
Siapa sangka, beberapa Minggu menjalin kasih dengan sangat rapi dan bersikap profesional nyatanya Alan tak bisa melanjutkannya. Siang itu, setelah makan siang di luar bersama Rilo, Alan membuat staf keuangan diam tak berkutik sama sekali. Posisi Nadya yang jauh dari pintu tak menyadari akan kehadiran Alan.
"Pak Erick, duh manajer marketing ini kok jutek sama saya sih, padahal saya cuma nagih laporan periode 2 bulan ini, wa saya cuma diread doang. Padahal dulu saya obrak di group para manajer gak mau, sekarang chat pribadi juga gak dibales maunya apa sih tuh orang." Cerocos Nadya yang kesal setengah mati dengan ulah manajer marketing yang bernama Endru itu. Ia cemberut dengan fokus pada laporan operasional marketing periode 1 yang masih banyak revisi. Tangannya yang sudah terampil main coret aja, dan tak lupa memberi catatan kecil pada sticky notes.
"Endru kan naksir kamu, Nad!" balas Erick yang sengaja memancing emosi Alan, sahabat sekaligus atasannya itu sedang duduk manis di kursi depan Ersa, menghadap meja Nadya.
"Mana ada naksir, naksir, Pak Alan yang pacar saya aja profesional banget." Ucap Nadya jumawa, dengan anak keuangan saja ia berani mengaku terang-terangan sebagai pacar Alan, di luar itu hem kincep, takut dicakar sama para fans fanatik kekasihnya.
Ehem
Nadya kenal suara itu, ia segera mendongak dan menoleh ke sumber suara. Ia melotot seketika, reflek berdiri dan mengangguk hormat.
"Maaf, Pak!" ujarnya pelan, entahlah apa maksud Nadya meminta maaf. Alan hanya tersenyum lalu mendekat ke meja Nadya. Wajahnya sumringah lantaran mendengar pengakuan Nadya sebagai pacar Alan. Ungkapan spesial.
"Ikut saya!"
"Pekerjaan saya banyak, Pak!"
Jawaban konyol seorang Nadya sedangkan Ersa, Imel, dan Cindy hanya melotot lalu menggelengkan kepala. Heran saja pada Nadya, ditawari kesempatan emas berdekatan dengan pacar sekaligus bosnya malah ditolong. Uh...kalau saja Ersa di dekat Nadya udah ditonyor tuh jidat biar pintar dan peka dikit.
"Ya udah kerjakan saja tugas kamu!" Alan mengalah, dan membuat Ersa mendelik pada Nadya disertai bibir komat-kamit, dan Nadya tak tahu apa mau Ersa itu. Bos ganteng itu malah duduk di depan Nadya sambil membuka ponselnya.
"Wah, Pak Alan lagi longgar ya siang ini?" ejek Erick, sengaja menyindir pada bos rese' itu. Hanya karena kangen sama pacar sampai rela menunggu di meja kerja Nadya. Kondisi menegangkan bagi anak buah Erick lainnya. Selain takut, mereka pasti tak bisa fokus, karena sang idola berada di dekat mereka. Godaan level tinggi.
"Sibuk sih, Pak Erick, cuma lagi kangen aja sama Nyonya." Jawab Alan enteng. Nadya hanya mendengus kesal. Apa kata Alan tadi? Nyonya? ini ngomongnya di depan umum lagi, duh ...rem dikit dong!
"Ck... ngomongnya jangan di tempat umum juga!" gumam Nadya kesal, Alan hanya tersenyum saja mendengar gerutuan Nadya.
"Mending turuti aja deh, Nad. Bos ganteng ini, kalau tetap di sini horor loh suasananya." Hanya Erick yang berani berkomentar, staf lain mah pura-pura kerja aja.
"Balik gih, nanti pulang kerja baru jalan lagi deh!" pinta Nadya, risih juga lama-lama dengan pandangan Alan yang terkesan kangen berat dan ingin berdekatan dengan Nadya terus.
"Aku kangen sama kamu!" ucap Alan dengan nada biasa yang masih bisa didengar yang lain di ruangan ini.
__ADS_1
/Mba.....bos ganteng bucin banget sama Mbak Nadya/
Imel sengaja menulis pesan di group devisi keuangan.
/Kerja woyyyy/
Balas Erick ketus.
