SULUNG

SULUNG
SISI LAIN NADYA


__ADS_3

MAAF BANGET DI BAB SEBELUMNYA BANYAK TYPO BERTEBARAN......


*********


Setelah pembagian reward, Alan pun diberi kesempatan untuk memberi sambutan pagi ini. Terlebih kasak kasuk kepulangan mereka lebih awal, perlu ada penjelasan resmi dari atasan mereka.


"Pagi semua!" sapa Alan dengan begitu ramah, menampilkan senyum termanisnya, sungguh tampan.


"Pagi!" jawab mereka kompak. Antusias sekali menjawab sapaan Alan, terutama kaum hawa. Vitamin pagi yang menyegarkan mata. Banyak lope-lope bertebaran di mata kaum hawa penganggum Alan, sedangkan calon Nyonya Alan hanya diam, menunjukkan wajah datarnya saja.


"Pesona laki lo, Nad. Ciamik." Cicit Ersa yang tak lepas memandang wajah Alan.


"Bilang Alan laki gue, tapi Mbak Ersa menatapnya dengan penuh cinta, cih...." Nadya mencibir rekan seniornya.


"Rizeki mata, Nad. Rugi ditolak." Sahut Ersa tanpa menatap Nadya dan fokus pada Alan saja. Di depan sana, Alan meminta maaf karena memangkas acara gathering ini karena sesuatu hal. Begitu bijaksana hingga tak menyebut secara gamblang alasan dibalik perubahan acara ini.


"Eh...siapa sih emang yang berbuat mesum?" Imel memancing Nadya agar menceritakan apa yang terjadi. Pasalnya, ia dan Alan kemarin bersama, pasti tau lah siapa yang berbuat mesum.


"Lo tahu, Nad?" tanya Cindy dengan memicingkan matanya.


"Cerita gak ya, gue khawatir kalian bocor nih, siaran ke mana-mana, sedangkan Pak Alan aja berniat keep kejadian itu." Nadya juga tak mau membongkar kalau respon Alan seperti ini. "Gue tanya Pak Alan dulu aja ya."


"Ya elah, Nad. Buat kita doang deh." Pinta Ersa dengan memohon, meski ia tadi sempat mendengar omelan Nadya pada Tiwi, hanya saja kan masih abu-abu, belum pasti.


"Berani bayar berapa kalian buat berita itu?" tantang Nadya sambil senyum smirk.


"Makan di matjeo grill gue traktir senin besok." Usul Cindy, gadia kaya nan royal.


"Yang lain?" Nadya menoleh pada beberapa rekan untuk memberikan traktirannya.


"Kan udah diwakili Cindy." Ersa berseloroh, senior yang tak mau rugi.


"Oke, berarti cuma Cindy doang yang aku kasih tahu."


"Yah, Nad. Kok lo gitu sih, kasih tahu aja kenapa sih." Protes Ersa yang menepuk lengan Nadya gemas, sedangkan si Nadya hanya tertawa ngakak berhasil mengerjai Ersa, terlebih seniornya itu cocok sebagai MC infotainment.


"Udah ah, gue gak mau cerita, gue keep aja."


"Ya Allah, kalau menonjok orang gak berdosa, boleh gak sih Nadya ditonjok." Keluh Cindy gemas, merasa di PHP Nadya.


Setelah acara reward, mereka kembali ke kamar masing-masing, packing untuk balik ke Jakarta. Bus pariwisata yang disewa pun sudah datang, satu per satu peserta gathering memasuki bus.


"Iya?" sapa Nadya mengangkat panggilan Alan, disambi dengan packing.


"Pulang bareng aku ya?" ajak Alan tiba-tiba.


"Aku bareng anak lain aja, Mas. Gak enak berdua terus sama kamu."


"Ck....ayolah sayang, kangen nih."


"Dih, tadi malam ampe tengah malam juga. Hati-hati naik mobilnya, sama Pak Rilo kan?"


"Sendiri, Rilo bawa mobil sendiri."


"Ya udah hati-hati gak boleh ngantuk."


"Gimana gak ngantuk, baru tidur habis shubuh."


"Ck...gak usah bohong deh."


"Ngapain aku bohong si, habis vc kamu aku ma nyidang mereka."


"Nad, ces kamu jangan lupa!" teriak Ersa yang sudah mau keluar. Memotong obrolan Nadya-Alan.


"Mbak Ersa aku cariin bangku." Nadya mengabaikan Alan sebentar.


"Sayang, bareng aku aja." Protes Alan.

__ADS_1


"Mas, kupingku tuh panas dengar omongan penggemar kamu, udah ah."


"Sejak kapan kamu peduli omongan orang."


"Sejak dikatai murahan sama mereka."


"Udah ah, pokoknya kamu ikut aku."


Tut. Alan menutup panggilannya, ia sengaja menunggu Nadya turun di ruang tamu villa sembari membalas sapaan karyawan.


"Pemaksa." Cicit Nadya ketika melewati ruang tamu Villa.


"Sini koper kamu." Alan menarik koper Nadya dan menariknya, keluar Vila menuju mobilnya. Terpaksa Nadya mengikuti langkah Alan meski kesal setengah mati.


"Aku pamit ke anak-anak dulu deh."


"Lewat telpon bisa kan sayang gak usah ke sana, lagian tadi aku juga sudah bilang ke teman kamu kalau kamu aku yang antar."


Nadya tak menggubris, ia menelpon Ersa saja, gak enak kalau belum berpamitan langsung.


"Mbak aku diajak Mas Alan naik mobil." Ucap Nadya ketika sambungan dengan Ersa dijawab.


"Oke, ati-ati, Nad."


