SULUNG

SULUNG
MALAM INI


__ADS_3

Nadya membersihkan sisa make up akad di kamar dengan deg-degan. Rasanya ia begitu cemas kalau pintu kamarnya terbuka, beberapa kali ia menoleh ke arah pintu sembari mengusapkan toner ke wajahnya. Syukurlah, Alan tidak mengekorinya. Alhasil, Nadya bebas membersihkan diri lalu sholat ashar.


Dengan longdress hitam dan cardigan rajut, ia keluar kamar. Baru saja melangkah ke ruang makan mengambil segelas air, sudah dikejutkan dengan seseorang yang memegang pinggangnya.


"Udah sholat?" tanya Alan dengan jarak yang begitu dekat, tak peduli dengan beberapa ibu yang masih lalu lalang membersihkan sisa hajatan siang tadi.


"Udah, Mas Alan mau sholat sekarang?" tanya Nadya dengan sedikit gugup. Menoleh ke arah suaminya, menatap begitu dekat wajah tampan yang masih betah merangkul pinggangnya.


"Temenin." Ucapnya sambil mencuri kecupan di pipi Nadya.


"Dih...ngamar sono. Pencemaran mata." Cibir Rilo hendak mengambil air juga.


"Iya ini mau ngamar." Balas Alan tak kalah sengit. Lalu menarik tangan Nadya untuk ke kamar.


"Busyet, langsung ngamar woii." Celetuk Ardhan yang baru keluar dari kamar Naila. Beberapa orang pun tampak menahan tawa, melihat gelagat pengantin baru menuju kamar.


"Iri..bilang bos." Ucap Alan sambil menutup pintu kamar Nadya. Kamar bercat krem itu begitu rapi dan khas kamar perempuan, foto berbagai moment tergantung manis di dinding. Meja rias dengan skincare yang tertata rapi. Begitupun dengan lemari jati dua pintu, sederhana namun enak dipandang. Alan pun segera rebahan di kasur, tak grogi sama sekali sekamar dengan seorang gadis. Berbeda dengan Nadya yang tak berani menoleh ke arah ranjang, ia membuka lemari mengambil handuk untuk Alan mandi.


"Mau mandi kapan?" tanya Nadya memecahkan keheningan di dalam kamar. Memberanikan diri menoleh ke Alan yang ternyata sudah memiringkan tubuh, menghadap Nadya.


"Gugup ya?" goda Alan dengan seringai jahilnya. Nadya berdecak sebal, ngapain juga diperjelas, batinnya. "Sini sayang." Pinta Alan sambil menepuk sisi yang kosong.


Nadya mendekat, hanya duduk tapi Alan menariknga hingga terlentang di dekat Alan. Mata keduanya bertemu. Wajah merona dan gugup Nadya tampak jelas, dan detik berikutnya Alan mencium kening Nadya lama dan hangat. Nadya memejamkan mata, menikmati kecupan dalam seolah menyalurkan seluruh cinta Alan untuk wanitanya.


"Cinta banget sama kamu, sayang." Lirih Alan yang kemudian mencium lembut bibir Nadya. Tak siap dengan serangan Alan, Nadya hanya diam dan memejamkan mata saja. Jantungnya berdetak tak normal, hingga pagutan Alan semakin menuntut.


Tok


Tok


Tok


SHIIIITTT, Alan mengumpat dalam hati, kesal. Tautan bibir terpisah seketika. Ia memilih tengkurap, membiarkan Nadya membukakan pintu.


"Ada tamu, orang kantor." Ucap Ardhan di depan pintu, Nadya hanya melongo. "Kok bisa?" Tanya Nadya heran.

__ADS_1


"Ulah Rilo, posting foto nikah kita di WA." Sahut Alan yang sudah berdiri di belakang Nadya, hendak keluar, mandi.


"Mandi besar, Mas?" Ledek Ardhan ketika Alan melewatinya.


"Iya, kenapa?" sentaknya sinis, dan membuat Nadya serta Ardhan terkekeh. "Bajuku tolong siapkan di ranjang ya." Pinta Alan dan diangguki Nadya.


Gadis itu membuka koper Alan, mengambil kemeja lengan pendek, sarung dan celana jeans navi panjang. Diletakkan begitu saja di ranjang, dan tak lupa menggelar sajadah juga. Nadya menuju ruang tamu, matanya membulat sempurna tatkala anak keuangan menatapnya tajam.


"Hai." Sapa Nadya dengan wajah tanpa dosa.


"Tega." Cicit Erick.


"Gak anggap kita sodara." Lanjut Cindy dengan mencebikkan bibirnya.


