
Nyatanya bertemu dan bicara empat mata dengan Faiq tak membuat Nadya mendapat solusi. Faiq justru ingin melanjutkan hubungan ini tanpa peduli Nadya terpaksa menerimanya. Semakin pusing saja. Mau ikhlas tapi masih gak rela. Mau move on tapi kok gak cinta sama Faiq. Yah meskipun beberapa kali Nadya meyakini cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
"Kamu tuh yang sopan dikit sama Faiq, dong!" protes ibu saat Nadya tak kunjung kembali ke ruang tamu, terpaksa wanita paruh baya itu menjemput Nadya ke kamar agar mengantarkan Faiq ke depan rumah.
"Dia udah gede, Bu. Udah tahu jalan pulang, lagian tadi Nadya udah ngobrol banyak sama Mas Faiq." Keluh Nadya malah rebahan di bawah selimut berniat tidur saja. Ia tak menyadari kalau Faiq masih di rumahnya. Padahal, Nadya pikir Faiq langsung pulang, hingga Nadya pun segera mandi dan sholat. Hm...lumayan lama berarti ia ngobrol sama ibu, batin Nadya berkomentar.
"Bangun, Mbak. Ditunggu Faiq."
"Lah bukan pulang dia?" ucapnya sembari menyibakkan selimut.
"Kan belum pamitan sama kamu, gimana sih."
Nadya pun beranjak, menyambar jilbab instannya tanpa mengganti piyamanya. Sang ibu hanya menghela nafas pendek. Betapa cueknya penampilan Nadya bila bertemu Faiq, tak ada kesan manis, sangat berbeda bila bertemu Alan, selalu tampak ayu meski sederhana.
"Ganti baju dong, Mbak." Protes ibu yang melihat Nadya segera keluar dari kamar. Sang ibu juga mengikuti langkah Nadya, hanya berniat melihat saja bagaimana interaksi Nadya dengan Faiq. Beliau pun sampai bersembunyi di balik tembok.
"Belum pulang?" sindir Nadya agak ketus.
__ADS_1
Faiq hanya tersenyum, "Mau pulang sih, cuma belum pamit ke kamu."
"Ya udah, hati-hati."
"Besok aku jemput ya, itung-itung kita mulai pendekatan. Boleh?"
Nadya hanya mengangguk saja, terserahlah Faiq melakukan apa, ibu juga mau melakukan apa. Toh kepentingan Nadya paling buncit.
"Kamu itu, mbak. Bisa gak sih bersikap sopan sama Faiq?" tanya ibu setelah Nadya menutup pintu.
"Udah sopan kok, Bu."
Nadya mendudukkan diri di sofa ruang TV. Ia akan duduk dengan ibu, mengeluarkan apa yang ia rasakan sekarang. Setidaknya jujur untuk dirinya sendiri. Terserah apa kata nanti, yang jelas untuk masa depannya ia punga hak penuh.
"Ya namanya Nadya maunya sama Mas Alan, Bu. Ya pasti seneng di dekat Mas Alan ketimbang Mas Faiq."
Puk
__ADS_1
Ibu memukul lengan Nadya pelan, "Ingat kamu udah dikhitbah sama Faiq. Lupakan Alan."
"Bu." Ucap Nadya sambil menatap ibunya seksama, ia pun menggenggam tangan wanita kecintaannya itu. Menyalurkan segala rasa yang ia emban. "Tolong dengarkan, Nadya sekali saja."
*Nadya bersikap tak ramah pada Mas Faiq karena Nadya tak punya rasa dengan dia. Ibu tahu, seumur hidup Nadya, laki-laki yang disukai Nadya tanpa paksaan adalah Mas Alan. Dari dia, Nadya merasa diperhatikan orang lain. Nadya tahu artinya sabar, mencoba ikhlas, dan berjuang dalam sebuah hubungan juga karena Mas Alan. Lalu, aku disuruh bersikap baik dengan Mas Faiq dalam hitungan jam? Maaf, bu. Nadya gak bisa. Dalam otak Nadya masih terekam dengan jelas betapa sopan dan sayangnya Mas Alan pada Nadya. Tentu sangat sulit menghilangkannya. Jadi, Nadya minta tolong pada Ibu, kalaupun Nadya harus menikah dengan Faiq, tolong ingat ucapan Nadya ini bu.
Satu. Nadya terpaksa menerima hubungan ini agar tidak menyakiti hati ibu, kalau bisa Nadya akan terus berlagak bahagia agar ibu juga bahagia.
Dua. Sampai detik ini saya mencintai, dan menyanyangi Mas Alan. Maaf kalau sampai saat ini saya dan belum Nadya pikirkan untuk memberikan hati pada Mas Faiq.
Tiga. Semoga ibu bahagia dengan pernikah kami kelak.
Ibu langsung memeluk putri sulungnya. Beliau sadar sekali selama ini terlalu mengatur kehidupan Nadya. Bahkan hidup Nadya seolah tak pernah merasakan kemenangan. Selalu mengalah.Tapi tolong, untuk saat ini, Nadya hanya ingin Alan.
"Maafin ibu, Nad. Ibu selama ini tidak pernah memikirkan hatimu. Maaf, maaf kalau ibu terlalu gegabah menerima khitbah Faiq teehadapmu." Ucap beliau seraya melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa, Bu. Jangan pernah dibatalkan, Nadya khawatir akan menerima karma bila memaksa membatakan perjodohan ini. Jadi biarkan saja." Ibu mengangguk.
__ADS_1
Nadya plong, lega sudah menyampaikan isi hatinya pada ibu. Urusan selanjutnya, ia hanya menjalani tanpa menilik ke belakang, menerima apa adanya Faiq, dan memantapkan hati H-2 dirinya akan resmi dilamar Faiq.