SULUNG

SULUNG
KANGEN


__ADS_3

Di sinilah Alan, setelah keluar dari rumah Jihan, ia memilih kembali ke kantor, meski saat ini sudah jam pulang kantor. Bos ganteng itu hanya terdiam di dalam mobil, menyandarkan kepalanya pada kursi mobil, dan mengambil ponsel menghubungi seseorang yang sejak tadi ada di kepalanya.


"Aku tunggu di loby sayang." Ucap Alan tanpa salam dan langsung menutup panggilan ponselnya. Ia tak mau dibantah, yang jelas ia akan menunggu perempuan kesayangannya itu di dalam mobil. Netranya terus menatap ke arah pintu lobi, berharap kekasih hatinya segera datang.


Tepat pukul 17.15, gadis yang ia tunggu datang, ah.... bahagia sekali ketika mata cantik itu melangkah menuju mobil Alan tepat di depan loby.


"Sudah ditunggu Pak Alan sepertinya, Bu!" ucap Satpam yang berjaga di depan Loby, dan Nadya pun hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Alan membuka kaca mobilnya ketika Nadya sudah semakin dekat.


"Masuk sayang!" ucapnya sambil tersenyum. Sudah cukup ia menyimpan kangen tiga bulan ini, membiarkan Nadya bebas tanpa ada pengawasan dari dirinya. Kini...sebelum Ihsan bertindak lebih jauh, Alan akan memastikan Nadya hanya untuk dirinya. Nadya pun masuk, Alan masih menatapnya dengan senyum, kelihatan sekali kalau dia bahagia semobil dengan kekasihnya itu.


"Mau gini terus?" ketus Nadya dengan nada jutek, menatap sang mantan pula. Ah...ia sudah lama tak menamatkan wajah ganteng laki-laki itu.


"Bentar, aku mau melihat kesayanganku, ini nyatakan!"


Nadya langsung mencubit lengan Alan, dan bos gantengnya itu langsung mengaduh, "Awwww."


"Udah ah, cepet jalan. Mau ke mana, keburu Maghrib juga!"


"Tambah jutek, Nyonya!" sindir Alan sambil menyalakan mobilnya. Nadya tak menggubris ia sibuk mengirim pesan ke ibu karena akan pulang terlambat, karena ia yakin Alan akan mengantarkan pulang lewat isya, mungkin bos gantengnya ini akan berbicara tentang hatinya, may be.


"Jihan gak marah nih, kalau aku semobil sama kamu, Pak?" tanya Nadya, ada rasa sesal juga menuruti keinginan Alan yang menunggunya. Hufh....boleh putar balik gak sih.


"Biarin aja."


"Ya gak bisa gitu, di sini aku lagi semobil sama tunangan orang loh."


"Diem dulu ya, nanti aku jelasin." Ucap Alan menghentikan ocehan Nadya yang kelewat cerewet itu sambil mengusap kepala gadis itu.


Terenyuh. Ya....Nadya kangen akan perlakuan Alan seperti ini, usapan lembut di kepala Nadya mengisyaratkan kasih sayang dari seorang Alan padanya begitu dalam. Perasaannya menghangat seketika.


"Makan dulu ya, dari tadi aku belum makan." Ucap Alan yang menghentikan mobilnya di parkiran restoran. Nadya hanya mengangguk saja, mengikuti langkah bos gantengnya. Memang Nadya terkesan jaga jarak dengan Alan, maklumlah pemuda itu setahunya masih status tunangan orang. Sekelebat status pelakor mampir di benaknya.


Keduanya masih diam, sibuk bermain ponsel hingga pesanan mereka datang. Alan sangat lahap makannya, Nadya sampai tak tega, segitu laparnya. Apa gak diingatkan Jihan soal makan, terlihat kelaparan sekali.


"Alhamdulillah!" ucap Alan setelah menghabiskan makanannya. "Kok gak habis?"


"Belum habis lebih tepatnya, ne juga aku masih makan."


"Judes amat sih, lagi PMS ya?" Goda Alan. Ia tahu Nadya tak nyaman dengan situasi ini, Alan paham betul bagaimana prinsip Nadya soal hubungan dengan lawan jenis.

__ADS_1


Nadya tak menanggapi, ia meneruskan kunyahannya hingga tandas. "Habis ini mau ke mana?" tanya Alan dengan tatapan intens pada kekasihnya itu ups mantan.


