
Air mata yang tertahan saat mengiringi Naila menuju peristirahatan terakhirnya kini mulai berkurang. Nadya yang sudah cuti hampir seminggu ini sudah terlihat banyak senyum meski wajah sembapnya masih kentara.
Keluarga Alan terus menemani ibu dan Nadya di rumah. Bahkan Mama Shofi ikut tidur di kamar Nadya, sedangkan Ardhan tidur di kamar Naila, sesekali juga Alan ikut menginap. Niatnya menemani Nadya hingga tujuh harinya Naila.
Syukurlah kehadiran Alan dan keluarganya sedikit mengurangi kesedihan mereka, keluarga besannya sangat perhatian dan ikut kehilangan Naila, terutama Ardhan yang terkadang masih memanggil Sayang secara tiba-tiba, lalu terdiam sebentar dan tersenyum masam kala sadar istrinya telah tiada.
Tak hanya Ardhan, beberapa kali, Nadya masih sesenggukan mengingat adik kesayangannya itu, dan beberapa kali juga Alan yang menghiburnya. Sekedar meledek wajah jeleknya karena menangis ataupun hanya sekedar membelikan gadisnya es krim, tujuannya hanya satu menghiburnya.
Tindakan Alan itu juga menarik perhatian ibu, meski selalu mengingatkan Nadya jaga jarak terhadap Alan, tapi namanya mereka saling cinta dan Alan sering mampir ke rumah tentu kedekatan mereka tak bisa dicegah begitu saja. Bahkan saat Faiq datang, menjenguk Nadya atau ikut tahlil, keberadaannya hanya disambut datar oleh Nadya.
"Temani Faiq, Mbak. Dia di ruang tamu sama Bu Tatik." Ujar Ibu sambil menyerahkan nampan berisi minuman untuk calon besannya.
Nadya hanya menghela nafas pendek, melipat bibirnya yang ingin sekali menolak perintah ibu, namun apa daya sifat penurutnya masih mendominasi dan akhirnya ia mengantarkan minuman itu ke Faiq.
Baru saja akan menuju ruang tamu, Alan yang baru saja datang dan berada di ruang tengah bersama Ardhan menyapanya.
"Buat calon suami ya?" goda Alan meski hatinya perih kala mengucap kalimat itu.
"Katanya sih iya calon suami dan calon mertuaku." Ucap Nadya dengan melempar senyum tipis pada Alan. Gadis itu tahu, bos gantengnya sedang cemburu.
"Sini aku bawain." Pinta Alan yang semakin mendekat.
"Jangan, Mbak Nad. Ntar diracun tuh sama Mas Alan." Cibir Ardhan yang hanya ditanggapi decakan sebal oleh Alan. Nadya hanya tersenyum tipis lalu mengantarkan minuman itu pada Faiq dan Bu Tatik. Meski kurang nyaman dengan tatapan Faiq, tetap saja Nadya berusaha ramah. Jangan lupakan Alan yang diam-diam mengintip di bali tembok pemisah.
"Pak bos hobi banget ngintip!" tegur Ibu Nadya sembari menepuk pundak Alan disertai senyum.
Alan pun mengekor Ibu dengan gelagat manja, seolah dirinya anak kandung, bahkan dengan Mama Shofi rasa-rasanya tak pernah seperti itu.
"Gak rela bu, pacar aku dikhitbah orang." Kelakarnya yang mendapat pelototan tajam dari mama Shofi.
"Makanya move on, cari cewek sana, masa CEO gak bisa tebar pesona." Ledek Mama Shofi yang masih betah berbalas pesan dengan teman sosialitanya perihal meninggalnya Naila.
__ADS_1
"Maunya sama Nadya."
"Maksa."
Ibu Nadya hanya tersenyum kecut, beliau mengingat ucapan terakhir Naila bahwa sang kakak terpaksa menerima perjodohan ini. Bahkan beliau melihat tatapan penuh cinta jika Alan dan Nadya saling pandang.
Astaghfirullah, Salahkah hamba memaksa Nadya untuk menerima perjodohan ini?
"Bu, Bu Tatik mau ngomong sama ibu!" Nadya membuyarkan lamunan ibunya. Beliau menepuk pundak Alan sekali lagi, "Kalau jodoh gak akan ke mana, sabar ya." Begitu saja pesan beliau pada Alan, dan Alan yakin ucapan beliau akan terkabul.
Di ruang tamu....
Obrolan ala Bu Tatik dan Ibu mengalir begitu saja, tak membahas lamaran Faiq yang batal jumat kemarin. Tak mungkin juga lamaran dalam keadaan duka.
"Maaf lo, Bu. Saya mau tanya, kira-kira kapan lamaran Faiq dan Nadya?" tanya Bu Tatik dengan sangat hati-hati.
Ibu yang sedari tadi tertawa tiba-tiba tersenyum masam, melirik Nadya sebentar lalu menghela nafas berat. Tak lupa menggenggam erat tangan Nadya.
