SULUNG

SULUNG
MENGHINDAR


__ADS_3

Nyatanya putar balik, Nadya tetap duduk di samping Erick, ck...hanya dirinya saja staf yang mendampingi manajer untuk menetapkan karyawan tetap yang mulai Minggu depan sudah bertempat di Jawa Timur.


/Jangan cemberut dong, aku cuma mau kamu datang agar tahu aja tupoksi asisten pribadiku, biar gak cemburu😂😂😂😂/


Begitu pesan Alan di sela-sela Rilo menjelaskan tupoksi, hak, dan kewajiban karyawan tetap, dan tak lama penandatanganan kontrak. Cemburu? Hadeh, mau cemburu atau enggak, yang jelas mereka gak bisa bersatu juga.


"Pak saya balik ya?" tanya Nadya pada Erick yang mau bergabung dengan para manajer.


"Tanya ke Alan, bukan gue!"bisiknya lalu meninggalkan Nady begitu saja.


"Ck, menyebalkan." Sudah jengah dengan sikap ketidakprofesionalan Alan, Nadya pun hanya pamit ke Erfina, beralasan tugas dia numpuk, dan terpaksa sekertaris cantik itu mengiyakan. Baru saja keluar dari ruang meeting, Alan mengejarnya dan segera menarik lengan Nadya masuk ke lift menuju ruangan Alan.


"Astaghfirullah, Pak Alaaaaan!" pekiknya kaget.


"Kenapa keluar?"


"Kerjaan saya banyak, Pak. Di ruang meeting juga diam doang."


"Kenapa panggil Pak sih!"


Nadya menghembuskan nafas pelan, "Di kantor, plis dong kasih contoh yang baik, profesional, kita udah mantan loh!"


"Kan kita sepakat menjalani dulu, pelan-pelan putusnya." Masih nego rupanya Alan.


"Ya tapi kalau di kantor, profesional dong."


"Aku profesional kok!"


"Apaan, meeting gak ada sangkut pautnya sama aku juga, kenapa diundang, gak resmi lagi."


Alan terkekeh, ia pun mengangguk saja, mengakui kalau untuk saat ini tidak profesional.


"Bentaran deh, sehari ini aja aku gak profesional, kamu di ruanganku ya?"


Ting


"Ogah, dah ah, aku balik." Belum sempat Nadya keluar lift, lengannya ditarik Alan lagi, memasang wajah melas, duh.... si mantan tambah manja.


"Makan siang bareng?"


Nadya tersenyum sambil melepaskan cekalan tangan Alan, "Aku udah ada janji sama anak marketing."


"Ya udah aku ikut."


"Eh...."

__ADS_1


"Udah kerja sana!" Tubuh Nadya didorong Alan pelan agar keluar dari lift, Nadya hanya cemberut dan menghentakkan kakinya, keseeeelllll. Sedangkan Alan cekikikan di dalam lift khusus untuk petinggi perusahaan. Entahlah melihat Nadya kesal menjadi hiburan sendiri baginya. Sangat menggemaskan.


Urusan Alan diabaikan, Nadya berkutat pada pekerjaannya, fokus, ia tak mau ada cibiran akan kinerjanya. Sudah cukup tadi menjadi pajangan meeting, sekarang ia akan kembali ke dunianya. Teliti dan cermat dalam melihat angka.


"Nad!" panggil Ersa dengan suara gugup.


"Hem!"


"Bantuin gue nih!" pinta Ersa karena diminta analisis rancangan anggaran keuangan untuk proyek expo yang akan dilakukan akhir tahun dua bulan lagi.


"Habis makan siang ya, otakku masih fokus sama ini!" ucap Nadya sambil memamerkan laporan yang sedang ia coret.


"Makan siang di mana?" sambung Cindy yang bertanya,


"Gak tahu, diajak Mini."


"Ikut boleh?" tanya Cindy lagi.


"Boleh, kurang berapa menit sih?" Nadya melihat ke arah jam tangan, ternyata kurang 10 menit waktu ishoma (istirahat sholat dan makan) mereka. Nadya merapikan meja, lalu mengambil dompet dan menelpon Mini.


"Yuk!" ajak Nadya pada Cindy dan Imel, "Mbak Ersa gak ikut?"


"Ikut, tapi ntar bantuin ya!"


Drt ..drt ..


Ponsel Nadya bergetar, tertulis nama Alan memanggil. Namun Nadya berniat mengabaikan, sebisa mungkin ia akan membatasi kedekatan dengan Alan, memang ia setuju untuk pelan-pelan putus, hanya saja kalau semakin intens bertemu bukannya putus malah memperkuat hubungan mereka.


"Bos ya yang telpon?" tanya Imel yang sempat melihat siapa penelpon pada ponsel Nadya.


