SULUNG

SULUNG
RESEPSI


__ADS_3

Suasana ballroom hotel bintang 5 sangat meriah dengan dekorasi bunga mawar putih, meja bundar serta kursi berbalut kain putih berpita sudah tertata rapi. Tamu undangan sudah banyak yang hadir. Senyum mengembang pada setiap tamu akan kemegahan resepsi ini. Omelan detail Mama Shofi sangat memuaskan. Bahkan, Nadya yang awalnya tak antusias mengadakan resepsi kini menatap takjub. Sungguh ia menjadi wanita beruntung mendapat impian pernikahan sangat mewah.


"Suka?" tanya Alan menoleh sekilas ke arah Nadya saat keduanya berjalan menuju pelaminan.


"Banget, makasih." Ucap Nadya dengan senyum merekah, menggamit lengan Alan begitu posesif, menunjukkan pada setiap tamu bahwa kini hanya dirinya adalah wanita Alan.


"Gak gratislah, enak aja."


"Emang mau bayaran apa?" Nadya sebenarnya tahu apa maksud Alan, tak mungkin uang yang dibahas, melainkan kegiatan yang bisa menguras sampo. Hobi Alan sekarang.


"Makan kamu." Jawabnya sambil terkekeh.


"Siap sayang, aku tunggu." Bisik Nadya dengan suara menggoda, wajah Alan sumringah mendengar suara manja sang istri. Ah....tapi sekarang, Alan sebisa mungkin menahan segala keinginan 'memakan' istrinya itu menyambut para tamu yang hadir mendoakan pernikahan mereka.

__ADS_1


Banyak kolega bisnis, teman kuliah dan teman sekolah Alan datang. Memang ya, kehidupan Alan di lingkungan borjuis sejak muda, otomatis teman-temannya terlihat juga sangat high class dan bossy. Sangat berbeda dengan teman-teman Nadya yang tampak sederhana, makan mencicipi segala macam hidangan yang tersedia, keliahatan norak tapi sangat ngangenin. Terutama Tya cs, sejak kedatangannyan, resepsi Alan-Nadya berasa pesta dangdutan. Dengan baju long dress silver, dia tampil percaya diri dengan menyanyi salah satu lagu Denny Caknan.


"Maaf, ya bos ganteng kata Nadya. Pestanya aku ubah jadi dangdutan." Ucap Tya saat bersalaman dengan pengantin di pelaminan.


Seperti biasa Alan hanya mengangguk dan tersenyum tipis, sedangkan Nadya melotot ke arah Tya. "Habis bikin rusuh, lo kasih amplopan berapa?" tanya Nadya sinis.


Tya tergelak, "Sesuai kesepakatan kita dulu, Nad. Sohib kasih cepek."


"Rugi Mas, tamunya gini. Udah habis berapa menu, amplopan cuma segitu."


"Ya iyalah, bela nik-" Nadya spontan dibungkam oleh tangan Alan. Ia lupa saja kalau Nadya bertemu dengan sahabatnya bakal bocor. Tya melihat itu hanya ngakak saja. Akhirnya ada juga yang bisa mengontrol 'bocor'nya Nadya selama ini.


Riuh acara resepsi berakhir sekitar pukul 9 malam. Tamu banyak yang undur diri, tingga beberapa anggota keluarga Alan. Nadya yang masih bersama tim keuangan masih mengobrol maupun berselfie ria. Alan juga ikut bergabung dengan sang istri, beruntung ada Erick juga.

__ADS_1


"Lo harus terbiasa berkumpul sama teman Nadya, terutama anak keuangan. Siap pusing dah."


"Ya meskipun gue ikutan kumpul, palingan gue cuma diam doang."


Erick manggut-manggut. Ia pun mengedarkan ke sekeliling, tampak seorang wanita mengarah ke meja Nadya ini. Erick curiga, wanita itu diam memaku dan sorot mata yang tajam.


"Dia keluarga lo?" tanya Erick tiba-tiba, menunjuk Meysa dengan ekor sudut matanya.


"Istri mendiang sepupu gue. Kenapa?" tanya Alan yang hanya menoleh ke arah Meysa sebentar.


"Feeling gue, dia naksir lo."


Alan mengangguk, "Nadya bahkan ampe cemburu, agresif banget."

__ADS_1


"Namanya uga jendes, palingan lo sering dijadikan fantasi sama dia."


"Sembarangan."


__ADS_2