SULUNG

SULUNG
DISKUSI BERAT -1


__ADS_3

Naila sudah duduk di pojokan cafe, tangannya sudah dilipat di depan dada. Matanya lurus menatap siapa saja yang masuk ke cafe itu, sosok yang ia tunggu akhirnya datang setelah 10 menit kemudian.


"Putus beneran kayaknya?" goda Naila ketika Nadya duduk di depannya dengan wajah sembap, tak disapa dengan salam atau menanyakan kabar eh malah mengungkit tentang kandasnya hubungan si kakak.


"Gak usah ngejek." Balas Nadya sewot, wajah sembapnya kentara sekali. Bahkan hidung mancungnya masih tampak memerah. Hello, ini sudah jam berapa hidung kok masih merah, jelas barusan nangis kan????


"Mau makan apa? Pasti belum makan kan?" cerocos Naila sembari memanggil waiters, dan diangguki Nadya. Meskipun cerewet, Naila sangat peduli pada sang kakak. Maklum, mereka tumbuh bersama, merasa kehilangan bersama, walaupun Nadya yang lebih banyak mengalah padanya.


"Aku traktir, makan sepuasnya." Ucap Naila lagi, sedangkan Nadya hanya mendengus kesal, ***** makannya turun drastis memikirkan nasibnya. Bahkan sarapan saat bersama ibu pun susah sekali menelannya.


"Vanilla latte 2, dan kentang goreng 2, spagheti sapi pedas 2, milkshake strawberry 2 , air mineral 2, sama sosis bakar 2." Naila menyebutkan semua pesanan untuk siang itu, terpaksa ia yang memilih menu makan siang, karena si kakak lagi galau memilih makanan hingga menyuruh Naila memesan saja.


"Patah hati juga butuh energi, Mbak. Gue tahu kalau lo lagi suntuk kan bisa sembuh karena makanan." Cicit Naila sambil membalas pesan dari sang suami. Kebetulan Ardhan sedang meetinh dengan pihak stasiun TV karena Ardhan akan menjadi dokter seleb untuk mengisi acara minggu depan. Alhasil, ia pun membiarkan Naila diantar sopir untuk bertemu Nadya.


"Suntuk gue beda sekarang." Masih dengan nada sewot, Nadya menjawab celotehan Naila.


"Hem...sekarang bau tau rasa lo, dulu aja gue putus sama Irham, gue mewek kejer lo bilang dengan enteng makanya anak kecil gak usah main cinta-cintaan, hem enakkan rasanya patah hati, sukuuuuur." Naila mengabsen segala ocehan Nadya saat dia kelas XII SMA setelah diputus oleh Irham begitu saja dengan alasan mau fokus ke UN, alasan klise.


"Nai, gue ke sini biar otak gue fresh, gue patah hati Nai, rasanya hatiku kecetit sakiiiiit." Ucap Nadya dengan deraian air mata. Kasihan sebenarnya, tapi lucu dan menggemaskan. Bahkan Naila pun tertawa ngakak melihat deraian air mata Nadya.


"Ya udah sih, ngomong jujur sama Faiq aja. Eh itu ya namanya?"


Nadya mengangguk, lalu sejurus kemudian memicingkan mata pada sang adik dengan tatapan mencurigakan. Ia belum cerita, dan ibu juga tidak memberitahu Naila karena pasti Naila akan menggagalkan rencana ibu. Beliau pun bilang akan bilang pada Naila jumat pagi. Maklum lah, Naila pendukung pasangan Nadya-Alan. Setiap telpon dengan ibu, pasti memasukkan rengekan agar restu Alan-Nadya segera turun.


"Aku gak enak, Nai. Mau ngomong jujur sama Faiq takut hubungan bu Tatik dan Ibu ambyar."


"Lo tuh, Mbak. Main perasaan mulu, selalu mengambil sudut pandangan orang lain. Sekali-kali lo tuh 'emang gue pikirin' sama pikiran orang. Gak jahat Mbak kalau kita bersikap egois, apalagi ini menyangkut masa depan."


"Aku takut durhaka sama ibu juga."


"Gini ya, Mbak. Kita diciptakan Allah punya mulut, otak, dan hati. Kita gunakan dah sebaik mungkin, salah satu mensyukurinya dengan membahagiakan ketiga organ itu."


"Gak paham gue, Nai."


"Sama gue juga gak paham sama omongan gue sendiri."


Lahhhhhhhh

__ADS_1


Naila langsung mendapat tonyoran di kening oleh sang kakak. Seketika tawa kedua perempuan itu meledak, setidaknya mengurangi beban pikiran Nadya. Ikatan saudara yang cukup kuat, saling memahami satu sama lain. Saat sedih, maka ada pihak yang membuat tawa. Naila si ceria tentu menjadi penghibur sang kakak.


"Jadi siapa yang kasih tahu, gue dilamar orang?" tanya Nadya pada sang adik sembari menyeruput milkshake. "Bukan ibu kan?" lanjutnya menyelidik.


Naila menggeleng, ia masih menikmati makanan yang masih tersedia di meja. Sang kakak mengaku sudah kenyang, alhasil ia akan melahap habis hingga tak tersisa.


