SULUNG

SULUNG
LEBIH BAIK BERTEMAN


__ADS_3

Alan melajukan kendaraannya dengan semangat 45, mengantar sang mama melakukan misi merayu sang besan agar dirinya segera direstui dengan Nadya. Jantungnya berdegup kencang membayangkan suasana percakapan semi-semi tegang nantinya. Mama yang cerewet tapi serius, dan ibu yang tersenyum tapi serius tanpa bisa dibantah. Ah... rasanya Alan akan menjadi anak Sholeh yang diem dipojokan ruang tamu, menjadi pendengar yang baik akan usaha sang mama mewujudkan keinginannya menikahi wanita idamannya. Saat ini Alan akui, selama ini bersalah tak menghiraukan sang mama. Ia berjanji mulai hari ini akan lebih care pada mamanya itu.


"Lah...ibu lagi ziarah wali 9, Ma. Tadi jam 10 baru berangkat sama rombongan." Terang Naila yang mengajak sang mertua masuk dan duduk di ruang tamu.


"Emang ada apa, Ma. Tumben mama ke besan?" tanya Ardhan curiga.


"Mau bahas kepentingan masa depan masmu." Ucap Mama sambil menyenggol lengan Alan yang tampak lesu itu.


Ardhan dan Naila sontak menahan tawa, si Alan mendadak letoy, tak bergairah, pasti ia sangat mengharap pertemuan dengan ibu siang ini. Kasihaaaaannnn.


"Ma, Alan ke puncak sekarang aja deh, mama nanti diantar Ardhan aja ya!"


"Tuh..tuh....gak berhasil mewujudkan keinginannya mama langsung ditelantarkan." Sindir mama yang lagi menikmati rujak buah dengan sambal gula merahnya.


"Bukan gitu, Ma. Alan udah kangen sama Nadya."


"Biarin ajalah, Ma. Bujang lapuk biar kasmaran." Cibir Ardhan yang dibalas lemparan bantal sofa oleh Alan.


Akhirnya, Alan langsung menuju puncak, baju dan perlengkapan lainnya memang sudah diletakkan di bagasi, niat Alan memang setelah dari rumah Jihan langsung cus menemui Nadya. Di dalam mobil sendiri, Alan memutar lagu penyemangat, ya biar kuat menghadapi kenyataan akan kisah cintanya.


Dulu masalah dengan Amanda, Alan terkesan pasrah dan tak berniat berjuang memang. Tapi sekarang dengan Nadya, sungguh ia mengerti akan artinya berjuang untuk mendapatkan wanitanya.


Menjelang masuk jalan arah puncak, Alan menghentikan mobil di masjid, melakukan sholat Jumat dan setelah itu makan siang. Hari ini menyambut long weekend, pasti jalan ke arah puncak padat merayap. Ia harus mempersiapkan jatah perutnya sebelum terjebak macet.


Tepat pukul lima sore, Alan tiba di paviliun samping villa, berbeda dengan rombongan kantornya. Di paviliun itu hanya ada Rilo dan Alan, serta para manajer yang ikut termasuk Erick.


"Vika sekamar sama Lo?" tanya Alan begitu sampai di kamarnya dan melihat Vika duduk di ruang TV bersama Mira HRD.


"Enggak, bos Alan. Gue tahu peraturan suci Lo, dia nanti sekamar sama Nadya di villa sana." Ujar Rilo dengan nada kesal. Meski ia dan Vika terbiasa sekamar berdua ketika liburan bersama, tapi kalau menyangkut pekerjaan dengan Alan tak berlaku. Rilo akan diceramahi habis-habisan oleh Alan bila itu terjadi, maklum sih Alan, si cowok lurus.


"Udah keluar sana, gue mau istirahat, hush..hush."


"Dih...ngusir!" Cicit Rilo yang beranjak keluar dari kamar Alan lalu menutup pintu kamar. Membiarkan sang bos istirahat agar otaknya fresh sebelum bertemu dengan kekasih hatinya.


