
Nadya memejamkan mata setelah menerima semburan hangat dari tubuh Alan. Nafas keduanya tersengal-sengal setelah kegiatan menguras keringat di sore hari.
"Makasih." Ucap Alan sembari mengatur nafas, menarik tubuh polos Nadya ke dalam dekapannya.
"Mas kamu beda banget tahu gak sore ini." Keluh Nadya dengan mencebikkan bibirnya. Menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Maklum, sore ini dia harus melayani sang suami hingga dua kali tanpa jeda.
"Kangen." Jawab Alan dengan memejamkan mata, singkat padat dan jelas. Terdengar ketus juga.
"Aneh deh." Cicit Nadya sambil beranjak menuju kamar mandi, segera membersihkan diri dan bersiap untuk arisan keluarga di restoran bintang 5.
Tepat jam 7 malam, Alan dan Nadya berangkat menuju tempat arisan keluarga. Kali ini Alan menggandeng tangan Nadya cukup erat, Nadya heran dengan sikap Alan sejak tadi pulang kantor.
"Kamu kenapa?" tanya Nadya dengan suara lembut dan lirih.
Alan menoleh dan hanya tersenyum tipis, "Gak pa-pa, yuk." Ajaknya memasuki restoran tersebut. Sudah banyak anggota keluarga yang hadir, bahkan Mama Shofi yang tadi berangkat diantat sopir sudah melambaikan tangan ke arah Nadya dan Alan.
"Apapun yang kamu dengar nanti, aku harap kamu gak sedih ya sayang." Ucap Alan di saat mereka semakin melangkah ke arah meja keluarga. Nadya sontak menoleh, menatap wajah Alan dengan seksama dan dipenuhi pikiran negatif seketika.
*Mungkinkah Alan dipaksa nikah lagi?
Atau ini pertemuan keluarga untuk mengumumkan Alan dijodohkan dengan perempuan lain. Terlebih Aku belum hamil sampai saat ini?
Astaghfirullah
Semoga Alan masih menghargai aku sebagai istrinya*.
Nadya membalas genggaman tangan Alan tak kalah erat, setidaknya mencari kekuatan pada laki-laki yang sudah mencintainya sampai detik ini.
"Sini menantuku." Ucap Mama Shofi dengan ramah.
"Sayang banget, Mbak Shof nih sama Nadya." Ujar Tante Liana ketika melihat keakraban mertua menantu ini.
"Iya dong, anak perempuan satu satunya." Balas Mama Shofi sambil mengelus lengan Nadya, sedangkan Alan menyapa om dan sepupunya.
__ADS_1
Makan malam keluarga besar mereka pun dimulai, banyak canda dan tanya kabar yang mendominasi dari obrolan. Tak ada tuh ajang pamer sesama anggota keluarga, mungkin sederajat, sehingga iri dengki pun tak tampak.
"Ayo, Nad. Makan yang banyak. Dari bulan lalu, kayaknya tambah langsing aja." Ujar Bude Niken sambil menyodorkan salad buah ke Nadya.
"Makkasih, Tante. Iya nih, berat badan turun terus banyak kerjaan." Ucap Nadya sambil menerima bowl salad.
"Mau hamil kayaknya, biasanya kalau mau hamil badan tuh aneh, gak kayak biasanya." Sambat Tante Liana.
Wah...pembahasan sensitif nih, Nadya berusaha tak menangis, tetap memasang senyum meski was was akan menyindirnya. Pasalnya, Meysa sudah senyum sinis ketika pembahasan hamil mencuat.
"Tante dulu gitu, mau hamil sakit-sakitan terus, badan kurus banget. Begitu hamil langsung naik 25 kg. MasyaAllah deh pokoknya." Lanjut Tante Liana berbinar mengingat pengalaman hamil pertama dulu.
"Tante merasa kayak gitu nikah udah berapa bulan?" Meysa mulai mencari perkara. Tatapan tajam Mama Shofi tidak dihiraukan, Meysa yakin pasti Mama Shofi gak mungkin marah-marah di acara keluarga seperti ini.
"9 bulan, Kalau Nadya nikah udah 7 bulan kan?"
"Iya, Te. Jalan 7 bulan." Jawab Nadya lemah. Hamil adalah topik yang bisa bikin mewek ataupun menghilangkan rasa percaya diri Nadya.
