SULUNG

SULUNG
GAK SAH


__ADS_3

Lain Naila, lain juga Nadya. Gadis berhijab yang sedang duduk anteng di samping Alan beberapa kali menghela nafas pendek, maju mundur juga menjawab pertanyaan Alan, "Ayo cerita tadi malam ada apa?"


"Jadi gimana sayang?" tanya Alan sekali lagi sembari menoleh sekilas pada Nadya.


"Aku...." Nadya masih menatap Alan lekat, entahlah pagi ini dia sangat berbeda dengan Nadya biasanya ceplas ceplos akan isi hatinya.


"Gak pa-pa sayang, ngomong aja. Berita baik atau buruk bakal aku dengarkan kok."


Hufh


Nadya menghela nafas berat, harusnya ia bersyukur sekali mendapat pasangan seperti Alan yang selalu setia menjadi pendengar yang baik akan masalah dan keluh kesahnya.


"Ibu memberikan penawaran akan hubungan kita."


"Penawaran gimana?"


"Nikah secepatnya atau putus."


Alan hanya tersenyum miring, batinnya sudah menebak arah penawaran dari calon mertuanya itu. Wajar sih, Ibu Nadya selalu mewanti-wanti kedekatan mereka yang bisa menumpuk dosa. Alan sudah tidak asing lagi akan nasihat beliau.


Setiap kali Alan ke rumah Nadya, ibu selalu bilang jaga kehormatan anak ibu ya Nak Alan, saya yakin kamu laki-laki yang bertanggung jawab. Selalu begitu, yah...beliau sangat menyayangi putri-putrinya, beliau tidak mau putrinya hancur karena pacaran.


"Lalu, mau kamu gimana sayang?"


"Kalau kamu?" bukan menjawab malah Nadya balik tanya. Huhf....suasana pagi yang terlalu serius.


"Dari awal aku pengen dekat sama kamu, aku kan langsung menawari nikah. Kalau sekarang ada tawaran seperti itu, jelas aku pilih nikah secepatnya. Mau kapan? Sore nanti?"


Nadya langsung memukul lengan Alan, "Serius ah."


"Loh aku serius sayang, gak percaya banget."


"Ya udah, aku juga mau."


"Mau apa?" tanya Alan balik, berniat menggoda calon istrinya memang. Terlebih wajang tegang Nadya mulai melunak.

__ADS_1


"Nikah." Jawabnya ketus sambil memalingkan mukanya yang merona.


"Nikah sama siapa?" Goda Alan lagi.


"Ya sama orang yang mau sama aku lah. Ih kamu nyebelin tahu gak!" pekik Nadya dengan menabok lengan Alan hingga pemuda itu meringis dan tertawa ngakak.


Pagi yang sempurna. Keduanya pun memasuki kantor dengan obrolan kecil dan diiringi senyum manis keduanya dengan sesekali membalas sapaan para karyawan.


"Bos kelihatan bahagia banget sama Nadya, gue gak rela!" jeritan lirih penggemar Alan pertama.


"Cocok banget mereka tapi kenapa hati gue nyesek." Mewek dah penggemar Alan yang lain.


"Haruskah gue nyerah?" pekik penggemar Alan lagi, entahlah komentar patah hati dari mereka mengiringi langkah Alan-Nadya menuju ruangan mereka masing-masing.


"Nanti makan siang sama aku, kebetulan adikku mengajak janjian makan siang, sama calon istrinya juga." Ucap Alan sebelum Nadya keluar dari lift.


"Iya, semangat kerja ya sayang!" ucap Nadya sengaja memanggil sayang pada Alan, dan tepat sekali Alan kelewat senang hingga ia akan menarik tubuh Nadya kembali di lift namun sayang gadis sholeha itu sudah kabur menuju biliknya.


Awas saja nanti makan siang ya, batin Alan.


"Nad. Dicari Pak Alan!" seru Pak Erick dengan suara baritonnya. "Suruh buka ponsel, katanya."


"Ck...bos ganteng segitu posesifnya sih sama Mbak Nadya?" celetuk Imel.


"Dan parahnya Nadya sering banget cuekin, gitu kok masih mau sama Nadya!" sindir Ersa.


"Karena yang cuek tuh lebih ngemesin dan bikin nagih. Aduh!" pekik Nadya yang mendapat lemparan gumpalan kertas dari Ersa, semakin membuatnya tertawa karena berhasil m mancing emosi para penggemar Alan di ruangan itu.


"Udah, kalian itu Alan Mulu, sekali-kali gue gitu yang kalian rebutin." Seloroh Erick terlalu percaya diri.


"Terimakasih, Pak. Diobral pun saya gak mau sama bapak." Celetuk Cindy sadis.


"Eh Cind, udah tahu Alan bucin banget sama Nadya, masih mengharap Lo!" makin judes saja manajer keuangan itu.


"Nadya ma baik, lah pacar Pak Erick, di wa masalah pekerjaan pas malam aja langsung dilabrak paginya, disindir-sindir. Ih malesnya..."

__ADS_1


"Segitu posesifnya!" komentar Ersa dan Imel bareng, sedangkan Nadya lebih fokus ke ponselnya karena Alan serta Naila mengirim pesan secara berurutan.


"Sayang, nanti gak usah balik ke kantor ya, selesaikan pekerjaan kamu sebelum jam 1." Pesan Alan.


"Mbak makan siang sama gue yah, aku juga mau kenalkan Rafly sama Mbak." Pesan Naila.


"Oke!" hanya satu kata balasan untuk Naila dan Alan.


"Nad!" panggil Erick lagi.


"Iya, pak?"


"Dengar-dengar adiknya Alan juga mau melamar pacarnya Minggu ini yah?"


"Iya, Pak. Kata Pak Alan sih mungkin gak lamaran aja bisa jadi langsung ijab."


"Kalau kalian?" todong Erick yang berhasil membuat staf keuangan menatap Nadya intens.


"Tunggu undangannya aja, Pak."


"Sakit hati gue, Nad!" Lah Ersa langsung mewek beneran, diiringi hembusan nafas berat Cindy, dan isakan tangis Imel..Nadya gelagapan melihat respon mereka.


"Hei...kita nikah juga masih ada jeda waktu, lagian adikku juga mau nikah. Tunggu adikku nikahlah, baru aku.


"Tetap aja kamu bakal nikah sama bos ganteng, hiks." Ersa menangis, meratapi nasib percintaan yang tak terbalas.


"Boleh gak sih gue berdoa, biar adik Lo nikah sama adiknya Alan aja, biar kalian batal nikah." Lah Cindy malah mau doa jelek kok minta izin boleh apa gak. Situ waras Cin?


"Astaghfirullah, doanya!" Nadya tak terima, namun tertawa juga, entahlah melihat penggemar Alan yang begitu mengharap kandasnya hubungan keduanya dengan berbagai ekspresi kok bikin ngakak juga. Lucu abis.


"Gak usah dengerin mereka, Nad. Anggap aja mereka pajangan dalam hubungan kalian, ada dan hanya bisa menyaksikan." Ledek Erick yang bikin Ersa cs kesal setengah mati.


"He..he..gak kebayang deh saat mas Alan mengucap ijab Qabul atas namaku." Gumam Nadya yang masih bisa didengar mereka.


"Gak sah!" Cindy dan Ersa berteriak heboh.

__ADS_1


Nadya dan Erick langsung melongo. "Kok?"


__ADS_2