
Bekerja di ruangan Alan membuat Nadya kesal. Berkali-kali bos ganteng itu malah mengajak ngobrol dan bergelagat manja meskipun berjarak.
"Aku kapan kerjanya, ntar aku dimarahin Pak Erick tahu." Nadya menepuk lengan Alan yang duduk di sampingnya, tiba-tiba bos ganteng itu mendekat dan menyandarkan kepalanya pada pundak Nadya. Bahaya!!!
"Bentar, hem nyaman banget kalau kayak gini." Lirih Alan sembari memejamkan mata. Menikmati kedekatan dengan gadis pujaannya.
"Mas, jangan gini." Nadya mengedikkan pundaknya agar Alan pindah.
"Pelit banget." Alan mengalah, segera beranjak menuju ke kursi kebesarannya, Nadya seperti punya daya tarik tersendiri di mata Alan hingga ia tak mau melihat pesona perempuan lain.
Oke.. saatnya bekerja, setidaknya sumber energinya ada di depan mata. Tak lama kemudian suasana hening tercipta. Keduanya larut dalan pekerjaannya. Hanya terdengar ketikan keyboard. Mereka tampak sangat profesional, namun itu hanya pencitraan. Alan memang fokus pada laptop dan beberapa dokumen, tapi layar ponsel dihadapakan ke arah Nadya, merekam segala aktivitas Nadya. Sesekali ia tersenyum melihat tingkah Nadya yang menggemaskan, kadang cemberut, kadang juga tersenyum dengan melihat chat yang dikirim oleh temannya mungkin. Hem... hari ini bagi Alan, Nadya hanya untuknya. Tak boleh jauh dari pandangannya, tak memperdulikan gosip apa yang akan tersebar karena berduaan dengan kekasihnya.
"Sayang, ayo makan siang dulu." Ajak Alan yang sudah mendekati Nadya di sofa. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, perut Alan lapar sejak tadi karena ia sarapan hanya sedikit tadi.
"Bentar." Nadya save dokumen kemudian mengambil dompet dan ponselnya. "Tumben Pak Rilo gak ke ruangan kamu?"
"Udah aku larang." Jawab Alan sambil membuka knop pintu.
"Segitunya mau berduaan sama aku." Cibir Nadya, keduanya pun berjalan beriringan hingga menuju lobi, banyak mata yang mengamati keduanya. Tak ada gandengan atau rangkulan, tapi mereka terlihat sangat mesra. Terlebih Alan yang selalu mengajak Nadya bicara, bahkan sesekali Alan tersenyum mendengar jawaban Nadya. Entah mereka berdua membicarakan apa.
__ADS_1
Masih gak rela Pak Bos milik Nadya. Komentar pertama.
Kayaknya bos duluan deh yang ngejar-ngejar Nadya. Komentar kedua.
Apa sih bagusnya Nadya, cuma menang kalem doang. Komentar julid dimulai.
Eh tadi aku malah tahu kalau mereka berdua seruangan, sampai nih Mbak Erfina dan si Mutia itu hanya menumpuk dokumen di meja Mbak Erfina, katanya bos gak boleh diganggu. Komentar penimbul fitnah mulai terbit.
Masa Nadya ehem ehem sama bos? Oh sudah mulai menuduh rupanya.
Ya masa mereka cuma minum kopi , ya pastilah ehem-ehem.
"Hem...makin sirik aja si mereka. Ya wajar dong namanya mereka pacaran, Pak Alan tuh pengen dekat sama Nadya. Sehari aja mereka gak komen tentang Alan dan Nadya gatal kali ya."
"Lagian nih, mending dapat Nadya yang kita tahu sifatnya. Tadi pagi, aku sempat lihat Pak Alan sama cewek cuantik, tinggi, tapi tampak sombong sih."
"Hah? Siapa?" tanya Imel dan Ersa kompak.
"Tapi tenang, Pak Alan langsung tarik tangan Nadya, jadi intinya Pak Alan tuh gak mau didekati sama cewek selain Nadya." Jelas Cindy bersungut-sungut, menceritakan dengan menggebu apa yang ia lihat tadi pagi. Cindy baru saja mengambil orderan dari kurir tidak sengaja melihat adegan Nadya ditarik Alan dan sempat melihat cewek cantik di depan lift.
__ADS_1
Lain suasana kantin yang campur aduk mengomentari Nadya-Alan, suasana tegang tercipta di cafe seberang kantor. Alan dan Nadya memilih cafe terdekat dari kantor, biar cepet dan segera kembali mengerjakan file-file yang menjadi tugas mereka.
"Kamu serius banget baca ponsel, chat sama siapa?" tanya Alan kepo. Bos ganteng itu langsung pindah tempat di sisi Nadya. "Apaan?" tanyannya lagi.
"Baca, pahami, dan jangan emosi." Ucap Nadya sambil menyodorkan ponsel yang sedang menampilkan room chat dengan Ibu.
Mbak, nanti usahakan jangan lembur. Mau ada tamu, Bu Tatik dan putranya, Faiq.
"Maksudnya?" Alan hanya memastikan, berharap apa yang ada di otaknya berbeda dengan permintaan ibu.
"Ibu mau mengenalkan aku sama Mas Faiq sepertinya." Ucap Nadya yang menangkap maksud di balik chat ibu. Hampir tidak pernah, ibu mengirim chat ketika Nadya bekerja. Takut ganggu.
Tapi tidak untuk siang ini, permintaan teman sepengajiannya, Bu Tatik, sepertinya baru diterima Ibu. Padahal Ibu sudah berulang kali mengatakan menolak ajakan pertemuan Bu Tatik dan Faiq, karena beliau tahu Nadya masih berhubungan dengan Alan. Tak mau memberi harapan palsu pada temannya. Namun sekarang???
"Kamu mau dijodohin?" lagi-lagi Alan memastikan.
"Iya kayaknya."
"Tolak." Tegas Alan.
__ADS_1
"Beres." Jawab Nadya sambil makan siang. Tanpa disuruh Alan pun, Nadya ogah dijodohkan.