SULUNG

SULUNG
MENCARI SOLUSI


__ADS_3

Semalaman mengabaikan pesan dan panggilan telepon atau video dari Nadya, membuat Alan semakin uring-uringan saja. Ia memilih menginap di apartemen Rilo dengan mengoceh tak jelas, lalu di akhir acara ia menangis sesenggukan. Tak siap kalau berpisah dengan Nadya secepat ini. Hatinya yang mulai terbuka dengan kehadiran perempuan dalam hidupnya mau tak mau harus merasakan terseok-seok kembali entah kapan itu.


Alan yakin dengan sikap Nadya selama ini, gadis itu akan menomorsatukan kebahagiaan sang adik ketimbang kepentingannya terlebih urusan cinta.


Pagi itu Alan sengaja pergi ke rumah Nadya, ia sudah berada di mobil di dekat gerbang perumahan Nadya. Setelah melihat Nadya keluar dengan motor maticnya ia pun melajukan mobil ke rumah Nadya. Ia hanya menghembuskan nafas kasar, mobil Ardhan sudah bertengger di depan pagar rumah, pasti mau ngapel pagi dengan Naila.


"Assalamualaikum!" ucap Alan agak keras, padahal pintu rumah masih terbuka.


"Waalaikumsalam, loh Nak Alan, Nadya udah berangkat barusan!" ucap Ibu kaget, meski Nadya berniat putus dengan Alan, tetap saja wanita itu masih menganggap Alan sebagai calon mantuable bagi Nadya.


"Alan mau ketemu Ibu!" ucapnya sambil mencium tangan calon mertuanya itu, eh beneran calon kan?


"Ayo masuk, Ada Rafly juga di meja makan, Nak Alan sudah sarapan?" tanya beliau ramah.


Ck, malah udah sarapan juga tuh anak, heran, biasanya Mama juga tiap hari menyediakan sarapan, kenapa dia harus numpang di mertua gue, menyebalkan. Gerutu Alan dalam hati.


Mereka pun duduk bersama, terpaksa Naila harus bolos kuliah demi kejelasan hubungan mereka. Toh hari ini cuma satu mata kuliah saja di pagi, dan dua mata kuliah siang-sore.


"Jadi begini ya Nak Alan dan Nak Rafly, ibu dan Nadya sudah sempat berdiskusi, bahkan Naila pun juga sudah berdiskusi dengan Nadya, Ibu memang tidak merestui kalau kalian menikah dengan pasangan masing-masing, Nadya dan Naila saudara kandung, sedangkan Alan dan Rafly juga saudara kandung. Pernikahan yang bisa terjadi seperti ini pamali, jadi ibu mohon dengan kalian, jangan pernah egois untuk masa depan, ibu khawatir salah satu kehidupan rumah tangga kalian ada yang menderita, ibu gak mau itu terjadi."

__ADS_1


Beliau pun menangis, Naila juga. Alan hanya diam, sedangkan Rafly hidungnya juga kembang kempis menahan gemuruh dalam dadanya, akankah dirinya yang mengalah, karena selama ini dalam keluarganya, kepentingan Alan selalu dikorbankan. Sampai saat inipun Rafly bisa mewujudkan cita-citanya tapi sang kakak justru harus mengubur cita-citanya. Astaghfirullah, rumit.


"Kamu gimana, Nai?" tanya ibu meminta pemikiran Naila akan hubungannya, karena ibu sudah tahu gelagat Nadya akan mengambil keputusan apa.


"Naila mundur kalau Mbak Nadya juga mundur, Bu!"


Alan dan Rafly langsung mendelik.


"Naila tidak bisa menikah di atas penderitaan Mbak Nadya, sudah cukup Naila merepotkan hidup Mbak Nadya. Naila sadar baru kali ini Mbak Nadya cinta sama cowok dan itu Pak Alan. Naila akan merasa bersalah seumur hidup kalau Naila sampai menikah sedangkan Mbak Nadya memilih putus."


"Kalau Nak Rafly bagaimana?" tanya Ibu.


"Mas Alan selama ini juga banyak berkorban demi keluarga, hanya saja untuk pernikahan ini kami berharap bisa menikah dengan pasangan masing-masing,Bu. Saya juga sudah sangat nyaman dengan Naila."


Ibu hanya diam, tahu sekali kalau Alan dan Nadya sudah sangat siap untuk membina rumah tangga, setiap Alan datang, Ibu mengamati betapa pemuda itu menyayangi si sulung.


"Tolong salah satu mengalah saja ya, ibu gak bisa memberi restu, karena itu pamali bagi ibu. Ibu gak mau anak kesayangan ibu menderita."


"Bu...itu hanya pemikiran ibu saja, selagi di agama boleh, ya sudah!" Naila ngotot. Ketimbang Nadya, cara protes Naila lebih frontal.

__ADS_1


"Kalau gitu kamu saja, Nai yang mengalah, biarkan Mbakmu yang menikah dengan Alan." Ibu emosi juga. "Kamu tuh gak pernah nurut ibu, setidaknya kamu seperti Nadya gituloh, selalu nurut sama ibu."


Deg


Alan langsung tertunduk lesu, apa yang ia pikirkan memang benar, Nadya lebih memilih mundur. Hufh....padahal Nadya belum deal memutuskan Alan, ia pasti akan berdiskusi lebih dulu dengan Alan, hanya saja Alan sudah memaknai kalimat Ibu ..Nadya selalu nurut sama beliau. Fix, Nadya ingin putus.


'Oke, kalau itu maumu, Nad. Anggap saja kita sudah putus. Aku tidak akan memperjuangkan hubungan kita, karena kamu sendiri sudah ada niatan untuk menomorsatukan kebahagiaan Naila ketimbang kebahagiaan kita.' Batin Alan pun ikut menyerah.


Alan termasuk pemuda yang tak mau memperjuangkan perasaan, baginya ya sudah kalau salah satu pihak sudah berkhianat atau tidak mau berhubungan dengannya, gak penting dipaksa. Mungkin memang lebih baik ia sakit sekarang daripada ia masih memaksa berhubungan dengan Nadya, tapi ujung-ujungnya ia tak jadi menikah, wasting time sekali.


"Jadi Nadya sudah berniat ingin mengakhiri hubungan kami?" Alan memastikan pada Ibu dan Naila, dan semakin memantapkan hati Alan, ibu dan Naila mengangguk.


"Tapi belum pasti, Pak Alan." Lanjut Naila kemudian.


Alan hanya tersenyum getir, "Sepertinya Naila saja, Bu yang Anda restui, kami memang lebih baik putus sampai di sini, karena kami sudah terbiasa berkorban untuk keluarga."


"Mas!" tegur Rafly yang tak setuju kakaknya mengambil keputusan itu saat ini, karena Nadya pun tidak ada.


Namun Alan hanya tersenyum tipis, seolah mengatakan dirinya tidak apa-apa akan keputusan itu.

__ADS_1


"Tapi sebaiknya Nak Alan bicara juga dengan Nadya!" pinta Ibu, berat sekali beliau melepas Alan, dalam hati beliau, beliau sangat merestui Nadya - Alan.


"Insyaallah, Bu!" ucap Alan, beberapa menit kemudian pun Alan berpamitan, meninggalkan ketiga orang yang masih bingung dengan kondisi rumit ini.


__ADS_2