SULUNG

SULUNG
HASUTAN


__ADS_3

Bali.......


Keluarga Alan sekaligus ibu mertuanya ikut terbang menuju Bali, berlibur sekaligus menghadiri pernikahan sepupu Alan yang bernama, Azriel. Pria tak kalah tampan seusia Ardhan. Pulau Dewata dipilih Azriel melangsungkan pernikahan outdoor bertema pantai. Memang keluarga kaya ya, dekorasinya simple nan elegan, nuansa pantai dan cerahnya matahari turut serta mendukung betapa apiknya pernikahan ini.


Acara akad pun berlangsung sangat sakral, sang pengantin wanita pun begitu cantik serta mempesona. Bahkan Nadya sempat meneteskan air mata, tatkala perwakilan keluarga mempelai wanita memberikan sambutan.


"Mau nambah di sini beberapa hari lagi?" tanya Alan pada Nadya yang sejak sampai di Bali terus menyunggingkan senyum.


"Duh...pengennya, boleh deh tapi gimana kantor?" seperti itulah Nadya. Ia tak mau lepas tanggung jawab meskipun sudah menjadi istri bos.


"Lo tuh istrinya bos, santai aja kenapi sih sama kerjaan. Dikasih honeymoon kok nolak, biar cepet tuh punya momongan. Gak kerja mulu. Soalnya nih keluarga Alan tuh cepet-cepet kalau punya anak." Cerocos Meysa.


Deg


Nadya langsung mematung. Anak? Iya memang di usia pernikahannya dengan Alan yang keenam bulan, belum ada tanda-tanda kehamilan. Kalau dipikir, Naila juga dulu cepat hamil.


"Bisa gak sih, kamu kalau gabung sama kita gak usah nyerang Nadya terus. Aku udah hormati kamu ya Mey, jangan sampai kesabaranku habis buat kamu." Alan cukup tegas, ia sudah tak peduli siapa Meysa. Ucapan Meysa barusan sangat sensitif bagi Nadya, karena setiap mendapat tamu bulanannya Nadya selalu menangis, dan Alan mati-matian untuk menenangkannya. Tapi lihatlah sekarang, Meysa begitu lancarnya membahas soal anak, entah apa maksudnya.


"Cuekin aja, Mbak. Sesama perempuan kok saling julid aoal kehamilan. Mungkin dia lupa kalau dulu pernah DP dulu sebelum nikah sama sepupu kita."


Jleb


Tanpa tedeng aling-aling Ardhan berhasil membalik omongan Meysa telak. Kini wanita single parent itu pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun.


"Gak usah sedih, Mbak. Nikmati aja dulu pacaran halal kalian."


y'xý

__ADS_1


"Lagian loh, Yang. Aku juga masih sibuk, bolak balik Malaysia, wajarlah belum jadi. Tingkat kecapekan aku kan tinggi, gak usah khawatir nanti kita cetak yang banyak." Ucapnya sambil memeluk sang istri, mencium pelipis Nadya dengan posesif. Alan juga tak pernah menuntut Nadya hamil langsung atau harus menunggu dulu, yang penting bikin adonan lanjut aja.


Pada dasarnya, anak juga rizeki. Alan sadar saja, saat ini ia belum mampu menemani Nadya secara intens. Dirinya masih bolak balik ke Malaysia. Bahkan untuk berduaan dengan Nadya saja harus menyempatkan waktu, kadang Nadya menyusul ke Malaysia saat weekend. Sungguh sibuk, bukan?


"Mumpung di sini, sekalian honeymoon." Saran Ardhan sebelum meninggalkan keduanya.


Suasana hati Nadya masih berantakan, omongan Meysa cukup mempengaruhi pikirannya. Namanya perempuan, urusan hamil sangat sensitif.


"Udah dong, semakin banyak pikiran negatif makin gak jadi loh. Dibuat santai aja sayang. Toh aku suamimu juga gak nuntut kamu hamil sekarang." Alan masih mengelus kepala sang istri, menenangkan sang istri yang siap meneteskan air mata.


Nadya menoleh, menatap wajah tampan Alan yang tampak sangat sabar menghadapinya. Lelaki yang tak pernah menuntut Nadya menjadi istri yang sempurna. Harusnya dia bersyukur karena suaminya sangat menerima apapun yang ada pada dirinya.


"Makasih." Ucap Nadya sembari memeluk erat sang suami, air mata yang sedari tadi ia tahan luber juga.