"Bentar deh, Nai. Lo ajak gue ke sini hanya buat nemenin lo makan?" gemas Nadya pada sang adik yang tak berhenti makan, ditambah jawabannya cuma mengangguk doang. Apa gunanya ngajak bertemu?


"Alhamdulillah." Ucapnya mengabaikan omelan sang kakak. Ia lebih memilih meneguk air mineralnya sampai tandas, dan berhasil membuat Nadya menggelengkan kepala. Sejak kapan sang adik jadi rakus gini.


"Ntar lo juga ngerasain punya perut karet, eh anaknya Mass Faiq apa Mas Alan ya?" sengaja membuat mood Nadya anjlok, gadis cantik itu hanya menghembuskan nafas berat, menyandarkan punggunya pada kursi.


"Kalau mendapat restu sih, Mas Faiq kayaknya."


"Mana nih seorang Nadya yang gigih mewujudkan keinginannya."


"Udah kabur Nadya yanv kayak gitu."


"Mama yang cerita kalau mbak dilamar orang." Naila menceritakan kronologi kabar lamaran itu. Sungguh shock, Nadya mendengar bahwa mama shofi yang memberitahu Naila. Kok bisa???


"Bayangkan, Mbak, Mas Alan pulang jam 3 dini hari. Lalu mengetuk kamar mama, dan apa yang terjadi. Begitu pintu dibuka, Mas Alan langsung memeluk mamanya, menangis kayak anak kecil kehilangan pistol."


"Eh maaf, duh itak gue gesrek parah nih gara-gara pistolnya Mas Ardhan."


"Nai, nabok orang hamil boleh kan ya?"


"Boleh, asalkan orang hamilnya bukan gue."


"Udah cepetan, Mas Alan gimana?"


Setelah nangis sambil memeluk mama, Alan bercerita lalu minta izin tidur sama mama. Kayak anak bayi gitu kata mama."


"Lalu mama cerita ke lo?" selidik Nadya ketus. "Aib Mas Alan tuh." Ucap Nadya tak terima.


"Yeee ..kok marah sama gue, marah noh sama ibu mertua gue yang cerita dengan suara menggelegar saat sarapan."


"Terus beliau gak sedih dengar kabar gini?"

__ADS_1


Naila menggeleng, lalu menghembuskan nafas berat. "Sejak ibu kekeh dengan pamali, mama sudah gak mengharap lo, Mbak. Saat ini beliau mungkin lagi menyusun rencana pendekatan Meysa dan Mas Alan. Karena ..." Naila sengaja menjeda kalimatnya, menimbang kalimat apa yang pas diucapkan pada sang kakak agar tidak salah paham atau sakit hati.


"Karena apa?"


"Meysa sudah bilang ke mama kalau menyukai mas Alan."


"Busyet dah, malah dia yang nembak."


"Ya ..maklum sih, janda emang selalu yang terdepan." Ketus Naila.


"Kampreettt.!" Kesal Nadya dan menonyor kepala adiknya lagi.


"Eh...Jaenab. Puas-puasin lo tonyor pala gue, kalau anak gue udah lahir DILARANG KERAS."


"Lagian lo, bikin kesal mulu."


"Dih..dih...bagian mana gue bikin kesel lo." Naila tak terima.


"Trus, Meysa gimana?" desak Nadya tak sabar. Tiba-tiba ia teringat ucapan ibu tentang Meysa, Nadya lemas seketika. Jangan-jangan ibu punya indra keenam, ampe bisa prediksi Meysa.


"Meysa datang ke rumah itu saat makan siang dan catat numpang makan siang juga. Trus bilang deh kalau dia naksir sama Mas Alan dan sangat nyaman bila berdekatan sama Mas Alan, dan poin utama karena Cece dekat hanya dengan Mas Alan. Mama sebenarnya gak bilang ya sih, cuma pas dini hari, beliau yang niatnya gak mau ikut campur urusan cinta Mas Alan malah sekarang mendukung Meysa sama Mas Alan. Beliau pun bilang maaf ke aku, karena berniat menjodohkan Mas Alan dengan Meysa."


"Terus aku harus gimana, Nai?" putus asa sudah Nadya akan hubungan ini.


"Ya berjuang dong. Buat Ibu kasih restu. Jangan nurut aja sama Ibu, lo berhak bahagia, Mbak."


Nadya menangis lagi, lalu mengangguk pelan. Benar apa kata sang adik, Nadya berhak bahagia. Sudah cukup air mata keluar. Saatnya muncul menjadi pribadi yang ikhlas dan lapang dada menerima kejutan dari sang kuasa.


"Besok aku ke rumah deh, buat bujuk ibu. Tenang aja, lidah gue pinter buat basa-basi." Ucap Naila sambil menepuk pundak Nadya pelan.


"Makasih."


"Enak aja, gak gratis lah, uang birokrasinya mana?" tanya Naila sambil mengadahkan tangan pada sang kakak.


"Suami lo kere banget sih ampe istrinya minta-minta."


"Eh..." Nadya kembali menonyor sang adik yang hendak protes. "Bukan kere ya, uangnya banyak. Tapi gue aja yang gak mau keluar modal."

__ADS_1


"Seraaaaaahhhhh."


__ADS_2