
Rombongan gathering sampai di Puncak menjelang makan siang, mereka turun dengan berdecak kagum akan suasana yang begitu asri, dingin, dan mewah. Villa yang dipilih EO sungguh memanjakan mata. Luas dan instagramable. Tak ayal, khususnya para ciwi - ciwi potrat potret dengan segala pose.
Ihsan, membuka acara setelah semuanya berkumpul di halaman samping Villa, semua serius mendengarkan instruksi Ihsan sebagai ketua acara. Selain itu, pembagian kamar berdasarkan devisi juga ditentukan. Setelah rombongan menuju kamar masing-masing, ada jeda untuk sholat dhuhur, dan tepat pukul setengah 2 mereka menuju taman belakang villa, untuk makan siang. Sudah ada berbagai menu catering dan minuman serta camilan yang memanjakan perut rombongan. Meski hanya lesehan di rumput taman belakang, mereka tampak menikmati hidup tanpa beban pekerjaan. Bahkan ada beberapa orang yang belum saling kenal dari berbagai devisi terlibat obrolan dan bisa canda tawa sambil makan siang.
"Pak Alan gak ikut, Nad?" tanya Mini yang kebetulan ikut nimbrung di devisi keuangan.
"Meneketehe." Jawab Nadya sambil mengunyah makan siangnya.
"Kenapa dia?" tanya Mini sembari berbisik pada Cindy yang lagi mengunyah makanan juga.
"Mereka udah putus." Sahut Cindy yang dijawab decakan sebal oleh Mini.
"Asal Lo tahu, Nad. Pak Alan tuh cintanya sama Lo. Gue nih pernah ya, papasan sama Pak Alan dan cewek minim kain itu tuh diparkiran, kalian tahu gak----" mode ajak bergosip dimulai, sejak tadi mereka fokus ke makanan, kini menatap wajah Mini serius, bahkan Nadya sampai menghentikan kunyahannya juga.
"Penasaran kan?" pancing Mini diiringi gelak tawa meledek.
"Cepetan, Maemunah!" dorong Imel yang juga penasaran akan berita Alan dan Jihan. Jiwa fans fanatik Imel tak terima kalau Alan mendapat pasangan seperti Jihan si minim kain.
"Pak Alan membentak Si Jijik itu."
"He....nama cewek itu Jihan, Mini." Cibir Cindy meralat.
"Iya maksud aku Jihan."
"Membentak gimana?" tanya Nadya penasaran juga.
"Cie...katanya putus, penasaran juga kan si mbak mantan." Goda Mini dengan seringai jahil.
__ADS_1
"Ya gak penasaran juga, cuma Alan gak pernah membentak setahu gue."
"Hey Nadya yang kelewat sopan, mana pernah Pak Alan membentak Lo, orang Lo pujaannya. Nih...gue, Pak Rilo, Mutia, tambah Mbak Erfina noh noh...berasa ditelan mati-matian kali, apalagi tiga bulan kalian gak komunikasi beuh....berasa ketemu Singa PMS dah." Cecar Ersa dengan bersungut-sungut. Yah memang, Ersa pernah kena abu hangat semburan Merapi Alan, pengen mewek tapi kok ya malu, pengen tabok tuh bibir tapi kok sayang, gimana dong.
"Emang Mbak Ersa pernah dikatain apa?" tanya Nadya yang selama ini tak mau tahu urusan dengan Alan, kalaupun ada berkas yang perlu disampaikan Alan, pasti melalui Erick atau titip langsung ke Mutia atau Erfina, sejak tiga bulan ini sih.
"Ehem...ehem." Ersa berdehem memulai pemanasan suara menirukan suara Alan kala mengumpatnya beberapa bulan yang lalu.
"Kamu anak keuangan yang senior, kan? Laporan kayak gini harusnya jadi camilan kamu, kalau udah gak sanggup kerja dengan baik silahkan undur diri saya tunggu sore ini."
Glek
Semua yang mendengar ocehan Ersa hanya menggigit sendok dan melongo. "Sakit Jyum." Sahut Cindy sambil memegang dadanya, "Sumpah nyelekit tuh, mewek kalau gue."
"Gue pikir sih, Pak Alan gak mau ke lain hati, Nad. Jadi lebih baik balikan gih." Saran Mini dengan sungguh-sungguh.
"Ngomong yang bener Lo, Nad!" sentak Cindy kaget.
"Bukan Nadya banget kalau Lo nyerah sama masalah." Sahut Ersa dengan sorot kecewa.
"Ya makanya gak usah sangkut pautin gue sama Alan terus, biar gue move on...dia juga move on."
"Emang Lo udah gak cinta?" tanya Cindy kemudian.
"Dulu gue gak cinta tapi lama-lama juga bisa cinta sama dia, begitupun sekarang.... meskipun masih cinta gue akan menjauh dan berusaha menghilangkannya."
"Sedih aku tuh, Mbak." Imel berkomentar dengan menepuk pundak Nadya.
__ADS_1
"Ya gimana,emak gue mikir pamali, mama Pak Alan pengen segera dia nikah."
"Semoga ada jalan terbaik buat kalian deh!"
"Aamiin. Udah ah, melow terus, kita ke sini buat having fun, refreshing."
"Besok acaranya yang bisa bikin teriak-teriak, gak sabar gue. Kalau malam ini mah cuma perkenalan aja." Sahut Elin, salah satu tim acara.
"Teriak-teriak gimana?" tanya Nadya antusias, meskipun ia juga bendahara acara, tetap saja anak acara tak mau membocorkan detil outbound dan gamenya. Dan mereka pun semakin penasaran dengan acara gathering kali ini.
Setelah Maghrib, semuanya berkumpul di taman belakang. Duduk melingkar beralas sanda jepit, semuanya tampak tertawa mendengar stand up comedy dari Adna, dari devisi analis. Ya namanya anak analis yang biasa berkutat di lab, candaannya garing banget, malah yang bikin ketawa ekspresi datarnya dari seorang Adna, datar-datar polos dengan kacamata bobohonya.
Setelah pembukaan stand up comedy, acara perkenalan dari semua devisi baik kantor cabang maupun pusat di mulai. Ihsan memperkenalkan terlebih dulu, wajahnya yang ganteng dan tubuhnya tinggi tenggap mampu menghipnotis para ciwi-ciwi dari kantor cabang. Bahkan ada yang berani meminta nomor Ihsan di depan umum. Gilaaaaaa.
"Boleh, nanti tukeran nomor hpnya. Pokok jangan tukeran hati ya!" jawab Ihsan dengan senyum manis.
"Wah potek dong hati Eneng!" sahut Rifka, salah satu tim marketing dari kantor cabang yang terlihat sangat mengangguk kegantengan Ihsan.
"Siapa tuh Calon Nyonya Mas Ihsan?" tanya Melia, satu tim dengan Ihsan di kantor pusat. Pasalnya dia juga naksir, siapa tahu ia yang dimaksud Ihsan.
"Ya elah, Mei, ya pasti anak keuangan yang paling Sholehah lah."
Jeduar......
Beberapa pasang masang menatap seseorang yang dimaksud Ihsan. Kaget, dan tidak menyangka Ihsan bisa nekat pendekatan dengan Nadya.
"Eh... bukan gue kan yang dimaksud Ihsan?" tanya Nadya yang baru sadar Ihsan terus menatapnya sambil tersenyum.
__ADS_1