SULUNG

SULUNG
TAMU PAGI


__ADS_3

Malam itu benar-benar dilewati Nadya tanpa berchat ria dengan Nathan, setelah membersihkan diri, ia menemani sang ibu melihat sinetron yang lagi in mas Al kata ibu.


"Kamu sama Alan tuh kayak perangko aja mbak. Ibu takut lama-lama." Ucap beliau dengan netra yang masih fokus ke sinetron mas Al.


"Ya udahlah, Bu. Nikahin kita!" meski terkesan tidak berjuang mempertahankan hubungannya dengan Alan, namun Nadya selalu berjuang secara tersirat, seperti malam ini misalnya.


"Maunya ibu gitu sih, tapi pamali Nad!"


"Pamali itu orang mana sih Bu!" protes Nadya yang langsung mendapat tonyoran dari si emak sambil tertawa.


"Ibu tuh pengen banget kamu nikah sama Alan, paket komplit dia itu, ganteng, sopan, pekerja keras, tanggung jawab, baik,-"


"Perasaan ibu kalau lihat cowok yang dekat sama Nadya selalu bilang paket komplit juga, Nathan contohnya."


"Alan, Rafly, hem..rizeki kalian memang kayaknya dapat orang kaya semua. Naila dan Kamu, signal-signalnya dapat orang kaya, mungkin Allah kasihan sama kalian yang selama ini hidup pas-pasan ya, maaf ayah dan ibu ya Nad!" ucap ibu dengan nada insecure.


"Ibu tuh apaan sih, kasih sayang ibu dan ayah tuh sangat berarti daripada materi Bu buat kita."


"Maaf ya, Nduk!" beliau melas lagi, bahkan menangis, Nadya memeluk beliau erat. Bingung juga kenapa tiba-tiba beliau menangis dan merasa bersalah.


"Ibu dan Ayah kamu itu salah nikah, Nduk!"


Nadya mengerutkan kening, "Maksudnya?"


"Ibu dan Ayah dulu menikah dengan melanggar aturan keluarga ibu. Keluarga ibu yang memegang prinsip semua harus seimbang antara adat kepercayaan dan agama, terpaksa merestui pernikahan ibu dan ayah. Keluarga besar ibu sebenarnya tidak setuju lantaran jumlah weton ibu dan ayah total 25, akibatnya cerai atau mati, dan ternyata ayah meninggal di usia lumayan muda, 49 tahun, di saat kebutuhan sekolah dan kuliah kalian cukup tinggi. Perekonomian keluarga kita pun gak pernah bagus kan?"


"Bu, itu semua sudah digariskan sama Allah, ibu jangan merasa bersalah ataupun bilang seperti itu."


"Andai, Nad. Andai ibu tidak menikah sama ayah, manut sama keluarga ibu, mungkin---!"


"Ya, Nadya dan Naila gak ada juga, Bu!" potong Nadya gemas.


"Eh iya ya!"


"Bu, kalau Nadya sih mikirnya asalkan gak melanggar agama ya udah, diniati bismillah, berdoa sama Allah agar selalu dilindungi-Nya. Udah cukup, apapun nanti ujian hidup pastinya adalah ujian kita buat naik tingkat agar lebih baik lagi, gak usah mikir macem-macem. Positif Thinking."


"Pengennya ibu kayak gitu, Nad. Apalagi ibu juga sadarlah Nad, kalian saling suka."


"Jadi?"

__ADS_1


"Ibu tetap pegang pamali, Nad. Gak tega kalau kalian ngalami seperti ibu. Sabar ya, pasti ada jalan kalau kalian berjodoh."


Glodaaagggg


Pamali masih juara, Nadya pun menghembuskan nafas berat, sampai kapan hubungan mereka bisa halal, ia pun tak tahu, oke lah, kalau ibu menyuruh sabar, Nadya juga akan melakukan itu. Hanya saja, Nadya tentu punya batasan sabar. Kalau sampai usianya menjelang 25 tak kunjung dapat restu, Nadya akan putus beneran sama Alan. Sudah cukup menjalani hubungan tanpa ada kejelasan.


Sesuai janji Alan tadi malam, pagi banget ia sudah sampai di rumah Nadya, bahkan Nadya yang masih pakai piyama saja kaget melihat Alan sudah kelimis dengan kemeja kerjanya.


"Ya Allah, pagi banget tuan." sindir Nadya tapi menyuruh Alan masuk juga.


"Belum mandi ya?" tanya Alan yang melihat wajah polos Nadya, ditambah penampilan Nadya yang masih berbalut piyama dan jilbab instan.


"Masih jam 6 Tuan Muda, wajarlah saya belum mandi." Ucap Nadya enteng, ia pun tanpa pamit masuk ke kamar, mengambil handuk dan segera mandi.


Alan hanya menunggu sang pujaan hati dengan bermain ponsel di ruang tamu, tumben rumah sepi karena biasanya jika Alan datang ibu selalu menemaninya. Naila juga masih di SG. Sepertinya ia akan tinggal di sana saja, daripada bolak balik, kuliahnya pun akan pindah ke sana juga


"Loh, Nak Alan, kapan datang?" tanya Ibu yang membawa tas belanjaan sayur mungkin beliau baru dari pasar atau tukang sayur.


"Dari jam 6 Bu!"


"Astaghfirullah, udah setengah jam sendiri, mana tuh anak!" Ibu celingukan ke dalam rumah.


"Biarin aja, Bu. Masih dandan mungkin."


