SULUNG

SULUNG
DOA RAHASIA


__ADS_3

Gusar


Itu yang dirasakan Alan sejak balik ke kantor setelah makan siang, chat dari mertua Ardhan tadi cukup mempengaruhi konsentrasinya. Terlebih, Nadya memaksa balik ke ruangannya.


Lalu apa yang dilakukan Alan sepeninggal Nadya? Hanya mondar mandir gak jelas, beberapa kali mendaratkan tubuhnya ke sofa dengan berpikir keras menggagalkan pertemua nanti malam.


"Bu, restu Anda sulitnya setengah mati buatku." Gumamnya frustasi.


Rilo dipaksa ke ruangan sore itu, padahal tadi pagi Rilo ditolak masuk, sungguh labil sekali bos ganteng ini. Profesionalisme dengan Nadya hanya seujung kuku.


"Apaan?!" Sentak Rilo yang duduk di samping Alan. Bos sekaligus sahabatnya itu sedang mengirim pesan sepertinya, karena terlihat jarinya cukup lincah pada roomchat aplikasi hijau.


"Menikung lamaran orang itu boleh gak sih?" tanya Alan berlagak pilon. Ini sebenarnya dia yang overthinking atau emang niatan Faiq dan ibunha dijelaskan lagi sama ibu. Entahlah, yang jelas Alan kalang kabut.


"Lamaran? Lamaran siapa?"


"Nadya."


"Nadya dilamar orang? Yakin dilamar?"


Alan mengangguk, lalu menggeleng. "Bos ganteng yang bener apa? Plin plan banget sih lo, jadi dilamar atau enggak si Nadya?" Gemas Rilo, ingin sekali mengeplak kepala Alan agar segera sadar.


"Ya gue gak tahu mau melamar atau enggak."


"Trus?"


"Heh...gue nyuruh lo ke sini tuh buat kasih solusi gimana gagalin pertemuan Nadya nanti malam."


"Ya pertemuan dengan siapa?" Rilo sudah gergetan.


"Bu Tatik dan Faiq yang mau datang bertemu dengan Nadya nanti malam."


"Yakin mau ketemu sama Nadya buat melamar? kalau nawarin asuransi bisa aja kan?"


Alan langsung melemparkan bantal sofa pada wajah ganteng Rilo, asisten lucknut itu langsung terpingkal-pingkal, bahagia sekali melihat bos ganteng itu menggeram frustasi. Masalah kantot terpaksa dihandle Rilo, Alan sudah tidak fokus. Ia memilih ke ruangan Nadya.


"Perasaan dari tadi pagi udah berduaan mulu, sekarang masih aja berdua, heran gue." Sindir Erick yang tak percaya, Alan sudah duduk di depan meja Nadya.


"Diam aja kenapa sih." Balas Alan sambil menatap Erick tajam, sedangkan manajer keuangan itu hanya tertawa geli. Sahabat berwajah datarnya itu ternyata bucin akut.


"Pak Erick, bukan saya ya yang mendekati Pak Alan, tapi beliau sendiri yang nyamperin saya." Tegas Nadya dengan nada sewot, diiringi cekikikan anak keuangan lainnya.

__ADS_1


"Apaan sih kok ngomong gitu."


"Aku dipikir ehem ehem sama kamu tahu. Udah ah balik ke ruangan gih." Usir Nadya, semakin kesal saja karena Alan terus di dekatnya.


"Aku udah gak konsen, ketagihan dekat sama kamu." Ucap Alan dengan manja. Sontak saja Erick cs melongo, dalam benak mereka jangan-jangan berita ehem- ehem itu benar.


"Gak usah manja gitu, bikin mual." Tandas Nadya cemberut.


"Pulang aja yuk, aku udah gak tahan." Semakin usil rupanya Alan, Nadya sudah kesal ia langsung membungkam mulut Alan agar menghentikan ocehan absurdnya.


"Jangan percaya ya teman, kita gak ngapa-ngapain kok, nih orang minta ditabok." Ujar Nadya dengan melihat satu per satu pandangan rekan kerjanya pada mereka berdua.


"Udah, Nad. Balik aja deh, di sini juga gak bisa kerja. Baru kali ini ada bos menganggu pekerjaan anak buah. Menyebalkan sekali." Keluh Erick.


"Sekali deh, Rick. Gue pinjam Nadya."


"Kekepin sekalian." Usul Erick disambut pelototan tajam Nadya.


"Yuk." Alan sengaja menggoda Nadya untuk kesekian kalinya, kali ini berhasil karena Nadya juga sudah jengah dengan tingkah Alan yang tidak menunjukkan wibawa seorang bos.


Keduanya pun keluar dari kantor jam 3 lebih, masih terlalu awal dikatakan pulang kantor. Mau gimana lagi, kalau bos sudah memerintah anak buah bisa apa.


Sesampai di rumah, Ibu kaget akan kehadiran Alan. "Loh, Nak Alan?"