Setelah Maghrib, acara perkenalan antar karyawan akan dilakukan. Ihsan sudah membuka acara dan tepukan riuh mengiringi ucapan Ihsan yang menyebutkan siapa wanita idamannya.


"Brengsek!" lirih Alan ketika mendengar ucapan Ihsan, yakin betul gadis yang dimaksud Ihsan adalah Nadya.


"Biarin aja sih, kan kalian udah putus." Rilo semakin membuat Alan kesal. Alan pun menoleh ke Rilo dengan tatapan sinis.


"Gue ke sini mau ajak Nadya balik lagi, Bambang. Kenapa kupret satu itu bilang kayak gitu lagi." Kesal Alan semakin meningkat, sejak tiba tadi saja ia belum bertemu Nadya. Eh..... sekarang disuguhi katakan cinta ala Ihsan, kurang ajar.

__ADS_1


"Udah, hadapi dengan gentle. Bro. Level Ihsan jauh di bawah Lo, masa' kalah."


"Cih..."


"Udah sono, dipanggil MC tuh, kenalan yang bener ya." Ledek Rilo sambil mendorong tubuh jangkung Alan, memang sih harusnya Alan yang lebih dulu menyapa karyawannya, namun saat acara dimulai ia datang terlambat bersama Rilo beberapa menit sehingga dengan terpaksa Ihsan lebih dulu.


"Assalamualaikum, selamat malam. Gimana perjalanan kalian tadi?" sapa Alan dengan menampilkan senyum mempesonanya, banyak perempuan yang gemes akan senyuman itu. Terlebih para ciwi dari kantor cabang yang hanya bertemu dengan Alan sebulan sekali.


Alan memperkenalkan diri dengan ramah, tak ada nada tegas dan aura dingin seperti biasanya, bahkan ada karyawan yang berani memotong ucapannya.


"Pak Alan masih single kan?" ucap Sela dengan begitu centil dan beraninya. Alan hanya menganggukkan kepala dan disambut tepukan bahagia dari para penggemar fanatiknya. "Tapi beberapa jam lagi, jadi milik orang mungkin." Tambah Alan sambil menatap Nadya, yah gadis yang ia cari sejak tadi ketemu. Posisi Nadya di belakang bersama para Ersa dan anak keuangan lain berhasil ditemukan oleh Alan. Posisi Nadya pun strategis, pojok kanan belakang. Tak ayal, setelah menyapa para karyawannya, Alan berjalan menuju Nadya. Arah pandang semua karyawan tertuju pada langkah kaki Alan.


Nadya langsung menunduk, ia yakin Alan akan duduk di sampingnya, karena masih kosong. Duh ....malu sekali.


"Gila, Nad. Bos ganteng otw ke sini." Lirih Cindy sambil menepuk lengan Nadya gemas.


"Duh...gue ke toilet aja, ya." Nadya mau menghindar tapi cekalan Ersa menggagalkannya.


"Jangan bikin bos ganteng malu, biarin aja kalau mau duduk di samping kamu, Nad. Kasih vitamin malam buat kita-kita dong." Cicit Ersa dengan senyum bahagia.


"Dih...Maunya mbak Ersa." Nadya pun cemberut, pasang mata sudah terarah kepadanya, bisik-bisik dari rekan kerja beda devisi mulai terdengar. Duh... risih.


"Biasa aja kali, gak usah pindah tempat." Protes Nadya dengan jutek saat Alan sudah duduk di sampingnya.


"He..he..gak enak jadi obat nyamuk loh, Nyonya Alan." Gurau Cindy yang sudah maju beberapa langkah menjauhi Nadya.


"Jutek amat si Nyonya Alan." Sindir Alan dengan suara pelan, menirukan sebutan Cindy, Nyonya Alan pada Nadya.


"Ngapain duduk sini?" tanya Nadya dengan ketus, tak menoleh ke Alan juga, ia berusaha tampil B aja di dekat Alan, pandangannya lurus menatap Rilo yang sedang mengenalkan dirinya.