"Sebelumnya saya minta maaf pada Bu Tatik dan Nak Faiq. Saya memegang kepercayaan saat keluarga inti berduka maka tidak dianjurkan untuk menyelenggarakan pernikahan hingga haulnya."
"Loh...kok gitu, Bu?" tanya Bu Tatik, kaget juga.
"Padahal saya berencana lamaran langsung ijaban, Bu. Karena saya akan membawa Nadya langsung ke Sudan, meneruskan S3 saya." Jelas Faiq dengan raut kecewa.
"Saya juga tidak menyangka akan hal ini, saya mohon maaf sekali lagi."
Nadya hanya menatap wajah sang ibu, apa yang sebenarnya beliau inginkan. Kalau seperti ini beliau sama halnya menggantung khitbah Nadya. Please, iya atau tidak. Jangan digantung selama satu tahun. Nadya gak betah, Bu. Batin Nadya meronta.
"Kalau menurut kamu gimana, Nad. Bisa menunggu satu tahun?" tanya Bu Tatik. Satu tahun lama juga loh, Faiq juga akan berangkat dua bulan lagi. Iya kalau satu tahun nanti Faiq bisa pulang, kalau enggak?
"Jawab aja sesuai hatimu, Mbak. Ibu gak akan memaksa." Lirih Ibu sambil menepuk tangan Ibu.
__ADS_1
Nadya mengangguk, menatap wajah Faiq dan Bu Tatik dengan percaya diri. Kesempatan inilah yang ia tunggu, speak up.
"Maaf, Bu Tatik dan Mas Faiq. Saya akan bicara sesuai dengan hati saya. Jujur, Mas Faiq adalah suami idaman, hanya saja saya belum memiliki ketertarikan pada Mas Faiq. Saya masih menyukai orang lain, dan saya memang berharap dengan orang tersebut untuk membina rumah tangga."
Faiq tersenyum, ia mengangguk saja. Memang dia bersikap sangat dewasa, terlihat sekali kalau dia legowo atas ucapan Nadya barusan.
"Loh kok gitu?" Bu Tatik terheran dengan jawaban Nadya.
"Gak pa-pa, Nad. Terimakasih sudah jujur, saya memaklumi perasaan Nadya. Memang kita terkesan memaksakan perjodohan ini Ma, Bu. Gak baik juga untuk ke depannya. Saya sudah memikirkan sebaiknya memang kita lebih baik berteman saja. Saya sebenarnya tahu perasaan Nadya sebenarnya, masih ada nama laki-laki lain di hatinya. Saya pun sebagai lelaki dewasa tentu cemburu, calon istri saya masih berpikir laki-laki lain, oleh sebab itu alangkah baiknya kuta berteman saja."
"Kamu ini gimana sih, Faiq." Protes Bu Tatik.
"Tenang, Ma. Mungkin jodoh Faiq bukan Nadya. Kalau memang dia jodoh Faiq, harusnya lamaran kemarin terjadi, tapi nyatanya qadarullah ada musibah. Faiq sadar, Ma, ada rencana lain di balik peristiwa ini."
"Kamu tuh sok ceramahin mama."
Faiq hanya tersenyum menanggapi ocehan mama. Dia sebagai orang yang berilmu tentu sangat mengerti adab pernikahan. Ia tak mau memaksakan. Prinsip Faiq menikah harus suka sama suka, rela dan ikhlas menerima baik buruknya pasangan, karena pernikahan adalah ibadah terlama. Sedangkan Nadya, sepertinya sangat sulit move on dari Alan.
"Mama, Ibu hari ini saya membatalkan khitbah saya pada Nadya, putri ibu. Semoga keluarga saya dan keluarga ibu tetap menjaga silaturrahmi, dan saya harap saya segera menemukan wanita yang mencintai saya layaknya Nadya mencintai Pak Alan."
Nadya tersenyum lalu menunduk, lega rasanya malam ini. Sungguh ganjalan hati ini telah terbebas. Hubungan yang diawali dengan terpaksa memang sangat tak nyaman. Mau mendekat tapi hati masih terpatri orang lain, mau cuek nyatanya ada khitbah yang membelenggu.
*Alhamdulillah
Semoga ada jalan untukku dan Mas Alan*.
"Terimakasih Mas Faiq, insyaAllah Mas Faiq juga mendapat perempuan yang sholehah, aamiin. Selamat sukses menjadi doktor. Bu Tatik saya mohon maaf sebesar-besarnya belum bisa menerima putra Anda yang sholeh ini."
"Iya, gak pa-pa. Kalau Faiq maunya begitu, saya bisa apa." Ucap Beliau jutek.
"Jangan lupa undangannya ya, Nad. Aku tunggu." Ujar Faiq dengan tersenyum ikhlas.
__ADS_1
"InsyaAllah."
"Setahun lagi." Sahut Ibu yang langsung melunturkan senyum Nadya.