
Kehamilan Nadya sudah memasuki Minggu ke -38 ...kurang dua minggu lagi ia akan berganti status menjadi seorang ibu. Tak banyak yang berubah selama kehamilan Nadya. Tak juga ngidam aneh, hanya saja moodnya yang bak rollercoaster di awal kehamilan membuat Alan kalang kabut. Tak ada apa-apa mewek, namun Alan menghadapinya dengan sabar. Pun dengan nafsu makannya mulai meningkat sejak awal trimester kedua.
Berat badan yang semula tidak naik sama sekali bahkan cenderung turun meningkat pesat di bulan ke- 5 menuju 6, naik 10 kg langsung. Kini tubuh langsing Nadya membengkak, bahkan pipinya yang semakin bulat selalu menjadi bahan mainan sang suami sebelum tidur. Beberapa titik tubuh Nadya juga tambah berubah ukuran, di mata Alan dia semakin seksi.
Bahkan Alan sering sekali cemburu lantaran Nadya kelewat mempesona dengan pakaian kerjanya, hanya menggunakan baggy pants ibu hamil dan blouse serta jilbab segi empat begitu saja pesonanya luar biasa. Tak jarang Rilo, Erick, Endru pun memuji wajah ayu Nadya saat ini. Kata mereka cantiknya Nadya beda dengan sebelum hamil.
Lebih konyol lagi, setiap kondangan pun Alan akan menggandeng Nadya erat, terlihat sangat posesif menunjukkan pada umum bahwa Nadya adalah wanitanya. Temannya pun menjuluki Alan bucin.
Pengalaman selama hamil ini, Nadya gak seberapa unik. Tak ada ngidam aneh-aneh, hanya satu kebiasaan yang tak bisa dinalar oleh Alan. Nadya yang dulunya anak rumahan, keluar hanya untuk kerja, tapi sejakl 6 bulan menjadi pribadi yang sangat berbeda. Nadya pengen jalan-jalan terus. Hampir setiap hari, sepulang kerja atau saat makan siang dia jalan-jalan ke mall dan beli Lekker. Yassalammm....jauh-jauh ke mall hanya beli jajanan receh itu. Alan hanya bisa geleng-geleng kalau tak dituruti bisa mewek. Uniknya hanya Lekker dengan rasa cokelat pisang yang diminati Nadya.
Kini, pengalaman unik Nadya saat hamil akan menjadi kenangan. Sejak dua hari lalu, ia sudah resign. Mempersiapkan diri menjelang kelahiran. Selain itu, sesuai janjinya pada Alan, akan resign kalau sudah punya anak. Nadya akan fokus menjadi ibu rumah tangga.
"Mau bubur ayam?" tanya Alan saat menemani jalan pagi Nadya di sekitar kompleks perumahan. Memang kompleks sultan, ada taman perumahan yang menyediakan berbagai menu sarapan, mini pujasera atau mini food court lah. Di tambah bangku dan rumput yang masih berembun sangat asri dan menyejukkan jiwa.
"Mau." Ucap Nadya dengan meringis. Sudah beberapa hari ini sering kram perutnya. Kalau kata ibu sih sudah otw lahiran, makanya diminta banyak jalan.
"Duduk sini, biar aku yang pesan. Sama teh hangat kan?"
"Iya, pakai sate puyuh juga ya."
Alan mengangguk dan mulai mengantri pada penjual bubur ayam. Beruntung dirinya sendiri yang cowok, ibu-ibu pun dengan suka rela mendahulukan pesanan Alan.
"Cepet banget, Mas?" tanya Nadya saat Alan sudah membawa nampan berisi dua mangkok bubur ayam dan dua gelas teh hangat beserta topping dan kerupuknya.
"Rizeki orang ganteng, emak-emak mengalah."
__ADS_1
"Iya sih, wajah kamu ini vitamin pagi bagi emak-emak."
Cup
Alan mencium bibir sang istri sekilas, "Vitamin buat kamu doang." Ujarnya sebelum Nadya kesal dan cemburu. Keduanya pun makan dengan tenang, tapi begitu Nadya akan minum tehnya, tiba-tiba meringis. Alan pun melihatnya.
"Kenapa? kram lagi?" tanya Alan khawatir, dan dijawab dengan anggukan.
"Tarik nafas dulu sayang," Alan sebisa mungkin harus tenang. Mama dan Ibu selalu berpesan ia gak boleh gugup dan harus santai, agar Nadya tak panik. Ini adalah pengalaman pertama bagi mereka, wajar Alan pun masih tidak bisa mengontrol rasa khawatirnya. " Ayo minum dulu." Alan pun membantu Nadya minum teh lalu mengembalikan mangkok buburnya.
