SULUNG

SULUNG
HUBUNGAN TANPA STATUS


__ADS_3

Di sinilah Alan dan Nadya, Cafe milik Rifki. Ibu Nadya mengizinkan Alan untuk pergi dengan Nadya dan menyuruh Alan untuk mengantar Nadya ke hotel, tempat resepsi Naila besok. Ibu berangkat dengan keluarga Om Shol, dijemput sopir keluarga Rafly. Sedangkan Naila dan Rafly berbeda mobil. Biasalah pengantin baru maunya nempel berdua, setelah tamu akad bubar, mereka serasa perangko, di mana ada Naila, di situ ada Rafly.


Sejenak berpikir, meski ada raut tak rela memberi Nadya izin keluar dengan Alan, namun Ibu tetap membiarkan mereka, untuk kali ini saja, karena beliau memaksa pada Nadya agar tak melanjutkan hubungan dengan Alan. Yah....semenjak Naila sudah sah menjadi istri Rafly, baik Nadya, mama Alan dan Alan sendiri pun sudah tahu keputusan ibu, pamali masih mendominasi keputusan beliau.


"Udah lama sama si Pak Bos?" tanya Rifki, sang pemilik Cafe.


Nadya hanya menyunggingkan senyum, mau jawab apa coba, baru putus kemarin, masa' gitu.


"Lama apanya, baru jadi mantan yang bener!" jawab Alan sedikit kesal kalau diingatkan soal status Nadya.


"Lah...kapan jadiannya, udah putus aja!" ledek Rifki dengan mencibir.


"Udah ah, bikin badmood aja. Mumpung masih bisa kencan nih!" protes Alan yang mau menikmati kencan berdua dengan Nadya, karena ini kesempatan ..mungkin terakhir yang diizinkan oleh ibu Nadya.


"Biasa aja kali, di kantor juga masih bisa ketemu!"


"Oke...nanti kamu, aku panggil terus, kerjaan kamu bawa aja ke ruanganku."


Nadya hanya memutar bola matanya malas, bisa-bisanya seorang pemimpin perusahaan bisa sebucin itu terhadapnya.


"Eh...bentar, kan mulai senin ada asisten baru juga ya!" Goda Alan, berniat usil, ngetes juga sih...apakah Nadya akan cemburu.


"Iya, cantik juga, pasti betah deh kerja bareng dia." Jawab Nadya dengan menyeruput jus melon, mengalihkan rasa cemburu pada minuman segar itu, gengsi lah kalau ketahuan, dirinya yang mengajak putus eh....dirinya juga masih cemburu, kan aneh.


"Emang dia oke banget ya, sampai kamu merasa sayang kalau ia tereliminasi?"


"Iya, kalau lihat dia berasa mengaca juga sih, tapi cantikan dia." Nadya narsis juga ternyata.


"Oh iya, kalau persis kamu bisa jadi kandidat istri dong." Masih saja Alan usil, tak peka juga kalau raut wajah Nadya sudah tidak bersahabat.

__ADS_1


"Bisalah, kan suka-suka bos, asal bos senang lah!" Ujar Nadya ketus, duh ..pengen getok kepala Alan aja, katanya masih cinta, eh diingatkan soal Mutia, melek juga.


"Ehem....kok aku nyium api-api cemburu ya!" ledek Alan dengan menahan tawa, Nadya spontan memukul lengan Alan.


"Nyebelin."


"Lagian, kamu bilang cemburu aja kenapa sih!"


"Siapa yang cemburu, udah mantan ... silahkan lah!"


"Halah, boong banget!" ujar Alan dengan mencoel hidung mancung Nadya. "Kelihatan banget nyonya kalau cemburu."


"Ih ...kamu nyebelin tau, Mas!" akhirnya Nadya kesal juga dipojokkan terus, masa' sih wajah orang cemburu kelihatan, orang tadi Nadya merasa masang wajah datar banget tadi. duh...malunya.


"Lain kali kalau cemburu ataupun gak suka, bilang, biar aku tahu kalau kamu gak suka."


"Kalau seandainya aku berjodoh sama kamu, aku sudah bisa memahami kamu."


"Baik banget sih, Mas. Kalau sikap kamu kayak gini gimana aku bisa rela melepas kamu."


"Makanya, kita gak usah putus ya?" mengharap sekali Alan untuk menjadi kekasih Nadya, bahkan kalau boleh berharap lebih jadi imam gadis itu, Alan juga mau.


"Kamu tadi waktu izin mau ajak aku keluar, gak dikasih tahu apa-apa sama ibu?"


"Dikasih lah, panjang banget!"


"Apa?"


"Ya intinya ibu minta maaf gak bisa kasih restu kalau kita lanjut ke jenjang pernikahan, jadi beliau harap ini kencan kita terakhir."

__ADS_1


Nadya hanya tersenyum kecut, kencan terakhir ya? apakah bisa? Harus. Ibu sudah bilang juga kalau restu ibu tak akan ada untuk Alan-Nadya, kalau kemarin sebelum Naila sah dengan Rafly, ibu masih mengharap keduanya yang menikah terlebih dulu, tapi nyatanya keduanya pun rela memberikan kesempatan itu untuk sang adik.


"Sementara kita jalani seperti ini saja ya sayang? Pelan-pelan melepasnya, aku juga gak sanggup kalau kamu menghilang begitu saja."


"Tapi kalau kita terlalu nyaman dengan hubungan ini?"


"Ya udah, dengan begitu kamu gak bakal nikah sama cowok lain selain aku, terus ibu kasih restu."


"Aamiin."


"Sebelum jadi teman hidup, biarlah jadi teman spesial dulu."


"Martabak kali spesial."


"Beneran sayang, kamu tuh teman cewek terspesial bagiku."


"Udah dong, geli tahu kamu gombal gini terus."


"Kenapa sih, bukannya cewek suka banget digombali ya?"


"Huweeekkk, bos ganteng jadi bos sejuta modus."


"Modusnya cuma sama kamu sayang."


"Kasihannya aku jadi korban modus doang."


"Halah, demen aja!"


Nadya pun tertawa, yah dia begitu bahagia digombali Alan seperti ini, padahal kalau di kantor selalu pencitraan sebagai laki-laki berwajah jutek.

__ADS_1


__ADS_2