/Bentar napa Pak Erick/
Cindy tak mau kalah, diam-diam fokus mereka teralihkan pada Alan yang masih menemani Nadya mengerjakan laporan tanggung jawabnya. Ya elah bos, jadi atasan kok gini amat kalau jatuh cinta. Bikin karyawan geleng-geleng kepala, masa' iya dokumen segunung tak disentuh demi dekat dengan sang pujaan. Kalau boleh bilang nih, bawa aja Nadya tiap waktu, sekalian gak usah masuk ke ruangan ini.
Andai, andai saja salah satu dari staf keuangan berani bilang seperti itu, mungkin sejak tadi Alan dan Nadya sudah enyah dari ruangan ini. Bikin sakit hati dan mata. Fokus pada pekerjaan ambyar. Meski Nadya masih mengerjakan tugasnya, ia tetap saja bisa menimpali kejahilan Alan. Terlihat sekali pacaran ala mereka sangat sehat, hanya candaan dan tawa, tatapan romantis hanya dilakukan oleh Alan, Nadya tak berani menatap Alan lebih lama.
"Harusnya di meja kamu ada foto aku!" ucap Alan, keduanya terlibat obrolan dan jahatnya menganggap staf lain tidak ada. Oke lah bos serah Andaaaa...ini kantor milik Anda.... silahkan ngobrol sepuasnya.
"Buat apa?" Nadya menimpali ucapan Alan tanpa melepaskan pandangan dari laporan keuangan.
"Obat kangen!"
"Banget, pengen aku bawa pulang." Ucap Alan lirih, membuat Nadya meletakkan penanya sebentar lalu menatap wajah Alan yang tersenyum. Tanpa ia sadari wajahnya merona. Sialan.
Ehem
"Pak bos, silahkan kembali ke ruangan dong! Bikin jiwa jomblo meronta loh!" Goda Erick. Manajer keuangan itu sedari tadi memang diam namun memperhatikan pasangan kekasih yang tak tahu diri serta anak buahnya yang mengaku penggemar Alan, kikuk tak fokus bekerja. Sebagai penanggung jawab dalam keuangan tentu Alan tak mau kondisi ini berlangsung lama, semakin menumpuk saja kerjaan mereka.
"Ada yang iri, sayang!"
Glek
Tak hanya Erick dan staf keuangan lain yang kaget dengan sebutan sayang, tapi Nadya juga. Hellloooowww ini kantor, sadar gak sih. Allahu Akbar.
"Balik gih, gak enak tahu."
__ADS_1
"Sehari ini doang deh."
"Bucin parah bossssss!" teriak Erick sebelum ke luar ruangan, yang tak ditanggapi Alan sama sekali. Bos ganteng itu masih duduk manis di sekitar meja Nadya. Sumpah gak penting banget Alan siang ini.
"Kamu tuh gak ada kerjaan kah?"
"Ada!"
"Trus kenapa gak balik ke ruangan?"
"Lagi bosen lihat tumpukan dokumen, mau lihat yang seger-seger."
"Mana ada yang seger di sini?" tanya Nadya dengan menata beberapa laporan untuk diserahkan ke devisi produksi dan marketing untuk revisi.
"Kamulah!"
"Basi, gombal banget bos!" Nadya ketus, ia pun beranjak dengan membawa laporan, "Saya mau ke devisi lain, Pak Alan." Pamitnya berlagak formal, niat lain sih mengusir.
"Gak pa-pa saya tunggu!"
"Ih...kamu tuh kenapa sih?" jengkel sudah Nadya, kekasih yang merangkap jadi bosnya itu kesambet apa siang ini. Nempel mulu. Selain malu, dirinya gak enak sama staf lain.
"Dibilang kangen kamu."
"Serah deh," Nadya tetap beranjak, pekerjaan lebih penting ketimbang meladeni tingkah Alan yang senewen. "Mbak Ersa nitip bos ya!" pamitnya pada Ersa.
"Eh...I...Iya!"
"Kalau nakal tendang aja dari ruangan ini." Pesannya lagi dengan sedikit berteriak, namun anehnya Alan malah tertawa dengan memandang punggung Nadya yang semakin jauh.
Mana berani gue, Nad! begitu batin Ersa.
Sumpah bos gue, cinta mati dengan Mbak Nadya, batin Imel mendadak mewek lagi.
__ADS_1
Rizeki nomplok Lo, Nad. Bos ganteng bucin parah kelewat senewen sama Lo. Cindy tak mau kalah, batin anak staf keuangan meronta melihat pemandangan kekasih yang tak pernah terlihat mesra itu.