"Udah, yuk!" Nadya tetap membiarkan ponselnya bergetar, Alan masih terus menghubunginya, syukurlah saat makan siang sudah terhidang barulah Alan berhenti.


Topik pembahasan makan siang ini tetap sama, putusnya Alan dan Nadya beserta alasannya. Mini hanya melongo, makan siangnya pun malah belum dijamah, kalau anak keuangan lain mah udah tahu, alhasil santap siang lancar jaya, berbeda dengan Mini yang melongo mendengar penjelasan Nadya terlebih alasan yang dilontarkan tak masuk akal sama sekali.


"Biasa pemikiran emak-emak!" Nadya tak menyalahkan kepercayaan ibu, mungkin di balik tak ada restu ada hikmah untuk kebaikan Nadya nanti.


"Legowo sekali kamu, Nad, kalau aku sih bakal berjuang, sekarang dipikir pakai logika Pak Alan tuh sempurna banget, ganteng, kaya, setia."


"Tapi yang punya kesempatan buat jadi cewek Pak Alan tapi bukan Lo miniatuuuurrr." Sembur Ersa yang membuat lainnya tertawa.


"Kalau aku jodoh sama dia, mau sejauh apapun pasti akan mendekat, tapi kalau gak jodoh mau sedekat apapun pasti gak bakal nikah."


Imel dan Cindy yang dekat dengan Nadya sontak menepuk pundak gadis itu, setidaknya memberi ia semangat, ia harus kuat dan yakin bahwa ada hikmah di balik keputusannya.


Setelah makan siang, seperti janji Nadya ia akan membantu Ersa, pekerjaannya sedari tadi ia kebut beres juga, yang belum deadline nanti dulu deh.

__ADS_1


"Nad, pesona asisten Alan ciamik." Ujar Erick memanasi, ia tadi menyempatkan ke ruangan Alan setelah meeting, misi khususnya ya pengen tahu seistimewa apa gadis itu hingga terpilih menjadi asisten pribadi Alan.


"Bagus dong, makin semangat kerja pasti Pak Alan." Jawabnya cuek, tapi dalam hati sebal juga, gak rela juga ada wanita yang dekat dengan Alan, tapi sadar Nad, harus rela! Harus.


"Sa, kok gue ngerasa ada bau bau cemburu ya?"


"Biarin aja, Pak. Palingan nanti mewek kalau udah gak kuat."


"Udahlah, biar cepat move on biar lebih baik. Kasihan Mbak Nadya juga loh." Kali ini Imel yang berkomentar.


"Ah..... adikku sayang, besok aku traktir jus deh!" begitulah Nadya mengakhiri obrolan tentang Alan, entahlah ia enggan sekali membahas masalah pribadi di kantor. Hubungan dengan Alan tak patutlah dijadikan konsumsi umum, yah meskipun Alan bos mereka.


"Nad, Pak Alan!" seru Ersa ketika mereka baru keluar dari lift hendak menuju lobi saat pulang kantor. Terlihat Mutia yang sudah mengekori kemana Alan pergi, Nadya tahu itu hanya urusan pekerjaan terlebih Mutia membawa beberapa berkas, namun tetap saja ada rasa tak rela Mutia semobil dengan Alan. Nadya ingat bagaimana dulu ia menjadi sekertaris Alan, meskipun sementara tapi ia selau dekat dengan Alan bahkan ponsel Alan pun ia bawa, dan itu pasti berlaku untuk Mutia juga.


"Iya, terus?"


"Bareng asisten baru, emang Pak Rilo di mana?'


Nadya hanya mengangkat bahu saja, toh emang dirinya gak mau tau urusan Alan juga, memang sejak makan siang tadi Alan mengirimi pesan hanya saja ia malas untuk membacanya.


"Ya udah, yuk pulang!" ujar Ersa, keduanya pun melangkah menuju parkiran, berpisah di sana karena Ersa membawa mobil sedangkan Nadya menuju parkiran roda dua.


Baru saja mengenakan helm, Alan menelponnya.


"Apa?" jawabnya ketus.


"Waalaikumsalam sayang!" ujar Alan menyindir Nadya, terdengar sangat ketus dan malas menjawab panggilan Alan.


"Iya, Assalamualaikum, maaf Pak Alan." Okelah daripada berdebat, mending berkata sopan.


"Kamu masih di parkiran?"


"Masih."


"Pulang bareng ya, tapi ikut aku meeting dulu di restoran M."


"Emang Pak Rilo gak ikut?"


"Ada meeting lain nanti malam, ini aku bareng sama Mutia."


"Ya udah ada yang menemani kenapa aku harus ikut."


"Sayang-"


"Maaf, Pak Alan, saya takut kemalaman, saya pulang dulu, assalamualaikum." Nadya memutus sambungan. Membiarkan sang pujaan hati semobil dengan perempuan lain.

__ADS_1


__ADS_2