya datang. Gadis itu masih seperti anak SMA. Imut.


"Pak!" tegur Nadya.


"Ikut saya, ada meeting mendadak."


Nadya curiga dong, perasaan gak ada jadwal meeting deh. "Perasaan-"


"Kami gak kasihan sama saya sudah nunggu hampir satu jam di sini. Trus berangkat meeting sendiri, tanggung jawab." Titah Alan tegas.

__ADS_1


"Meeting di mana?"


"Restoran Korea, di Jalan X."


"Bentar saya ganti baju dulu."


"Gak usah."


"Maksudnya?"


Alan gelagapan, "Maksud saya ganti jilbabnya aja, pakai baju gitu aja, gak terlalu formal juga."


Nadya mengangguk, ia pun segera berganti hijabnya, sekaligus memoles make up tipis agar tidak terlalu pucat. Setelah itu, Alan dan Nadya menuju restoran yang digunakan untuk meeting.


Ketika di restoran itu, Nadya merasa aneh. Tidak di ruang private seperti biasanya untuk meeting. Mereka duduk di tempat umum, malah terkesan mereka lagi kencan.


"Pak, kok tumben meetingnya di ruang terbuka?" tanya Nadya heran, ia duduk saja mengikuti Alan.


"Meetingnya cuma sama kamu."


"Eh apa?" tanya Nadya kaget. "Maksudnya?"


Alan tersenyum sebentar, menikmati wajah cantik Nadya dari dekat, setelah weekend ia akan semakin sulit berdekatan dengan gadis yang sedang bingung di hadapannya.


"Senin besok kamu sudah kembali ke devisi keuangan, jadi weekend ini saya puaskan kencan sama kamu."


"Kok gitu?"


"Dah ah, kebanyakan penjelasan. Nikmati saja kencan sama saya."


"Ya udah habis makan di sini kita pulang."


"Eh..." Untung reflek Alan cepat, ia pun menggagalkan langkah Nadya yang hendak pergi. "Sekali aja, Nad. Temani saya. Kamu gak kasihan sama saya."


Masih berdiri dan menatap Alan kesal. "Kasihan kenapa juga?"


"Saya udah lama gak bisa merasakan tertarik sama perempuan karena 'dia'. Sekarang saya punya kesempatan tertarik sama perempuan, eh perempuannya berhati batu, kamu gak kasihan sama saya kalau nanti saya belok."


"Astaghfirullah, Pak." Nadya mulai terjebak dalam akting seorang Alan. Astaghfirullah..... naudzubillah juga Alan sampai belok. Tanpa pemaksaan, Nadya pun duduk kembali.


"Emang bapak punya cita-cita belok?" Nadya serius, bahkan menatap Alan dengan lekat, biasanya saja, ia menghindari kontak mata dengan bosnya itu.


Reaksi Alan malah sekuat tenaga menahan tawa, belok kok cita-cita. Duh.... polosnya nih cewek, dan Alan semakin suka.


"Ya kalau kelamaan jomblo dan gak tertarik perempuan, Nad. Who knows?"


"Eh...si bapak, coba bapak buka hati, buka perasaan lebar-lebar.. Bapak tuh punya segalanya, pasti cewek banyak yang mau. Tinggal tunjuk deh."


"Dibilang saya sukanya sama kamu."


Nadya diam. Menghembuskan nafas pelan. "Tapi saya belum bisa suka sama bapak." Ucapnya lirih.


Keduanya terdiam, saat pelayan mulai menyajikan menu grill ala makanan Korea. "Kenapa?"


"Banyak hal yang perlu saya pikirkan untuk menjalin hubungan dengan seseorang."

__ADS_1


"Salah satunya?"


"Saya tulang punggung keluarga, Pak. Ayah saya sudah meninggal, dan otomatis semua kepentingan hidup saya harus dinomor duakan demi adik dan ibu saya."


"Harusnya kamu seneng dong ya, saya dekati. Makan, Nad!" ucap Alan mempersilahkan Nadya segera mencicipi makanan ala Korea.


"Seneng? kenapa?"


"Saya bisa kok menghidupi keluarga kamu, Nad."


"Sombongnya." Nadya kesal juga, mentang-mentang Alan punya banyak uang bisa santai saja ngomongnya.


"Bukan sombong sayang." Alan menyentil kening Nadya pelan, "tapi yakin."


"Sakit, Pak." Nadya mengusap pelan bekas sentilan bos gantengnya itu. "Bapak ma sanggup, saya yang gak sanggup. Bayangkan, Pak, misal saya jadian sama bapak trus dikit-dikit minta uang, dih matre dong ya saya."


Alan terkekeh, "Coba yuk."


"Udah deh, jangan bikin saya gak nyaman keluar sama bapak."


"Panggil Alan aja dong, Nad. Berasa tua saya."


"Pak, lidah saya yang minder Pak, takut keceplosan kalau panggil Alan, apa kata anak-anak nanti."


"Hidup itu gak usah mikirin omongan orang kenapa sih, Nad. Ya rizeki kamu dong, kalau saya yang suka sama kamu. Kenapa mereka yang sewot sih."


Nadya diam saja, ia lebih memilih mengunyah makanan daripada mendengarkan ocehan bos yang masih nembak dirinya, duh maksa banget buat jadi pacar.


"Kamu memang gak mau punya pasangan, Nad?'


"Mau lah, Pak. Tapi nanti."


"Sampai kapan? Kamu punya adik perempuan loh!"


Deg


Pembahasan yang benar-benar membuat Nadya seketika menghentikan makannya. Benar, ada Naila juga. Ia tidak boleh egois akan hal itu, kasihan Naila kalau harus menunggu dirinya mendapatkan jodoh, mau berapa lama.


Nadya menatap wajah Alan, kekhawatiran akan menunda kebahagiaan sang adik jelas terlihat di wajah cantiknya, mendadak tegang. Bahkan ia meminum air putih sampai habis, saking gugupnya mendapat pertanyaan itu dari Alan.


"Iya juga sih, Pak. Naila juga sudah dilamar cowoknya, tapi ibu belum kasih restu karena saya belum punya calon."


Alan tiba-tiba memegang tangan Nadya, "Kita coba ya, Nad. Mungkin aja, takdir jodoh kamu itu aku."


Nadya menahan tawa, sosok bos datarnya bisa juga berkata romantis seperti ini, yassalam. Apa kabar para penggemarnya kalau tahu kejadian ini. Buru-buru Nadya melepaskan tangannya, ia tersenyum sebentar.


"Saya gak mau pacaran, Pak. Saya lebih suka pasangan yang berasal dari sahabat atau teman, karena saya bisa menilai kepribadiannya. Berbeda jika dengan berpacaran, karena yang ditampakkan hanya sikap dan sifat baiknya saja."


Alan mengangguk, untuk kesekian kalinya ia ditolak oleh Nadya. Dia sangat menghormati keputusan Nadya. "Saat ini kamu menolak saya entah sudah berapa kali ya, Nad. Tapi jangan bosan kalau saya mendekati kamu."


Nadya mengangguk, "Itu hak bapak untuk suka sama perempuan, termasuk saya."


"Oke...kalau kamu bilang begitu, berarti kalau saya telpon atau chat pribadi dibales ya."


"Eh... kesimpulan dari mana itu."

__ADS_1


"Diiyain aja kenapa sih, Nad. Udah ... lanjut makan."


Keduanya kembali mengambil daging slice untuk segera ia nikmati selagi panas, menikmati moment langkah yang entah kapan akan terulang lagi.


__ADS_2