
Di sinilah Nadya, makan siang bersama Mama Shofi dan ibu. Ia tak sampai berpikiran kalau Alan langsung ekskusi restu ibu, padahal tadi pagi Nadya merengek untuk tetap masuk ke bilik kerjanya dan akan membahas soal lamaran atau apapun itu setelah pulang kerja. Nadya masih punya tanggung jawab pekerjaan yang tak bisa dilepas begitu saja.
Oke ...Alan menuruti, ia membiarkan Nadya fokus pada pekerjaan hingga jam 11 siang. Jatah makan siang masih kurang sejam, tapi Alan sudah masuk ke bilik Nadya begitu saja. Sontak anak keuangan kaget setengah mati, mereka pikir ada inspeksi mendadak. Bahkan Erick sampai bilang Njiiirrrrr, Ngapain ke sini?
Namun, Alan hanya melirik sekilas dan langsung duduk di depan meja kerja Nadya.
"Ya ampun belum juga makan siang. Kok udah di sini?"
"Mama dan ibu udah otw ke resto loh."
"Lah, ibu juga ikut?"
Alan mengangguk saja, "Udah yuk." Alan beranjak lebih dulu, "Rick, gue bawa anak buah lo."
"Bawa aja bos, gue mau melarang juga bisa apa."
"Iyalah, apalagi besok udah ganti status."
"APAAAAAAA??" tak hanya Erick yang teriak, Nadya pun ikut teriak, apa coba maksud Alan itu.
"Maksudnya?" Nadya tak paham.
"Udah ah, yuk." Alan merangkul pundak Nadya, menggiringnya untuk keluar dan segera menuju resto pilihan Mama Shofi. Banyak karyawan yang melongo ketika berpapasan dengan Alan, pasalnya sampai menuju lobi, bos ganteng itu tak melepas rangkulan di pundak Nadya. Padahal Nadya sudah beberapa kali mencubit pinggangnya.
"Biar semua tahu kalau yang naksir kamu tuh aku."
Nadya menatap wajah tampan yang sedang fokus menyetir itu, "Aku juga naksir kamu kali, Mas."
"Besok kita nikah."
"Eh...Astaghfirullah." Nadya langsung memukul lengan Alan. "Kebelet, Pak?" sindir Nadya dengan mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Gak tahan sayang."
"Dih...mesum."
"Kok mesum?" tanya Alan heran. Pikirnya ia udah gak tahan kalau menghadapi ujian lagi seperti kemarin. Saat ini ia sudah diambang batas bersabar, jangan ada lagi halangan untuk meresmikan hubungan dengan Nadya.
"Lah kalau nikah kamu bisa seenaknya pegang-pegang aku."
Alan tergelak, "Kamunya yang mesum, orang aku mikirnya biar cepet nikah agar gak ada halangan lagi, apalagi khawatir pamali datang. Hayo.....ngaku, kamu udah travelling ke mana-mana nih."
"Dih...enggak ya."
"Heleh...ngaku, ayo ngaku." Alan masih menggoda Nadya hingga wajah gadis itu memerah.
Di restoran Sunda....
Mama Shofi dan Ibu sudah duduk manis di lesehan nomor 24. Mama begitu ceria melambaikan tangan pada Alan dan Nadya.
"Aamiin." Ucap ibu lirih, tersenyum juga melihat keduanya yang semakin mendekat.
"Kok belum pesan?" tanya Alan yang baru saja mencium tangan mama dan ibu, begitu juga dengan Nadya. Alan dan Nadya duduk bersebelahan, menunggu pesanan makan siang diselingi rencana pernikahan mereka.
Alan mendominasi. Ia menuturkan rencananya yang baru muncul setelah mendapat restu tadi pagi. Menurut Alan, tak perlu lamaran. Langsung saja ijab nikah. Untuk resepsi bisa dilaksanakan setelahnya. Baginya, yang terpenting sah, ia juga khawatir tidak bisa tahan kalau berdekatan dengan Nadya terus menerus. Setan masih ada dalam dirinya, oleh sebab itu langsung ijab saja.
"Bagaimana?" tanya Alan setelah menjelaskan secara detail rencananya.
"Ketahuan banget ya, Jeng. Putra saya ngebet kawin." Cibir Mama sembari menatap Alan yang hanya nyengir tanpa dosa.
"Kamu gimana, Nad. Udah siap dinikihi Alan?" pertanyaan yang menyebabkan pipi Nadya merona. Maunya sih langsung jawab yes, tapi kok gak ada jaim-jaimnya. Gimana dong?
"Ya-yakin, Ma. Cuma kalau besok nikah kaget aja."
__ADS_1
"Halah, Yang. Nunggu apalagi." Paksa Alan.
"Saya setuju besok nikah." Ibu yang sedari tadi hanya diam, memasang wajah datar tiba-tiba menyetujui semua rencana Alan. Kok bisa??
"Bu?" Nadya spontan memekik memanggil ibunya, memastikan sekali lagi kalau ibu setuju dengan rencana Alan.
"Kalian bikin ibu khawatir kalau terlalu dekat. Benar kata Alan, apalagi yang ditunggu. Nak Alan tapi ibu gak mau anak ibu dinikahi siri. Harus resmi secara agama dan negara."
"Siap. Alan langsung menghubungi pengacaranya, Pak Ridwan. menyiapkan dokumen untuk nikah besok."
Sedangkan ibu langsung menelpon Pak De Shol, meminta bantuan beliau untuk datang menjadi wali..Meminta maaf juga kalau sangat mendadak..Urusan tiket pesawat pun Alan yang mengurus.
Nadya hanya terbengong. Hellow...besok jam 2 siang gue nikah? dan sekarang semua ribet menghubungi pihak-pihak terkait. Astagfirullah, Mas Alan ngebet nikah gak sebegitu kali?
Catering beres
Hantaran beres
Baju akad beres
Dokumen, kata Pak Ridwan habis isya selesai. Meski mengeluarkan biaya lebih karena pihak KUA bekerja di luar jam kantor.
Para Hafidz Qur'an juga sudah berhasil dibooking ibu.
Mungkin ini rizeki daan jodohnya Alan-Nadya, segala macam kebutuhan lancar dan terasa dipermudah.
Kini Alan menemani Nadya ke salon. Bos cerewet itu memaksa Nadya perawatan, bakal ditunggu sampai selesai. Alasannya besok hari sejarah bagi mereka, Nadya harus tampil all out.
"MasyaAllah, cantiknya." Puji Alan ketika Nadya sudah selesai melakukan beberapa perawatan ditubuhnya. Kini gadis itu tampak segar, wajahnyanya pun tampak glowing. Harum bunga menguar dari tubuh Nadya. Sumpah ...Alan ingin menarik Nadya dalam pelukannya, menghirup rakus aroma tubuh calon istrinya.
"Kita makan lalu pulang. Besok hari kita. I love you." Ucap Alan sembari membukakan pintu salon untuk Nadya.
__ADS_1