"Assalamualaikum, Bu." Sapanya sok ramah sambil mencium tangan ibu.


"Wa....wa..waalaikumsalam, oh silahkan masuk." Jawab ibu gelagapan sambil mengode Nadya, kenapa ke sini.


Ibu menyilahkan Alan duduk di ruang tamu, belum ada makanan yang tersaji, ruang tamu juga masih sama tak ada persiapan apapun. Alan sempat berpikir, eh ini jadi melamar Nadya gak sih.


"Emang Bu Tatik sama Mas Faiq mau ngapain sih, Bu?" Tanya Nadya yang sedang membuat es sirup untuk Alan.


"Mau meminta kamu, tapi ibu pusing Nad, Alan kok ke sini?"


Nadya terkekeh kecil, "Ibu kirim WA pas aku lagi sama mas Alan."


"Kamu balikan lagi, Mbak?"


"Ya gimana, Bu. Dia gak bisa konsisten kalau putus."


"Halah, kamu juga mau mau aja diajak balikan."

__ADS_1


"Lah masih cinta juga."


"Pret."


"Ih...ibu, selama ini Nadya gak pernah suka sama cowok loh, baru Mas Alan, wajar Bu susah buat move on nya."


"Lah teruss gimana ini, apalagi perempuan di rumah besan sama anaknya. Ibu gak terima lah kalau putri ibu diabaikan gitu."


"Bukan diabaikan, Bu. Mas Alan ajak Nadya kok, cuma Meysa aja yang kelewat kesemsem sama Mas Alan. Lagian ibu gak boleh merasa seperti itu, kan ibu juga belum kasih restu sama Mas Alan." Ucap Nadya mengingatkan ibu akan posisi Nadya dalam hidup Alan.


Deg


Ibu terdiam, memang beliau juga turut andil akan ketidakjelasan hubungan Nadya dan Alan. Beliau harusnya membiarkan perempuan lain mendekati Alan, tak usah sakit hati bila Nadya terabaikan.


Nadya berlalu memberikan minuman pada Alan, dan ibu mengekorinya. Beliau menatap pandangan Alan pada Nadya, senyuman pemuda itu tampak tulus pada sang putri. Betapa teganya memisahkan mereka karena pamali. Haruskah merestui mereka?


"Sayang, aku ikut pertemuan nanti malam ya?" tanya Alan sekali lagi.


Nadya menghembuskan nafas sebentar, "Kalaupun aku melarang kamu pasti maksa."


"Ya iya, aku gak mau kamu dilamar orang. Hanya aku yang boleh."


"Pamali nak Alan." Sambung ibu yang bergabung dengan mereka di ruang tamu.


"Bu....kasihanilah saya, Bu. Mau umur tiga puluh tapi masih jomblo, cuma anak ibu yang bisa buat saya kaya' gini." Ucap Alan melas.


Nadya menahan tawa, melihat ekspresi Alan yang begitu melas, bahkan bisa dibilang putus asa, karena tak kunjung mendapat restu.


"Gimana ya Nak Alan, ibu tuh juga sebenarnya setuju Nadya nilah sama Nak Alan, tapi ibu masih belum rela memberi restu karena dalam benak ibu masih takut pamali, takut kalau rumah tangga kalian berjalan tidak baik."


"Bu, kalau saya dan Nadya menikah dan tidak melanggar aturan agama , insyaAllah kami akan melewati rumah tangga dengan baik. Bukankah setiap rumah tangga selalu ada ujiannya? Tergantung kepada kita dalam menyikapi ujian tersebut."


Nadya hanya tersenyum tipis, seorang pebisnis tentu akan melobi klien agar kepentingannya tercapai, begitupun dengan Alan. Sebisa mungkin ia akan berusaha meluluhkan hati ibu agar memberi restu padanya untuk meminang Nadya, meskipun cara melobinya cukup memaksa.


"Sabar ya. Berdoa saja agar ibu bisa kasih restu kalian. Setiap ibu melihat kalian rasanya ibu juga sedih, kenapa harus terjebak dalam hubungan ini."


"Sebenarnya gak rumit, Bu. Hanya saja, ibu terlalu sayang sama Nadya sehingga perlu banyak pertimbangan untuk merestui kami. InsyaAllah doa saya secepatnya akan terkabul kok." Ucap Alan yakin.


"Doa apa?" tanya Nadya curiga. Pasalnya, Alan semakin hari semakin absurd saja. Jangan sampai doa yang ia panjatkan pun absurd juga.


"Rahasia." Jawab Alan dengan nada mencibir Nadya. Biarlah urusan doa hanya Allah dan Alan yang tahu, tapi bisa ditebak kok, karena doa Alan pasti tak jauh dari restu ibu dan membina rumah tangga dengan Nadya yang sakinah mawaddah wa rahmah. Aamiiin.

__ADS_1


__ADS_2