"Pulanglah, Pak."


"CK...kamu gak asik ah."


"Lagian Pak Alan juga belum jawab, Jihan gak marah kalau kita berdua gini?"


"Marah."


"Ck...udah ah, aku pulang sendiri aja." Nadya pun langsung beranjak namun Alan segera mencekal lengan Nadya.


"Duduk dulu." Titah Alan lembut.


"Udah cepetan mau ngomong apa!" Nadya kembali memasang mode judes, dan Alan malah tertawa.


Ia pu menceritakan kejadian di rumah Jihan tadi siang, sekaligus membeberkan perasaannya terhadap Jihan dan maupun pada Nadya. Alan juga menceritakan kegiatan dirinya dan Jihan ketika mereka kencan.


"Kok kamu jahat banget sama Jihan sih?" sebagai sesama perempuan, Nadya tahulah bagaimana rasanya dicampakkan, apalagi terlalu cinta.


"Aku gak bermaksud untuk jahat sama dia. Dari awal aku sudah bilang aku gak mau dijodohin, dan dia bukan wanita yang aku inginkan."


Alan hanya mengangkat bahu, urusan dengan mama ia belum terpikirkan. Dalam pikiran Alan, hanya ada nama Nadya yang harus tahu hubungan Alan dan Jihan sebenarnya. Alan tidak mau Nadya menganggap dirinya jatuh cinta pada Jihan, karena itu tidak mungkin. Alan masih waras untuk tidak menerima perempuan model Jihan untuk menjadi istrinya.


Alan cukup posesif terhadap wanitanya, ia tak mau siapapun melihat atau bahkan menyentuhnya. Sedangkan Jihan dari bagian atas sampai paha pun tiap hari diumbar. Kalau sampai mereka menikah, Alan mendapatkan gadis yang kemungkinan besar sudah jadi fantasi laki-laki lain akibat penampilannya, tak sudi.


"Sekarang mama telpon terus, tapi aku gak mau terima. Yang aku pikirkan akan keputusan ini hanya kamu, sayang."


"Duh...kok masih panggil sayang sih, udah gak berlaku lagi."


"Gak mau, aku bakal menganggap kamu wanitaku hingga kamu bisa mendapatkan penggantiku, baru aku akan mundur."


"Terserah, yang jelas aku gak mau dicap pelakor. Selesaikanlah dengan baik-baik, Mas. Karena bagaimanapun itu juga menyangkut mama, hubungan kamu dan mama juga gak baikkan, kalau kamu egois memutuskan sendiri malah runyam hubungan kalian."


"Iya nanti, atau besok aku akan bicara dengan mama."


Nadya mengangguk, ia tak mau Alan menjadi anak durhaka yang menantang mamanya demi seorang Nadya, perempuan yang baru ia kenal beberapa bulan lalu.


"Besok kamu ada acara setelah pulang kantor?" tanya Alan, ia mau tahu apakah Nadya menerima ajakan Ihsan itu.

__ADS_1


"Ada!"


"Acara apa?"


"Hmm....belanja buat kebutuhan gathering."


"Oh....sekarang aja gimana?" tawar Alan yang benar-benar mau menggagalkan niat Ihsan untuk PDKT pada wanitanya. Oh tidak bisa Fergusso.


"Aku----aku---aku be-besok sudah ada janji."


"Janji sama?" Alan terus mengejar jawaban Nadya, ia bakal mengganggu acara jalan bareng mereka.


"Sama teman!"


"Cowok? Kok kamu gugup gitu?"


"Aku gak gugup, lagian kenapa juga kamu mau tahu."


"Aku pacar kamu kalau kamu lupa sayang."


"Mantan pacar yang bener."


"CK...udah cepetan ngomong besok janjian apa sana siapa dan di mana?" raut kesal Alan sudah tampak.


"Aku besok jalan sama Ihsan, paling juga sama anak devisi."


"Oke ...aku ikut." Kan mulai seenaknya si ganteng Alan.


"Jangan."


"Kamu mau berduaan sama si Ihsan itu?"


"Emang kenapa kita kan----."


"Aku ikut atau kamu gak boleh pergi?"


"Terserahlah."


"Nah gitu dong, yuk aku antar pulang."

__ADS_1


__ADS_2