SULUNG

SULUNG
AGRESIF


__ADS_3

Ribet.


Nadya pagi-pagi sudah ngomel, pasalnya baju Naila tak layak untuk dipakai ke kantor. Alhasil, setelah shubuh Nadya mengajak si Ibu untuk pulang.


"Ya tapi gak enak sama besan, Mbak. Kalau kita pulang sepagi ini." Tolak Ibu yang sedang membantu para bibi menyiapkan sarapan.


"Udah sih, libur aja, izin." Usul Naila yang pagi itu juga ikutan ngomel lantaran ponselnya berdering terus, diteror Nadya.


"Gue sibuk, Dek. Banyak deadline di hari senin ini." Kesal juga Nadya kalau kayak gini, tahu gitu tadi malam ia pulang.


"Izin terlambat aja. Toh bosnya kan pacar lo, si Mbak." Celetuk Naila, duh pagi-pagi ngajak ribut deh tuh anak, mana sebut pacar-pacar lagi.


"Bu, balik jam 6 ya?" rengek Nadya melas.


"Mbak, Retno. Jeng Shofi biasanya turun jam berapa?" tanya Ibu pada salah satu ART.


"Jam 6, Nyonya." Jawab Retno sopan.


"Aduh, Mbak Retno panggil biasa aja."


"Turutin aja, Mbak Retno. Nanti diomelin loh sama kanjeng mamih aku." Cicit Naila yang langsung dicubit oleh Nadya. Gak sopan. Memang Naila bisa ceplas ceplos sama siapa aja, termasuk ART di rumah Ardhan. Gayanya yang cerewet namun baik hati, membuat para ART senang dengannya. Dengan terpaksa, Nadya menelpon Pak Erick, izin terlambat, dan Alhamdulillah langsung diizinkan.


Tepat pukul 6, semua anggota keluarga datang satu per satu ke ruang makan, Mama Shofi dengan penampilan wanita karier sangat mencolok dibandingkan dengan ibu, tapi beliau sangat ramah. Alan datang yang paling terakhir, mungkin dia sudah lupa akan kebiasaan sarapan di ruang utama.


Ia menatap tajam pada Nadya, gadis cantik itu juga membantu ibu menata piring di meja makan, sebelum keluar kamar tadi ia diultimatum sang ibu, jangan bikin malu, anggap aja rumah mertua, harus kelihatan rajin, ayo bantu siapin sarapan.


"Baju kamu, press banget?" bisik Alan mendekati Nadya , ia sengaja menghalangi Nadya untuk mengambil gelas dan menu sarapan yang belum disajikan.


"Minggir dulu dong, Lan. Nadya lagi latihan siapin sarapan buat kamu juga." Goda Mama.

__ADS_1


"Udah ada Bibi, Ma." Alan ngeles, ia pun menyenggol lengan Nadya agar segera menjawab pertanyaannya.


"Pinjam punyanya, Naila, Mas. Masa' aku pakai baju kemarin." Jawabnya. "Mau makan pakai lauk apa?" tanya Nadya, berlagak seperti istri melayani suami. Bahkan ia tidak canggung, karena di depannya ada Mama Shofi dan ibunya.


"Nasi goreng aja."


Nadya pun mengambil nasi goreng sesuai request Alan, lalu menyendokkan untuk dirinya sendiri. Obrolan dengan suasana kekeluargaan pun tercipta, siapa lagi kalau bukan Naila yang mendominasi. Kecerewatannya bisa mencairkan suasana canggung sang ibu, yang sampai saat ini merasa sungkan pada besannya.


"Uncleeeeeeee." Teriak bocah cantik yang sudah pakai seragam datang secara tiba-tiba, disusul dengan wanita cantik di belakangnya.


"Eh." Alan terkejut, padahal malam tadi ia sudah memberitahu Meysa membatalkan janji untuk mengantar Cece. Spontan ia melirik Nadya yang duduk di sampingnya. Tampak datar saja, tidak bisa ditebak perasaannya.


"Pagi tante, Maaf ya mengganggu sarapan. Cece sejak tadi merengek minta dijemput Mas Alan." Jelas Meysa lembut pada mama Shofi.


"Eh...gak pa-pa kok, kamu sudah sarapan, Sayang?" tanya mama Shofi, beliau juga menganggap Meysa seperti anak sendiri, meskipun beberapa keluarga menjodohkan Alan dengan Meysa.


