
Gila.... satu kata yang terucap batin Nadya. Ini bukan acara reuni biasa, sudah seperti pesta kawinan. Dari pintu masuk hingga ke ballroom semua serba mewah. Yang hadir jangan tanya, pakaian tamu perempuan mana ada yang biasa, glamor habis. Pantesan Tante Irene pilih baju yang glamor juga, yah meskipun baju yang dipilih kata Alan masih murah sih.
"Pak, gugup nih!" Nadya asal nyeplos saja, sepertinya rasa jaim pada Alan mulai berkurang, bahkan ia sampai memegang lengan bosnya, agar tidak jadi ikut masuk ke ballroom.
"Kenapa? anggap aja belajar jadi nyonya Alan."
Ih...rasanya Nadya pengen menabok tuh bibir bosnya, dikit-dikit menyinggung perasaan. Hati Nadya lemah Pak Alan, kalau terus-terusan diperlakukan seperti ini meleleh juga kali.
"Boleh gandeng tangan?" tanya Alan dengan menatap wajah Nadya lekat.
"Nambah 5 juta!" cibir Nadya kesal, tak bermaksud memberi tariflah, tanpa skinship pun keduanya sudah terlihat seperti pasangan kekasih. "Jalan berdampingan aja, Pak."
"Oke." Alan mengangguk setuju, " Eh ... panggilannya jangan pak, Nad. Mas Alan saja ya?" goda Alan lagi, wajah gantengnya terlihat bahagia sekali, mungkin kali ini ia tidak diledek kawan-kawannya sebagai high quality jomblo. he..he...
"Kalau gak keceplosan, lidah saya kaku kalau panggil mas Alan." Nadya begidik ngeri juga, he..he...geli memanggil bosnya dengan sebutan mas.
Keduanya pun melangkah dengan cukup percaya diri, padahal Nadya dag dig dug juga. Sepertinya Alan waktu SMA cukup terkenal, sedari pintu masuk terus saja ada yang menyapanya. Yah meskipun semua yang menyapa dan mengajak ngobrol itu teman prianya. Alan juga dengan senang hati mengenalkan Nadya sebagai calon nyonya. Astaghfirullah.
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Alan sengaja memang di depannya juga ada teman laki-laki yang Nadya dengar namanya Andri, dokter kandungan di rumah sakit swasta. Nadya tahu karena sempat mendengar celetukan Andri yang meminta Alan ke praktiknya kalau sudah mau program hamil. Ya elah, kejauhan bang Andri mikirnya. Sama gadis disebelahnya hanya akting.
Sayang?
Pala Lo peyang? Duh...Alan pintar sekali aktingnya, bahkan manggil sayang pun terkesan terbiasa. Gak tahu kalau ada bola mata yang mendelik setelah mendengarnya.
"Emang saya sayang sama kamu, Kan?" bisik Alan di telinga Nadya, lalu tersenyum manis.
"Ternyata playboy juga!" Ujar Nadya sinis.
"Enggak, aku baru pertama kali bilang sayang sama perempuan ya sama kamu malam ini."
"Ouh untuk malam ini, kalau malam kemarin atau malam yang akan datang?"
"Cemburu?" Alan berniat menggoda memang.
Spontan saja Nadya menepuk lengan Alan, meluapkan kekesalan Nadya sebenarnya, hanya saja bagi yang melihat, mereka berdua seperti pasangan yang tengah bercanda.
"Udah deh, Pak, bercandanya gak lucu!"
"Ck...mas...coba panggil Mas Alan."
"Dih...geli saya!" keluar deh gesreknya Nadya, dan itu malah membuat Alan terkekeh. Bos ganteng itu pun mengajak Nadya mengambil berbagai hidangan dan minuman, lalu duduk di meja yang disediakan. Alan tahu kalau Nadya tidak nyaman di tengah teman-temannya, setelah berbasa basi dengan mereka, Alan memilih mengobrol berdua dengan Nadya sambil menikmati acara dan makanan tentunya.
__ADS_1
"Pak Alan memang dari SMA temannya cowok semua ya?"
"Iya, kalau kamu?"
"Teman saya mah cowok cewek oke, Pak."
"Masa' sih, saya pikir kalau kamu berhijab akan membatasi pergaulan dengan laki-laki."
"Ya memang membatasi, Pak. Saya jalan berdua dengan lawan jenis saja, baru dengan Pak Alan."
"Wah...saya spesial dong. Tapi kayaknya terpaksa ya."
Nadya tersenyum, Alan sudah bisa membaca gelagat Nadya yang memang terpaksa ikut di reuni ini.
"Maaf, Nad. Saya sebenernya tidak pernah ikut acara seperti ini, hanya saja kali ini saya tertarik untuk ikut."
"Kenapa?" Nadya kepo, oke malam ini dia akan banyak bicara dengan bosnya, biar bosnya ini gak betah dan gak mengungkit masalah perasaan terus menerus saat bekerja. Nadya yakin, tipe pendiam seperti Alan pasti gak suka dengan cewek cerewet. Lihat saja.