"Ya elah, maaf. Cuma ijab aja kok, ntar resepsi juga pasti diundang." Ucap Nadya tersenyum geli melihat rekan kerjanya kesal setengah mati.


"Pak Alan mana?" tanya Imel sambil mencomot pastel.


"Lagi mandi."


Cindy, Imel dan Erick tersedak seketika. Batuk bersama dan wajah memerah juga, begitu kompaknya tim keuangan.


"Tancap gas, Nad?" sindir Erick yang sudah menetralkan suaranya.


"Gak usah traveling ke mana-mana deh, masa' iya masih ramai gini begituan." Jengkel sudah Nadya pada tuduhan Erick akan malam pertama bagi pengantin baru.


"Eh..ini minum, sori ya Nad, gue ambil ke dapur." Cicit Ersa baru saja datang dengan membawa nampan berisi mangkok besar berisi sirup leci, nata de coco dan degan. Memang Ersa sering menginap di rumah Nadya, jadi langsung disuruh ibu ambil minum dan kue sendiri.


"Makasih, Mbak. Anggap aja rumah sendiri deh, eh makanan catering tinggal sate nih, gak pa-pa kan?" tawar Nadya dan langsung menuju dapur, meminta Bu Kasmi, tetangga yang sedari tadi membantu urusan konsumsi para tamu, menyediakan makanan untuk teman kantornya.


"Keluarin semua aja, Nad. Tamu istimewa nih." Imbuh Erick, atasan gak punya malu emang.


Suguhan sate nasi dan kuah gulai sudah ada di depan mata, masing-masing segera menyantapnya. Maklum, pulang kerja, gratis pula. Sayang kalau gak disikat.


"Besok masuk kan, Nad?" tanya Erick disela-sela santap sate.

__ADS_1


"Gila lo, dipecat Alan nyaho' lo." Sambar Rilo yang baru saja bergabung dengan tim keuangan. Dirinya pun menselonjorkan kaki, badanya pegal karena harus mondar mandir, disuruh Mama Shofi. "Bulan madu mereka."


"Dih, Pak Rilo sotoy, Mas Alan belum bilang apa-apa juga."


"Mandinya Pak Alan lama amat, Nad?" Cindy kepo. Pasalnya sudah hampir setengag jam, batang hidup bos ganteng itu tak kunjung hadir.


"Gerah, Cin. Makanya lama, main solo dulu mungkin." Tebak Erick diiringi tawa Rilo.


"Fitnah aja lo!" sentak Alan yang langsung menepuk pundak Erick dengan keras.


"Habis ini udah gak perjaka, nih Rick." Goda Rilo.


"Iyalah, biar gak karatan, dari dulu kan cuma dibuat pipis doang." Tambah vulgar saja Erick menimpali candaan Rilo. Kapan lagi mengerjai bosnya ini. Ketiga pria tampan itu langsung tertawa dengan candaan itu. Bahkan, Alan tak segan melempar box tisu ke arah menajer keuangan itu. Semakin riuh saja, gelak tawa mereka.


Duh...wajah Nadya langsung merona, belum terbiasa dengan obrolan 21+ seperti ini. Ia pun memilih ngobrol bareng Ersa cs saja, cari aman.


Menjelang isya, rekan kerja Nadya pamit undur diri. Di rumah, tinggal keluarga Pak De Shol, Mama Shofi dan Ardhan juga pamit pulang. Ibu sudah pamit istirahat bersama Bu de Sri. Rilo juga pamit akan mengantar Vika. Sang pengantin baru juga selesai menunaikan sholat isya.


"Jadi istriku selamanya ya?" pinta Alan saat Nadya menyalaminya usai sholat, ia mengusap kepala Nadya dengan lembut.


"InsyaAllah."


"Siap kan?"


"InsyaAllah siap."


"Emang siap apaan?" mulai deh kejahilan Alan dikeluarkan, membuat Nadya merona. Gadis itu memukul lengan Alan yang tertawa puas, berhasil mengerjai Nadya.


"Gak nyangka udah halal sama kamu sayang." Ucap Alan saat keduanya sudah berbaring.


"Maksa tapi, buru-buru amat. Ampe tadi pagi masih denger ibu-ibu perumahan bilang aku hamil duluan. Menyebalkan."


Alan terkekeh, mengelus pipi Nadya, menatap sang istri dengan seksama. "Kamu cantik banget kalau kayak gini, gak tahan aku."


Nadya tertawa, "Bentar dong, Mas. Kita ngobrol dulu, aku gugup tau."

__ADS_1


Alan tersenyum, dan malam ini keduanya meneguk manisnya surga dunia, memadu kasih hingga fajar menyingsing dengan pasangan halal.


__ADS_2