
/Pulang bareng saya, Nad!/
Begitu pesan Alan menghadang langkah Nadya untuk beranjak pulang. Beruntung juga Nadya membuka pesan Alan, kalau tidak udah ditinggal tuh Alan.
"Kok duduk lagi, Nad?" tanya Ersa yang sudah berdiri dan mau keluar bilik.
"Bentar, nunggu orang."
"Pasti Bos ganteng!" celetuk Cindy yang baru saja mematikan komputer di meja kerjanya.
"Sok tau!" elak Nadya sembari mencibir.
"Belum dengar gosip sepertinya Mbak Nadya ini." Imel pun turut berkomentar. Memang Nadya jarang sekali ikut nimbrung obrolan di grup utama kantor. Ia lebih banyak nimbrung di group keuangan saja.
"Gosip apaan?" tanya Nadya curiga.
"Ada yang melihat Mbak dan Pak Alan serta Pak Rilo makan ayam bakar sambal ijo."
"Oh...!" jawab Nadya santai.
Ersa dan anak keuangan lain hanya melongo mendengar jawaban Nadya yang cukup santai, seolah membenarkan gosip itu.
"Eh... gimana-gimana, oh doang? Kamu sadarkan, Nad?" Tanya Ersa yang masih mencerna ekspresi Nadya. Kelewat santai.
"Iya, mbak, waktu aku ditarik sama Pak Rilo itu aku diajak makan sama dia." Nadya jujur saja, ia tak mau berbohong, sekali dia berbohong maka dia akan mencari alasan dan kebohongan lain.
"Trus, kamu sama bos ganteng juga."
Nadya mengangguk.
"Trus?"
"Ya makanlah mbak, orang aku ditarik, nanti aku teriak dikira aku diculik malah merusak nama baik Pak Rilo kan."
Imel dan Cindy mengangguk, setuju juga. Namun yang membuat mereka heran, sedekat apa hubungan Alan, Rilo dan Nadya? Mengapa Nadya begitu santai menanggapi moment makan siang yang ketahuan karyawan lain.
"Emang siapa sih yang tahu?" tanya Nadya penasaran. Karena Rilo memilih restoran itu lumayan jauh dari kantor.
"Nensi, anak marketing."
"Oh mungkin baru selesai survey."
"Bentar deh, Nad. Kamu kok santai banget, emang hubungan kamu dan Pak Alan apa?"
__ADS_1
"Bos dan karyawan, mbak." Jawab Nadya, memang benarkan?
"Di luar itu, ada hubungan khusus pasti?" terka Imel.
"Maunya, sekarang siapa juga yang gak mau sama Pak Alan. Kaya ganteng single lagi."
"Mati gue!" Ersa gelagapan, pasalnya Nadya dulu gak mau menjalin kedekatan dengan Alan, tapi sekarang, tambah lagi dong saingan untuk mendapatkan Alan, terlebih Nadya gadis yang sangat berbeda dengan para fans Alan lainnya.
Drt.. Drt ...
Alan memanggil.....
Nadya melirik mereka, ada raut ketakutan yang tampak, tapi dia berusaha santai saja, menyembunyikan kegugupan tentunya.
"Iya, Pak!" sapa Nadya, masih melirik Ersa cs.
"Masih ada anak-anak kah?" tanya Alan yang bisa menebak situasi Nadya sekarang.
"Masih, Pak."
Ersa dan yang lain masih menatap Nadya seolah bertanya tanpa suara, siapa? Alan? mau apa?
"Tunggu mereka pulang atau bagaimana?"
"Jangan bilang kamu mau pulang sendiri, aku kangen kamu sayang." Padahal Nadya mau berniat seperti itu, tapi sudah dicegah Alan dulu.
"Ya udah pulang sekarang aja, udah ketahuan juga."
"Maksudnya?" tak hanya Alan, tapi anak keuangan lainnya juga sontak bertanya dengan suara agak tinggi.
"Ya sudah, tunggu di lobi aja, saya turun setelah ini."
"Iya!"
Nadya memasukkan ponsel ke dalam tasnya, "Kalau kalian mau tahu hubungan aku dan Pak Alan atau Pak Rilo, boleh deh intip di lobi." Ajak Nadya. Ia sudah menyampirkan tasnya, dia pikir ya sudahlah kalau sudah ada yang tahu kedekatan Nadya dengan Alan. Lambat laun juga pasti ketahuan juga. Apa bedanya tahu sekarang apa nanti.