"Cece mau sarapan?" tanya Mama Shofi.


"Mau oma. Pakai roti itu, Ma." Pinta gadis itu. Meysa langsung sigap memberikan putrinya toti bakar dengan selai strawberry. Meski ketiga perempuan itu begitu ceria, tapi ada satu perempuan yang ingin menjambak ataupun mencakar wajah innocentnya, yaitu Naila. Sejak kehadiran Meysa, ia malas melanjutkan sarapannya, sudah dongkol, bikin eneg dan mual. Alhasil, Ardhan yang tahu perubahan mood Naila, segera menyuapinya.


"Nanti ikut antar Cece ya?" bisik Alan, cemas juga kalau Nadya marah.


"Gak usah, Mas. Aku dan ibu naik taksi aja, aku udah menghubungi Pak Erick kalau aku terlambat." jawab Nadya tanpa menoleh pada Alan. Dia hendak protes, tapi ditahan, tak mau kalau merusak suasana sarapan pagi ini.


"Ayo, Ma. Uncle anterin Cece." Cecilia menarik tangan Alan dan Meysa, membuat Mama Shofi terkekeh dengan tingkah lucunya.


"Bentar ya, Ce. Uncle ambil tas dulu, Cece ke mobil Uncle dulu sama mommy." Usul Alan, sengaja mengulur waktu, dia akan membujuk Nadya untuk ikut serta.


"Udah cepetan sana, Cece nanti telat, keburu macet. Nadya dan Besan biar diantar sopir." Mama Shofi menyuruh Alan segera mengambil keperluan kerjanya.

__ADS_1


Alan tidak naik ke kamarnya, malah menuju ruang makan. Masih ada Nadya, dan pasangan mama-papa muda sedang tertawa mendengar celotehan Ibu.


"Kok balik lagi, Mas?" tanya Ardhan heran.


"Nad, ayo aku antar sekalian." Alan tak menjawab pertanyaan sang adik, fokusnya hanya pada wanitanya.


"Gak usah, Mas. Aku nanti diantar sopir, tadi mama juga udah bilang kok." Jawab Nadya datar, kemudian tersenyum tipis pada Alan.


"Bener, Mbak. Jaga image dong, jangan mengiyaka cowok yang gak bisa tegas." Celetuk Naila julid, ia juga berdecih dengan sikap Alan yang sok manis dengan Cece. Gak tahu apa, sikapnya itu bikin baper emaknya, yah siapa tahu Meysa memanfaatkan kedekatan Cece dan Alan untuk kepentingan cintanya, maklum sudah lama tidak disayang-sayang.


"Nai, gak boleh ah ngomong gitu." Tegur Ibu tibba-tiba, sempat merasa kasihan pada Nadya melihat kedekatan Cece dan Alan. "Mereka kan udah putus, biarkan mencari pasangan masing-masing." Terang ibu dengan sedikit menyindir kedekatan Alan dan Meysa.


"Betul ibuku sayang, Mas Nathan juga ada kan?"


"Siapa? Yudistira? Oh ibu setuju banget."


Alan dan Nadya melongo, betapa kompaknya ibu dan bumil satu ini. Terlebih keduanya sengaja memanas-manasi Alan, dan berhasil. Wajahnya mendadak merah, ia hanya terdiam kaku, enggan beranjak ke Cece yang merengek minta antar.


"Mas Alan, ayo." Tegur Meysa, ia mendekat pada Alan dan merangkul lengan Alan. Ardhan dan Naila hanya mendengus kesal, sedangkan Ibu mendelik, dan Nadya memasang wajah datar.


"Kami pergi dulu semua." Pamit Meysa dengan sedikit teriak, melangkah cantik menggamit lengan Alan. Meski matanya terus menatap Nadya.


"Jadi cewej yang tegas, Mbak. Jangan gampang dirayu Mas Alan terus. Kalau bisa ditalak aja dah." Ujar Ardhan konyol.


"Hemmm akaf aja belum masa' ditalak si, Dhan. Udah gue gak pa-pa, toh kita kalau pacaran juga sampai kapan, karena gak ada restu kan. Jadi ya sudah, tinggal tunggu waktu aja, siapa yang akan menjadi wanitanya Alan."


"Cinta boleh, bodoh jangan. Tetap harus pakai logika." Pesan Naila tegas. Ia pun tak mau sang kakak tersakiti karena cinta.


"Beres."

__ADS_1


__ADS_2