"Mau nangis atau jalan-jalan nih?" tanya Alan sembari membalas pelukan erat sang istri. Alan memang sadar, sang istri semakin kurus dan ia jarang memperhatikannya juga. Salahnya dia juga karena terlalu fokus pada pengembangan bisnis di Malaysia.


Setelah rangkaian acara pernikahan Azriel usai, sebagian besar keluarga memilih jalan-jalan di sekitar pantai atau membeli oleh-oleh. Begitu juga Nadya. Ia dan Alan memisah dari rombongan, menikmati pacaran halal ala mereka.


Singgah di cafe, menikmati es krim dan alunan musik clasic, keduanya duduk berhadapan bertautan tangan. Senyum keduanya tak pernah pudar. Benar- benar pasangan yang sedang diliputi kebahagiaan. Sejenak melupakan masalah anak yang tak kunjung hadir.


Suasana berbeda di toko manik-manik. Mama Shofi bersama Meysa dan ibu mertuanya serta Cece dan pengasuhnya sedang memilih berbagau jenis kerajinan tangan. Ardhan dan Iby Nadya lebih memilih ke tukang pijat refleksi.


"Cantiknya Cece." Puji Mama Shofi saat Meysa mencoba mahkota dari batok kelapa di kepala Cece.


"Tante kebelet punya cucu ya?" goda Meysa, sengaja memang mencari topik yang bersinggungan tentang pernikahan Alan.


"Iya nih, si Alan belum gool. Harus kerja keras lagi nih." Mama Shofi pun membalas ala kadarnya dan masih menganggap biasa.

__ADS_1


"Ganti menantu aja, Tante, biar cepat punya cucu." Nah....Meysa memantik api. Senyum Mama Shofi seketika menciut. Dipandangnya Meysa dengan tatapan sinis. Pasti Nadya yang disindir Meysa.


"Iya bakalan nambah mantu lah, tapi nanti. Ardhan belum mau katanya." Mama Shofi berkelit.


"Eh kok Ardhan, ya Alan dong Tante. Jangan-jangan Nadya mandul, udah 6 bulan loh, belum tampak tuh tanda-tanda lagi isi." Meysa cukup berani memang. Bahkan sang mertua pun hanya tersenyum, entah apa maksudnya membiarkan menantu kesayangannya menghina istri sepupu sendiri.


Mama Shofi hanya tersenyum sinis, menepuk pundak Meysa, "Kamu juga perempuan, gak baik menghina perempuan lain mandul. Dan saya bersyukur, Alan gak jadi sama kamu, cantik luarnya doang."


Bagai disambar petir, Meysa hanya menganga mendengar pembelaan Tante Shofi akan Nadya. Wajahnya memerah, sedang ibu mertua hanya menunduk saja, membiarkan wanita cantik itu pergi ke kasir sendiri.


"Mulut kamu, Mey. Kalau kaya gini kamu udah minus dihadapan Shofi." Ujar Mertua Meysa sedikit geram.


"Ma...."


"Udah, kejar sana minta maaf."


Meysa menghentakkan kakinya kesal, dengan wajah cemberut ia menyusul sang tante demi meminta maaf.


"Kenapa mau minta maaf?" serobot Tante Shofu kesal. Wajahnya sudah tak bisa ramah ketika Meysa berhasil mensejajarkan langkahnya.


"Maaf Tante, aku gak bermaksud"


"Dengar ya, Mey. Tante sebelumnya sangat respek sama kamu, berhasil menjaga marwah seorang wanita single parent dari laki-laki genit. Tapi hari ini saya tahu, mulut kamu seperti belati yang sangat gampang menghasut keluarga sendiri. Asal kamu tahu, saya juga dulu pernah di posisi Nadya, mendapat Alan hampir setahu menikah dan cemooh dari keluarga besar pun sudah menjadi makanan tiap kumpul. Dan sekarang Nadya kamu judge seperti itu, saya gak terima lah."


"Iya Tante Maaf."


"Cukup saat ini saja saya mendengar ada yang menjelekkan Nadya, kalau saya dengar lagi, kamu saya kick dari anggota keluarga kita. Camkan itu."

__ADS_1


Tubuh Meysa gemetar, wajahnya langsung pias. Ancaman Tante Shofi tak main-main, beliau sangat ditakuti pihak keluarga, karena kekayaan dan ketegasan beliau. Apalagi, Meysa hanya menantu di keluarga besar, jelas tak punya nyali.


__ADS_2