"Kita pindah ke dalam yuk, ada yang aku mau omongin."


Nadya terpaksa menoleh, "Nanti aja ya, gak enak sama yang lain. Acara malam ini kan cuma perkenalan aja, aku gak mau beda dengan yang lain."


Alan tersenyum lalu mengangguk saja, asalkan ia tidak diusir menjauh dari Nadya, tak masalah. Nadya pun menikmati acara perkenalan ini, ada beberapa karyawan yang lucu sekali sehingga Nadya pun ikut tertawa lepas, ia tak mempedulikan Alan yang di sampingnya, toh mantan kekasihnya itu juga sibuk dengan ponselnya. Tapi, giliran Nadya memperkenalkan diri, Alan menatap gadis itu seksama, mengamati wajah gadis cantik di depan sana dengan senyuman manis dan ramah. Ah...Alan tak rela, Nadya begitu ramah di depan umum itu. Ia yakin banyak pasang mata yang intens menatapnya.


"Udah kenalan kan, yuk." Ajak Alan ketika Nadya baru saja kembali ke posisi semula.


"Bentar, masih ada beberapa orang yang belum kenalan loh!"


"Minta videoin teman sedevisi kamu kan bisa sayang. Nanti kalau kemalaman kamu alasan ngantuk."

__ADS_1


Yah....gagal sudah rencana mengelabui Alan, bos ganteng itu terlalu cerdas menangkap gelagat Nadya yang menghindarinya.


"Ke mana sih?" tanya Nadya yang masih enggan ikut Alan.


"Ke paviliun sebelah, kamarku kan di sana!"


"Kamu ngajak aku ke kamar kamu? Ogah!" tolak Nadya tegas.


Alan terkekeh, "Aku ajak ke paviliun sebelah sayang, bukan ke kamar juga. Kita ngobrol di taman samping paviliun deh biar kamu gak aku apa-apain." Goda Alan dengan cengiran khasnya.


Nadya memukul lengan Alan, "Gak usah bercanda gak penting gitu, males banget deh!"


"Udah yuk!" Alan sudah berdiri, dengan terpaksa Nadya pun mengikutinya. Titip pesan ke Cindy agar jangan kunci kamar kalau Nadya belum balik.


Berjalan beriringan tanpa bercakap, keduanya pun segera duduk di taman samping paviliun. Ada pelayan yang sudah menyediakan minuman hangat dan camilan untuk Alan dan tamunya.


"Sengaja banget ajak ke sini, sampai pelayan pun udah kasih minuman ini." Sindir Nadya dengan mencebikkan bibirnya.


Alan terkekeh, menikmati wajah cemberut sang mantan. "Kangen kamu, sayang."


"Aku enggak."


"Heleh jangan bohong, kamu tuh gak pandai bohong kali."


"Udah deh, Mas Alan mau bilang apa."


"Tuh kan kangen, manggilnya aja Mas."


"Anggap aja keceplosan."


Alan tertawa keras, sungguh suasana seperti inilah yang ia ingin lewati tiap hari. Duduk bersampingan dengan Nadya.


"Kita balikan yuk, sayang. Aku dan mama sudah memutuskan perjodohan dengan Jihan. Aku pastikan selesai dan tidak ada urusan dengannya maupun keluarganya lagi."


Nadya terdiam, ia sudah menduga Alan akan memintanya menjadi kekasih lagi. Drama putus sambung ala mereka memang tak akan habisnya.


"Aku gak mau." Ucap Nadya mantap, pandangannya lurus menatap mata Alan, ia sekuat tenaga menahan tangis saat menolak permintaan Alan.


"Maksud kamu?" Alan memastikan dengan mengernyitkan dahi, kaget juga karena Nadya tak mau meneruskan kisah cinta mereka.


"Lebih baik kita berteman saja." Lanjut Nadya mantap.

__ADS_1


__ADS_2