Alan tersenyum, ia pun mengangguk saja, meski Nadya tak memperhatikannya tapi ia yakin ketika menjadi istrinya, gadis itu akan perhatian. Ah...membayangkan saja membuat Alan tersenyum.


"Ah...nak Alan, kenapa senyum-senyum gitu? tegur Ibu membuyarkan lamunan Alan, "Udah sarapan?"


"Niatnya kita nanti sarapan di dekat kantor saja, Bu!"


"Hemm...ibu udah masak Lo, sarapan di sini aja, biasanya juga Nadya berangkat jam 7an, masih sempat kok, sambil nunggu anak itu keluar kamar, sebentar!" Ibu pun meninggalkan Alan sendiri lagi, beliau beranjak pergi mungkin mau memanggil Nadya.


"Iya Bu!" sahut Nadya yang keluar kamar entah nasehat apa yang diucapkan ibu hingga gadis itu sudah muncul dan mengajak Alan sarapan.


"Benahin jilbab kamu dulu!" titah Alan, agak risih juga karena selama ini Alan melihat Nadya serba tertutup, tapi pagi ini ia menggunakan pashmina yang belum beres dirapikan, sehingga tampak bagian leher Nadya, meskipun sedikit.


"Iya ini aku mau beresin dulu niatnya, tapi disuruh ibu keluar nemenin kamu sarapan. Lagian kenapa datang pagi banget sih!" omelnya sambil menyendokkan nasi, nugget dan capcay, tanpa menawari Alan dulu.


"Masya Allah, Nad. Banyak amat!" ucap Alan kaget melihat sepiring nasi yang disodorkan oleh Nadya.

__ADS_1


"He...he..., dihabiskan, ntar kalau gak dimarahin ibu!" nasehat Nadya seperti bicara pada anak kecil, Alan yang sibuk sarapan, Nadya malah sibuk merapikan pashminanya, dan tak luput dari pandangan Alan. Sambil mengunyah, ia juga tersenyum tipis melihat Nadya yang ribet memutar kain pashminanya.


"Jahatnya...kamu makan sayur dan telor doang, sedangkan aku nasinya banyak banget!" protes Alan yang akhirnya menyerah tak menghabiskan jatah sarapannya.


"Kalau Nadya makan nasi banyak tuh katanya bikin gendut Nak Alan!" ujar ibu yang hendak sarapan juga.


"Ibu.....kalau ngomel terus gak cantik loh!" ucapnya sambil memeluk sang ibu, dan mencium pipi beliau. Alan yang melihat interaksi itu tersenyum tipis, pantas saja ia merelakan perasaan cinta, dia kelihatan banget kalau menyayangi ibu.


"Dih kamu gak malu dilihatin Alan kayak gini." Baru deh Nadya melepaskan rangkulannya pada ibu.


"Gak pa-pa, Bu. Nadya tuh gak pernah jaim sama saya."


"Jaim itu apa Nad?" tanya beliau sampai mengerutkan dahi.


"Jaim itu, jajan cokelat!" Nadya bergurau, membuat Alan tertawa, bisa-bisanya Nadya bercanda hal sereceh itu sama ibu, sedangkan dia dan mamanya saja bertemu bisa dihitung pakai jari. Sungguh pemandangan antara anak dan orang tua yang berbanding terbalik.


"Nadya berangkat dulu ya, Bu. Assalamualaikum!"


"Hati-hati!" Ibu pun mengantarkan keduanya hingga mobil Alan sudah jauh dari pandangan beliau.


"Calon Nadya ya Bu Sumirah?" Tanya Teh Elis yang mau mengantarkan putrinya sekolah, kebetulan rumahnya di depan rumah ibu.


"Doakan saja, Bu, semoga Nadya segera menikah!" ucap Ibu tulus, dalam hati kecilnya sangat merestui sebenarnya, hanya beliau takut akan belenggu pamali.


"Aamiin, Mbak Nadya baik cantik dapatnya juga tampan, dan sopan ya Bu kayaknya!" celoteh pagi ala emak-emak perumahan yang menilai seseorang meski belum berkenalan.


"Alhamdulillah, Iya, teh Elis, kebetulan itu bosnya Nadya juga!"


"Wah....cinta lokasi toh rupanya. Kayak sinetron ya, Bu?"


"Betul Teh Elis, saya saja sampai mikir doa apa ya saya dulu ampe Nadya bisa jadi kekasih bosnya."


"Weleh, Bu Mira ini bisa saja, wong mbak Nadya juga cantik, sopan, pasti bosnya kepincut." Lanjut Bu Elis dengan semangat memuji Nadya, maklumlah Mia, gadis kecil kelas 1 SD itu sering dikasih es krim sama Nadya, makanya emaknya suka banget dengan Nadya, jatah es krim bisa dicoret dalam jatah bulanannya.


"Hem...Teh Elis bisa aja!" ibu Nadya yang sedari tadi mau menutup pagar gagal terus karena obrolan tak kunjung berhenti. Hingga...


"Mama ayo berangkat!" rengek Mia, yeayyy gadis itu berhasil mengusir obrolan unfaedah emak-emak yang rumahnya saling berhadapan ini.


"Aduh-aduh, maaf Mia sayang, keenakan ngobrol sama Budhe Mira jadi lupa mengantar, saya pergi dulu Bu Mira!"

__ADS_1


"Hati-hati, Teh Elis."


Huweeeenggggg, motor Teh Elis segera meluncur menuju sekolah putrinya.


__ADS_2