"Emang kenapa sih kok pada heboh kalau misalnya nih aku dekat dengan Pak Alan atau Pak Rilo? Kita kan rekan kerja." Nadya pura-pura polos saja. Memancing reaksi ketiga rekan kerjanya kalau memang Nadya berhubungan dengan Alan.
"Kalau gue sih terima-terima aja, secara gue sadar diri juga gak punya kelebihan yang bisa menarik perhatian pak bos." Cicit Ersa.
"Kalau kamu?" tanya Nadya pada Cindy.
"Aku gak rela, Nad. Tapi kalau bos ganteng sendiri yang milih kamu, ya gue nyerah, tapi tetap aja gak rela, Naaaaaadddd!" rengek Cindy dengan menghentakkan kakinya sebelum masuk lift plus mewek, meski belum ada air mata yang keluar.
__ADS_1
Nadya takut? Enggak juga, dia malah tertawa melihat tingkah Ersa yang sok ikhlas, Cindy yang gak rela sampai mewek, dan bagaimana Imel, gadis paling muda di antara mereka sudah mengeluarkan air mata terlebih dulu sebelum ditanya Nadya.
Pemandangan lucu para rekan kerjanya membuat Nadya tak henti tertawa sampai tak terasa lift sudah terbuka. Mereka keluar dengan wajah yang hampir menangis semua, terlebih Imel sampai sesenggukan, tak rela pilihan Alan jatuh pada gadis yang dekat dengan Imel tiap hari. Sakit tapi tak berdarah ya begini ini. Sedangkan Nadya, masih tertawa hingga menangis juga.
"Ada apa sayang?" suara yang berhasil menghentikan tawa Nadya, keempat gadis setengah oleng itu mendadak kaku. Sepertinya Alan keceplosan ketika melihat Nadya keluar dari lift.
"Sayanggggggg?" ulang Imel, Ersa dan Cindy sambil melotot, setengah berteriak juga.
"Sore Pak Alan!" Nadya menyapa saja, plis deh baru keluar lift juga langsung memberi shock terapi.
"Sore!" syukur Alan bisa diajak kerja sama. Hanya saja para gadis pengagumnya sudah terlanjur menangkap gelagat Alan yang tertarik dari Nadya. "Yuk, sayang!" lagi-lagi Alan keceplosan.
Nadya masih diam, ia melirik ketiga rekannya yang sedang menatap Nadya curiga. "Maaf ya mbak-mbak, saya pinjam Nadya dulu."
Ya Allah Tuhan, Alan. Selamat sudah berhasil membuat Ersa, Imel, dan Cindy terkejut setengah mati. Kabar petang yang menusuk ulu hati mereka, sakiiiiiiiiiiit.
"Ceritanya besok ya, kawan. Saya pulang dulu.". Pamit Nadya yang hanya dijawab anggukan oelh ketiganya, sumpah lucu.
Alan pun tak sungkan mensejajarkan langkahnya dengan Nadya, tanpa ada sentuhan hanya tatapan Alan dan Nadya yang membuktikan keduanya memang punya hubungan. Bahkan Nadya juga tampak cuek dengan karyawan yang berlalu lalang, maklum jam pulang kantor.
"Bos ganteng udah menentukan tambatan hatinya guys"
"Gak rela gue!"
"Benerankan gadis itu yang dipilih."
"Nyesek banget, Pak Bos kelihatan cinta banget dengan Nadya."
"Pakai pelet mungkin si Nadya."
"Munafik banget gadis itu."
Begitulah komentar pedas dari karyawan yang sempat melihat keduanya berjalan bersama, patah hati berjamaah di penghujung sore.
"Kalau gak tau gak usah fitnah segala, Nadya gak pakai pelet." Cetus Ersa yang tak terima teman satu timnya dibilang pakai pelet. Meski dirinya juga nyesek, tapi otaknya masih waras, tak sampai sejulid itu menuduh Nadya.
"Halah..Lo pura-pura tegar, padahal Lo sendiri nyesek." Ucap Anggun, karyawan dari tim IT. Salah satu penggemar fanatik Alan juga.
"Ya setidaknya gue gak fitnah Nadya. Keji banget tahu gak." Balas Ersa tak kalah sewot, sebenarnya marahnya Ersa ini bentuk luapan kesedihan akan peluang mendapatkan Alan yang semakin kecil. Dirinya sangat insecure kalau bersaing dengan gadis sholeha seperti Nadya.
Tinggal pasrahlah, sekuat apapun mereka berusaha mencari perhatian pada Alan, kalau Nadya dipilih Alan, para penggemar bisa apa?
Nangis jamaah 😥😥😥
__ADS_1