"Halah masih 7 bulan, nikmati saja masa pacaran kalian. Gak usah buru-buru, dibuat bebas aja, mau jadi oke...agak nanti juga oke, yang penting gak boleh stress." Saran Tante Liana sambil menepuk pundak Nadya. Tampak beliau sayang juga pada Nadya. Sangat bijak juga karena tak terpancing ucapan Meysa.
"Ayoooooo Arisan dimulai." Teriak Nara, anak sulung Tante Liana yang kedapuk menjadi MC di arisan keluarga bulan ini. Meskipun keluarga kaya, nominal arisan gak sampai puluhan juta, malah Nadya saat awal cuma melongo. Arisan orang kaya cuma 5 juta dan dibatasi maksimal ikut 5 slot. Kalau kata Mama, biar semua ikut, nominal 5 juta dianggap paling ringan karena rata-rata menjadi pengusaha yang omsetnya belum tentu stabil tiap bulannya.
"Tadi diajak ngomong apa aja?" tanya Alan saat menikmati minuman es buah dipenghujung acara.
"Basaa basi dan merembet masalag hamil." Jawab Nadya santai.
"Iya sih, istrinya Azriel katanya udah isi. Tadi aku juga digodain buat ngadon lebih sering."
Nadya hanya mencebik kesal. Perasaan intensitas bercinta mereka seperti makan deh, ditambah nyemil dan nongkrong di cafe alias gak kehitung.
"Habis ini check in ya?" bisik Alan dengan nada menggoda diiringi kerlingan mata genit.
"Ogah, sore tadi udah." Tolak Nadya sambil menonyor pelan pipi Alan.
__ADS_1
"Istri sholehah gak boleh nolak loh." Alan masih bernego. Tak mau menyerah dong.
"Masssss."
"Apa sayang, mau sekarang?" Tunggu dong, gam sabaran banget."
"Dih siappa juga yang mau sekarang."
"Maunya habis acara ini? Oke deh."
"Apaan sih."
"Malu ya? Udaah sering kali, kenapa masih merona?" tanya Alan sambil mengelus pipi merah jambu sang istri. Menatapnya dengan tatapan memuja.
"Tahu gak apa yang aku pikirkan tadi saat masuk ke sini?" tanya Nadya sambil memegang tangan Alan. Mata keduanya saling menatap, mengisyaratkan betapa dalamnya cinta yang mereka rasa.
"Apa?"
"Aku takut pertemuan keluarga ini sebagai ajang kamu izin untuk menikah lagi." Dan air mata pun menetes di pipi Nadya, sungguh ia takut akan hal itu. Diduakan.
"Hey...hey...kok punya pikiran gitu?" Alan pun gelagapan, melihat air mata yang begitu saja keluar tanpa bisa dicegah. Heran juga, kenapa sang istri punya pikiran seperti itu. Bahkan Alan sendiri gak merasa punya teman cewek.
"Tadi kamu bilang apapun yang aku dengar aku gak boleh sedih, ya aku kepikiran kamu akan poligami, Mas. Ih...kok malah ketawa sih." Nadya semakin kesal karena sang suami tergelak, ia pun mencubit lengan Alan dengan gemas.
"InsyaAllah gak bakal aku duain kamu." Ucap Alan sambil menarik tubuh Nadya dalam pelukannya. "Aku bilang kayak gitu karena aku khawatir kamu bakalan sedih kalau ada pembahasan tentang Anak. Sebelum pulang kantor tadi pun aku sudah mendapat ocehan tentang anak juga, karena berhasil dilangkahi Azriel. Aku dibilang belum terbukti jantan loh."
Nadya memukul dada Alan sambil mengusap air matanya. "Belum terbukti jantaan apaan, aku yang merasakan tiap hari juga."
"Ya kan cuma kamu yang bisa ngerasain, Yang. Duh.....yuk check in aja yuk."
"Massss."
Alan berdiri, tak peduli dengan penolakan Nadya ataupun acara. Ia menarik tangan Nadya begitu saja dan pamit terlebih dulu pada tetua keluarganya termasuk sang mama. Segera melangkah ke resepsionis, memesan kamar untuk memadu kasih dengan istri tercinta.
__ADS_1
Bismillah, semoga kali ini berhasil. Batin Alan.