Beruntung Nadya masih bisa jalan, dan sudah tidak sakit lagi. Tiba di ruang tamu, Nadya langsung duduk, mengelus perutnya dan membuang nafas. Alan menyodorkan air putih dan mengelap keringat Nadya.
"Ke rumah sakit sekarang?"
"Ya nanti langsung booking tempat aja kalau masih lama kontraksinya, daripada di rumah aku gak tahu apa-apa sayang, mana mama lagi keluar kota. Ibu juga masih pulang kampung. Ya?" bujuk Alan karena sebenarnya dirinya juga deg-degan, takut ada apa-apa dengan sang istri.
"Ya udah aku mandi dulu."
"Aku bantu."
Nadya terdiam, menatap tajam sang suami dengan pikiran mesumnya. "Astaghfirullah, aku gak bakal ajak kamu main sayang, keadaan kamu kayak gini juga." Ucap Alan sambil terkekeh geli. Wajar saja sang istri waspada, dirinya selalu memanfaatkan bathtub untuk memakan sang istri, hehe.
Alan menggendong sang istri ala bridal style ke kamar tamu, lalu mengambil baju Nadya di kamar atas. Dilanjutkan mengisi bathtub dengan air hangat, dan sabun beserta aroma terapi. Nadya dimasukkan ke dalam bak mandi dengan hati-hati, wajah Nadya tak lepas menatap sang suami dengan menahan tawa. Kilatan gairah ada di wajah Alan, mungkin dia menahan sekuat mungkin agar tidak menerkam sang istri.
"Pengen ya?" Goda Nadya dengan tertawa jahil.
__ADS_1
"Sayaaaangggg." Rengek Alan dengan manja, Nadya pun tahu Alan mau apa, ia pun berinisiatif untuk mencium dan memenuhi hak sang suami dengan cara lain.
Kegiatan di kamar mandi selama setengah jam itu pun berakhir, Nadya tampak segar tapi masih menahan sakit. Alan sudah tak mau dibantah, selepas dhuhur keduanya ke rumah sakit. Nadya diperiksa, ternyata sudah pembukaan dua. Di kamar VVIP Alan ditemani salah satu ART dan Ersa agar Nadya tak stres menghadapi persalinan. Meski kontraksi sudah mulai terasa lebih sering, Nadya masih bisa tahan. Bahkan bisa tertawa terbahak dengan Ersa.
Alan masih bisa mengerjakan beberapa pekerjaan bersama Rilo yang juga ada di kamar itu. Bidan pun beberapa kali mengecek kondisi Nadya dan masih pembukaan tiga. Nadya pun diajak jalan oleh Alan sekedar ke kantin rumah sakit. Sampai menjelang tidur, pembukaan hanya naik satu tingkat. Nadya berusaha menahan sakitnya kontraksi dan memilih rebahan di ranjang saja.
"Ayo tidur, aku peluk deh." Alan pun naik ke atas ranjang pasien, karena badannya juga cukup lelah. Alan pun terlelap lebih dulu. Baru setengah jam tidur. Lengan Alan dicengkeram Nadya, ia tersentak begitu saja.
"Mas sakit."
"Sakit?" Alan memastikan, ia juga masih mengumpulkan nyawa juga.
"Massss."
Alan segera memeluk, dan menekan tombol perawat. Ia mengelus punggung Nadya. Membisikkan kalimat thayyibah, agar Nadya tenang. Sangat tidak tega melihat Nadya meringis kesakitan seperti ini. Bahkan Alan pun ikut menangis. Tak ada mama dan Ibu, Alan pun harus kuat demi Nadya.
"Kita ke ruang bersalin ya." Ujar seorang bidan.
Alan segera menghubungi sang mama, Rilo, Ibu dan Ardhan. Dia butuh teman, sekedar memberikan support. Tak lama ruang bersalin terbuka, Alan diminta masuk.
Sungguh tidak tega, Nadya menahan sakit seperti itu. Sang istri tidak boleh teriak untuk menghemat tenaga saat mengejan nanti. Alan pasrah, ia mendekatkan tubuhnya untuk pegangan Nadya.
Tepat jam 11 malam, suara bayi terdengar begitu keras. Alhamdulillah jagoan Alan sudah lahir. Laki-laki dengan berat 3680 gram dengan panjang 51 cm. Nadya tersenyum lemah, Alan menangis haru. Lengkap sudah keluarga kecil mereka.
"Terimakasih sayang." Ucap Alan sambil mencium kening Nadya lama, sedangkan si baby sedang IMD. "I love you." Bisiknya lagi.
__ADS_1