
Mobil Alan menuju restoran, tempat makan siang yang sudah dipilih sang adik beserta kekasihnya. Ia pun turut serta membawa Nadya, niatnya juga mau mengenalkan pasangan masing-masing. Terlebih adik Alan menuju halal hanya menghitung hari, ia harus mengenal calon adik iparnya itu juga.
"Kalian tuh emang gak dekat?" tanya Nadya saat keduanya melangkah menuju restoran tersebut.
"Biasa aja, urusan pribadi mah gak pernah tanya." Jawab Alan dengan menyamakan langkah pendek Nadya.
"Berarti kamu gak tahu dong, calon istrinya Ardhan?"
"Nama sih tahu, usia tahu, cuma orangnya gak tahu, kata Ardhan gak mau lihatin foto ceweknya takut aku ambil, maklumlah jomblo akut."
Nadya tertawa mendengar julukan Alan dari Ardhan. Kasihan banget, eh ...sama seperti dirinya sih, jomblo akut ketimbang Naila. Kalau Nadya gak mau lihat foto ataupun ikut panggilan video Naila-Rafly karena ia khawatir Rafly kesemsem sama Nadya, he..he...percaya diri banget. Maklumlah Nadya mirip keluarga ayahnya, yang punya keturunan Arab. Sedangkan Naila mirip ibu, wajah ayunya khas orang Indonesia.
"Itu mereka!" Alan menunjuk sejoli yang sedang mengobrol dan tertawa ria. Nadya dan Alan pun segera menghampiri adik Alan.
"Bang!" ucap Ardhan sesaat Alan yang sudah berada di belakang Naila.
"Naila!" kompak saja Alan dan Nadya menyebut nama gadis yang duduk bersama Ardhan.
Deg
__ADS_1
Mata Kakak adik itu langsung melotot, begitupun dengan Alan, ia tahu Naila adik Nadya. Secara tiba-tiba perasaan khawatir muncul dalam benak Alan.
"Loh kalian sudah kenal, Bang?" tanya Ardhan curiga.
Alan hanya mengangguk, lidahnya terlalu kelu untuk berkata. Otaknya masih dipenuhi bayangan buruk pada hubungannya.
"Kak Rafly ini kakakku, Nadya!"
"Oh..." hening kemudian. Namun Ardhan segera mempersilahkan Alan dan gadisnya duduk.
"Bang, ini calon istriku, namanya Naila Prameswari." Begitu Ardhan mengenalkan Naila pada Alan.
"Dan ini Nadya, kekasihku sekaligus....." Alan berhenti sejenak, ia menoleh pada Nadya. "Kakaknya Naila."
"Hah?" Ardhan paham sekarang, mengapa Alan dan kekasihnya bisa kaget ketika Naila berbalik badan tadi. "Bener, Nai?"
"I-iya, Kak. Mbak Nadya kakakku!" jawab Naila terbata, gadis imut itu bisa merasakan ketegangan sang kakak. Otaknya juga terlalu cepat akan respon sang ibu kalau mengetahui Alan-Rafly adalah saudara kandung.
"Salam kenal, Raf- Ardhan!" Nadya berusaha mencairkan suasana canggung siang itu. "Harus panggil siapa nih?" ramah sekali Nadya, bahkan Alan pun sampai mengamati raut wajah Nadya yang tampak sumringah. Tak ada lagi keterkejutan seperti di awal.
__ADS_1
"Namaku Ardhan Rafly Wiratama, Mbak."
"Kok aku baru tahu nama panjang kamu!" Cicit Naila tak terima, entahlah ia begitu kesal mendengar nama panjang Rafly.
"Udahlah, Nai. Ketimbang nama doang, toh kalian kan katanya mau tahu lebih dalam setelah nikah." Saran Nadya pada Naila.
"Mbak!" suara Naila memelas. Nadya hanya menggelengkan kepala seolah berkata kita bicarakan nanti.
"Jadi kapan kalian nikah?" tanya Nadya, padahal hatinya seperti diremas-remas ketika bertanya tentang pernikahan mereka.
"Minggu depan, Mbak. Sebenarnya Ibu tadi sih bilang mau rembukan dulu dengan kakak Naila, eh ternyata kakaknya Naila, kekasih Bang Alan."
"Iya, tadi aku juga dihubungi ibu, nanti malam katanya calon menantunya mau datang ketemu aku."
"Mbak setuju kalau aku meminta Naila sebagai istriku?"
"Insyaallah, selagi Naila bahagia aku akan merestuinya."
"Sayang!" desis Alan. Ia sudah ingin pergi saja dari pertemuan ini. Hatinya mencelos tak karuan. Takut sekali Nadya memutuskan hubungan ini.
__ADS_1
Meski kalut, Nadya tetap saja menghormati keberadaan Ardhan. Naila dan Alan sudah kincep sejak tadi. Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas pertemuan siang ini cukup mengejutkan bagi Naila, Alan serta Nadya.