
Baru saja mood Alan begitu baik karena moment pagi manis di rumah Nadya beberapa menit lalu, kini berubah dengan seringai kesal lantaran deringan ponsel Nadya.
NATHAN AY
Lagi-lagi nama satu orang itu yang mengacaukan suasana hati Alan, dan sialnya Nadya tak melihat perubahan ekspresi Alan. Menyebalkan juga si Nadya.
"Iya, Assalamualaikum!" sapa Nadya ketika mengangkat telpon Nathan.
"Aku udah berangkat, tadi dijemput Mas Alan!" begitu Nadya memulai percakapan dengn Nathan.
"Ah..iya, insyaallah tetap jadi, tapi kemungkinan gak usah dijemput, Mas Alan ikut mungkin, aku diantar dia."
Alan langsung tersenyum, ia bisa menebak apa yang menjadi topik pembicaraan mereka, pasti Nathan mengajak bertemu lalu Nadya mengajak Alan juga, ah...kamu Nad, dibalik sifat cuek kamu ternyata masih menghargai perasaanku, batin Alan.
"Mas, nanti sore ada acara gak, sepulang kerja?" tanya Nadya setelah memutus sambungan telpon Nathan, ia tadi langsung ceplos aja pada Nathan akan mengajak Alan, maklumlah mereka baru damai, Nadya gak mau Alan cemburu atau marah karena Nadya tetap menepati janji untuk bertemu Nathan sore nanti.
"Hem belum tahu, kenapa?" Action....Alan memasang wajah datar, seolah tak tahu rencana Nadya dengan Nathan.
"Aku udah janji ketemuan sama Nathan nanti sore, mau ngajak kamu juga."
"Iya nanti aku tanya Erfina dulu." Masih datar juga, dan Nadya baru menangkap ekspresi kesal Alan, tak lama ia pun cekikikan.
"Kenapa sih ekspresinya datar banget, perasaan tadi keluar rumah bersinar." Sindir Nadya masih menatap wajah Alan. "Kamu cemburu?"
"Dih...makanan apa itu cemburu!"
"Oh gak cemburu, bagus deh."
"Ck....dasar gak peka!" akhirnya Alan menggerutu juga, malah membuat Nadya tertawa, merasa bahagia banget karena dicintai sedalam itu sama bosnya.
"Aku peka, makanya aku tanya kamu cemburu gitu kan, kamu aja yang gengsi gak mau ngaku."
Alan diam dan tak bisa membalas ledekan Nadya, toh apa yang diucapkan Nadya 100% benar.
"Ayo ngaku!" paksa Nadya pada Alan, namun bos ganteng itu masih kekeh dirinya gak cemburu, sampai mereka berpisah di ruangan berbeda pun Alan masih cemberut. Hufh...Nadya menggelengkan kepala saja, harus sabar menghadapi kekasihnya itu.
/I love you mas Alan/
__ADS_1
Nadya berinisiatif mengirimkan pesan pada Alan, ketika ia baru saja mendudukkan diri di kursi mejanya. Mungkin dengan pesan itu, mood Alan kembali baik, mengingat kalau dia lagi badmood, Rilo, Erfina bahkan Mutia kena imbasnya. Kasihan, kan, begitu pikir Nadya.
Setelah mengirim pesan itu, Nadya mualai fokus pada pekerjaannya, ponsel sengaja ia letakkan di samping mouse, siapa tahu ada balasan dari si bos rasa pacar itu.
Namun sayang, sampai jam makan siang pun, pesan Nadya tak dibalas Alan, apa mungkin dia belum membaca pesan itu, tapi masa iya sih orang dia online 15 menit lalu juga. Nadya tak ambil pusing, dia pun bergabung dengan yang lain untuk ishoma. Bercengkrama dan membaur dengan karyawan lain, sebisa mungkin saat di kantor Nadya menghindari kebersamaannya dengan Alan, harus profesional lah.
Hingga
Panggilan telpon dari Alan membuyarkan candaan mereka.
"Sayaaaaangggg!" teriaknya sampai Imel yang berada di samping Nadya menyemburkan baksonya. Buset dah, tak disangka Alan begitu manja memanggil Nadya.
"Apa?"
"Ke ruangan ku sekarang, plis ada yang mau aku omongin penting."
"Aku masih makan siang sama anak-anak, kamu gak makan siang?" Nadya malah sibuk memikirkan makan siangnya, hadeh.
"Udah cepetan ke sini!"
"Iya iya!"
"Siang, Mbak Nad, udah ditunggu Pak Alan!" sapa Mutia dengan senyum ramah, kasihan juga tuh anak, jam segini masih berkutat dengan Alan, kapan istirahatnya, padahal meja Erfina sudah kosong. Dih Erfina juga kenapa gak ngajak Mutia untuk istirahat dulu.