"Sebenarnya ada seseorang yang mau saya tahu statusnya sekarang." Alan mulai bercerita, sepertinya tentang masa lalunya.
"Cewek?" Nadya menerka dan dijawab sebuah anggukan kecil oleh Alan. "Lalu?"
Yap...Nadya langsung menoleh. Bodoh. Refleknya tidak terlalu bagus untuk mencerna ucapan Alan, diminta detik ke sepuluh, malah detik pertama langsung menoleh, gimana sih.
"Nad!" tegur Alan gemas. "Kan saya bilang detik kesepuluh, gimana sih."
Nadya hanya meringis, "Reflek, Pak."
"Udah lihatkan?"
Nadya mengangguk, ekor matanya sudah menangkap sosok yang memang sedang menatap mereka berdua, bahkan ketika Nadya menoleh ke arah perempuan itu, mata keduanya bertemu dan perempuan berbaju hijau muda itu langsung memutus pandangannya. Mencurigakan. "Cantik." Lanjut Nadya.
"Cantikan kamu, Nad!"
"Terus?" Nadya tak menanggapi pujian Alan, di kupingnya pujian Alan terkesan biasa, saking seringnya.
"Kami sempat dekat saat kelas X SMA. Dekat banget memang, saya pun nyaman dengan dia, saya akui, saya baru merasa tertarik dengan perempuan ya sama dia."
Nadya hanya diam, mendengar cerita Alan di kala putih abu-abu dulu. "Lalu?"
"Apa kabar, bro!" sapa seseorang yang tinggi dan berwajah bule menyapa Alan dengan meninju lengan si bos ganteng itu.
__ADS_1
"Apa kabar, Lex?" balas Alan tak kalah mesra, bahkan sampai merangkul pemuda bule itu. Tepukan punggung keduanya memperlihatkan betapa dekatnya mereka berdua, dan sepertinya mereka sudah lama tak bertemu.
"Makin ganteng aja, Lo!" puji laki-laki yang dipanggil Alan, Lex itu.
"Biasa, artis angkatan mana pernah jelek sih."
Nadya mendengus kesal, narsis abis banget bosnya itu.
"Eh siapa nih, udah bisa move on Lo?" tanya Lex dengan menyodorkan tangannya pada Nadya.
"Gak usah pakai salaman!" Alan pun menepis tangan Lex itu, dan dibalas cengiran mengejek dari pemuda bule itu.
"Bucin!" ledek Lex tersebut.
Hah si bule kenal bucin juga??? lucu kedengarannya.
"Kenalin sayang, ini Alex teman satu tim basket dulu."
"Nadya!" jawab Nadya dengan mengangguk dan tersenyum ramah.
"Kenal di mana sama si tuan tanpa ekspresi ini?" tanya Alex serius, bahkan sampai duduk di kursi sebelah Nadya.
"Saya---"
"Gak penting Lo ah!" Alan mengalihkan obrolan Alex yang sepertinya bakal mengorek hubungan Alan dan Nadya, bisa-bisa terbongkar dong kalau mereka sandiwara.
"Bentar dulu Napa sih." Protes Alex dengan menepis tangan Alan. "Gue gak percaya kalau Lo bisa move on dengan Manda."
"Ck..." sebal sudah Alan pada Alex. Masa lalu Alan dengan Manda memang Alex tahu persis, bahkan saat chat pun Alex masih sering membahas Manda, dan setahu Alex, Alan masih kekeh susah terlepas dari bayangan Manda.
"Ouh Namanya, Manda. Yang lagi berdiri di dekat meja prasmanan itu kan?" tanya Nadya to the point.
"Eh...Lo udah cerita sama dia?" kini Alex menatap Alan dengan serius, tak ada raut konyol seperti awal pertemuan mereka dan Alan hanya mengangguk saja. "Sabar ya cantik."
Nadya hanya mengangkat alis, kok disuruh sabar? pasti ada cerita pahit tentang Alan dan Manda.
"Udah gak usah bahas dia, kita ke sini untuk temu kangen buat hepi, masa suram telah lewat." Ujar Alex santai sedangkan Alan hanya mampu mengangkat sudut bibirnya saja. Nadya memasang wajah datar, hatinya masih penasaran ada apa dengan cerita masa lalu Alan.
Ketiganya pun mengalihkan topik pembicaraan dengan tema bahasan pasangan. Alex yang sudah memiliki anak di Jerman lebih mendominasi cerita keluarganya, kadang ada celetukan mesum yang Alex lontarkan, membuat Nadya yang mendengarnya merasa malu sendiri. Pribadi Alex yang ceria membuat Nadya nyaman ikut dalam obrolan dua pria ganteng itu. Hingga...
"Apa kabar, Alan?" suara perempuan membuat ekspresi ketiga orang di meja itu langsung datar. Tawa canda berhenti seketika, mendadak tegang.
__ADS_1