"Mbak gak mau nolongin aku?"


"Maksudnya?"


"Aku mau naik bus aja, gak suka berduan dengan Mas Alan, malas banget dijadikan bahan gosip."


"Tak gantiin boleh??" Ersa menawarkan sambil cekikikan.


"Boleh."


"Ya tapi Pak Alan yang gak mau sama gue. Udah gak pa-pa, bareng aja sama Pak Alan, lagian emang dia pacar lo, gak mungkin juga membiarkan lo naik bus."


"Ayo sayang." Alan mengajak Nadya agar segera masuk mobil, karena bus sudah mulai berjalan, dan Nadya pun mengakhiri obrolannya dengan Ersa.


"Gak usah cemberut gitu, nanti kalau udah sah juga tiap hari sama aku."


"Iya kalau statusnya istri, ini masih pacar. Belum muhrim juga." Sinis Nadya masih dengan nada kesal.


"Makanya ayo nikah."


"Tunggu restu dari Ibu ya, aku mau kok nikah sama kamu, Mas."


Alan hanya tersenyum, ia mengelus puncak kepala Nadya yang terlapisi hijab, setiap berdoa selalu terselip didekatkan jodoh dengan Nadya. Rasanya, Alan sudah tidak mau melirik perempuan lain, baginya wanita idamannya ya Nadya itu.


"Teman satu devisi kepo nih, masalah yang tadi malam." Nadya ingin tahu alasan Alan menjaga rahasia itu. Kalau dilihat dari karakter Alan tiap hari, siapa yang melanggar aturannya akan dimaki seenak jidatnya. Tapi ini....case closed coba. Aneh.


"Emang kamu gak cerita?"


Nadya menggeleng. "Kamu aja keep, kenapa juga gue yang harus nge-blow up."


"Ya udah sih, case closed aja."


Nadya mengangguk, semakin terpesona saja Nadya pada sikap Alan, begitu dewasa memilih masalah apa yang harus dipérpanjang atau tidak.


"Harusnya aku blow up sih, cuma karena ada aturan SP 1 ya udah gak usah diperpanjang lagi."


"Saat kamu sidang mereka, gimana?"


"Aku cuma minta mereka menjelaskan apa yang terjadi, gitu dong."


"Terus?" Nadya makin penasaran hingga mengerutkan dahi.


"Kenapa sih antusias banget?" Alan tersenyum kecil, melihat Nadya yang menatapnya lekat sembari menunggu penjelasannya. Bahkan Nadya sampai menghadap Alan, menopang dagu dengan kedua tangannya, imut sekali. Menggemaskan, hingga Alan pun mengusap kepala gadis kesayangannya itu.

__ADS_1


"Ayo cepetan ah, cerita. Jangan pegang-pegang terus." Ucap Nadya sambil menepis tangan Alan.


"Nanti kalau udah nikah, gak boleh loh menepis kayak gitu."


"Iya paham."


"Nikah tuh gampang banget cari pahala, dengan kamu tersenyum sama suami aja pahalanya besar banget."


Nadya mendengus kesal, malah ceramah lagi. "Iya tahu. Aku mau dengar cerita yang tadi malam."


"Ya mereka ciuman, kan kamu juga lihat sama *****-*****."


"Trus?"


"Ya aku sidang aja, mereka pun cerita versi Ihsan dan Niken."


Nadya mengangguk saja, tentu Alan melakukan introgasi pada keduanya agar tidak ada kebohongam dan menjatuhkan satu sama lain. Mereka berbuat suka sama suka, dan cerita yang disampaikan pun sama.


"Mereka pacaran?" tanya Nadya yang mendapat gelengan kepala dari Alan. "Kok bisa?" lanjut Nadya heran.


"Ya mereka bilangnya gak pacaran, malah Niken sudah punya calon suami."


"Lah terus, mereka melakukannya atas dasar apa?"


"Pernah dengar istilah one night stand?"


"Pernah, tapi kan kalau one night stand menjurus ke gituan."


"Gituan apa?" Alan berniat menggoda Nadya, ingin tahu saja sejauh apa Nadya tahu hubungan dengan lawan jenis.


Bugh


Nadya menabok lengan Alan sampai bos ganteng itu terkekeh. "Aku kan polos sayang. Gak tahu lah, gituan yang kamu maksud."


"Bohong banget tuan."


"Ya kan mereka kalau gak aku stop berlanjut lah."


"Sumpah?"


"Mungkin. Kemeja si cewek udah melorot kan."


Nadya memicingkan mata curiga, "Kamu lihatin ya, udah ternoda dong mata kamu."


Alan semakin tertawa terbahak, mungkinkah Nadya cemburu?


"Gelap sayang, kan aku cuma lihat dia gelagapan ngancingin baju."


"Kok aku nyium kebohongan ya?"


"Astaghfirullah, enggak, aku gak lihat beneran. Lagian kalau lihat gak ***** juga."


"Kenapa?"


"Udah dipegang Ihsan, dapat sisa dong."


Giliran Nadya yang tertawa ngakak, bahasa absurd Alan cukup menggelikan.


"Eh tapi kamu dekat dengan Ihsan gak pernah dipegang dia, kan?" todong Alan, spontan saja Nadya menabok lengannya lagi, lebih keras juga.


"Sembarangan kalau ngomong."


"Ya aku khawatir aja, dia kayaknya ngebet banget sama kamu."


"Ya gimana ya, orang cantik gitu."


Alan kembali tertawa, gemes dengan sikap Nadya yang sok kecantikan gini. Padahal selama mengenalnya, Nadya termasuk sosok kalem, eh ternyata punya sisi lain....senewen.

__ADS_1


__ADS_2