"Sayang, nanti batalkan ya sama Nathan?"
Nadya melongo, baru saja ia melongokkan kepala, tubuhnya pun masih di luar ruangan Alan, tapi Alan sudah memerintah seenaknya.
"Kenapa?" akhirnya Nadya duduk di depan Alan, terpisah dengan meja kerjanya, dilihatnya tumpukan berkas di meja itu, dan Nadya bisa memastikan alasan Alan memintanya membatalkan pertemuan dengan Nathan.
"Aku sibuk, gak bisa nemenin kamu sayang!"
"Ya udah aku bisa sendiri kok, gak enak tahu batalkan di injury time gini."
"Kan masih ada 4 jam lagi buat ketemuan sih!" protesnya lebih keras.
"Masalahnya bukan aku dan Nathan aja, tapi ada sahabat lainku, Mas. Susah cari waktu buat kita kumpul."
__ADS_1
"Ck....kamu gak ikut aja ya!"
"Gak mau, Mas. Aku juga butuh kumpul sama mereka, ya menghilangkan stress pekerjaan juga lah, biar hidup berwarna."
"Ya udah kumpul sama aku kan jauh lebih berwana."
"Dih....percaya diri sekali, lagian kenapa sih aku harus membatalkan kalau kamu gak bisa?"
"Aku gak mau kamu dekat sama Dia?"
"Dia siapa?"
"Nathan?"
Alan mengangguk, ia menatap wajah lekat Nadya, seolah bilang please, jangan pergi ya!
"Hem....udah, kamu percaya kan sama aku, kamu kerja aja, aku nanti minta antar Tya buat ketemuan, aku gak enak sama mereka."
Alan pun tak tega, tapi bagaimana dengan hatinya, takut panas kalau Nadya dekat dengan Nathan, meskipun ia tahu cinta Nadya pada dirinya seberapa. Dengan sangat terpaksa Alan pun mengizinkan, hufh gara-gara dokumen-dokumen ini, ia membiarkan Nadya berdekatan dengan Nathan, sangat menyebalkan.
Sejak Nadya pamit pulang dulu, Alan sudah tidak konsentrasi, pikirannya terbelah. Meski mengizinkan namun tetap tak rela, berkali-kali Rilo kena imbasnya, hingga Rilo memilih memeriksa berkas-berkas di ruangannya sendiri, sungguh ajaib karena asisten pribadi Alan itu ogah dengan administrasi.
Apa kabar Mutia? dirinya hanya bisa menahan air mata agar tidak jatuh, karena berkali-kali Alan merevisi pekerjaannya. Erfina yang mau undur diri jadi bingung, meninggalkan Mutia atau tetap di kantor.
Ting
Sebuah notif dari postingan IG Nadya, Alan pun secepat kilat membuka kode ponselnya dan melihat postingan itu. Yah...sejak Nadya mengajaknya putus, Alan keseringan stalking akun Nadya, ia mau tahu keadaan Nadya, padahal Nadya jarang sekali memposting foto.
Sahabat selamanya 🤗
Begitu caption yang menyertai sebuah foto pertemuan Nadya dan sahabatnya, tak terkecuali Nathan. Slide 1 dan 2 berisi foto Nadya dan sahabatnya, duduk bersama sambil tersenyum di kamera. Sedangkan slide 3, Nadya dan Alan duduk berdampingan, keduanya menghadap kamera sembari tersenyum. Melihat foto itu, Alan langsung lemas, tak ada lagi tenaga untuk fokus pada pekerjaannya.
Segera saja ia mengambil kunci mobil dan menuju cafe tempat Nadya reuni menyebalkan itu, mau bagaimanapun Alan mau tahu alasan Nadya duduk berdampingan, sedekat itu sama Nathan, tampak bahagia sekali dari raut wajah mereka. Menyebalkan.
Ternyata, Cafe yang dipakai reunian Nadya adalah Cafe baru Rifki, sahabat Alan. Beberapa karyawan cafe itu cukup mengenal Alan, dan menganggap bahwa Alan akan bertemu dengan bos sore itu.
"Oke aku ke sana!" ujar Alan setelah mendengar posisi Nadya. Ia pun memutuskan sambungan telpon dari Nadya. Ketika mendekati tempat reuni Nadya, ada suara yang memanggil Alan secara tiba-tiba,
__ADS_1
"Mas Alan!"
Alan pun menoleh, dan hanya diam mematung ketika orang itu mendekatinya. Mati gue, batin Alan.