
Di ruang makan ini hanya ada ibu dan Nadya saja ketika sarapan, Naila belum kembali, masih menikmati masa pengantin baru di hotel. Nadya dan ibu hanya semalam tinggal di hotel, hari Minggu pagi sudah pulang, dan apa yang dikerjakan Nadya saat hari Minggu, hanya hibernasi saja, bangun hanya sholat dan makan. Bahkan ibu hanya geleng-geleng plus ngomel melihat kelakuan anak sulungnya seperti itu.
"Tumben bisa bangun tanpa omelan ibu?" tanya Ibu yang sudah menyendokkan nasi goreng di piring Nadya.
"Karena kualitas tidur Nadya sangat baik." Ucapnya sembari memamerkan gigi putihnya.
"Gimana gak baik, seharian tidur terus, kalau gak ingat kamu anak ibu udah ibu siram pakai air. Kamu tuh ya ampun, Nad. Malu ibu sama Om Shol dan keluarganya, mana mereka baru sekali datang ke sini setelah ayahmu gak ada, eh....ke sini sekali kamu tinggal molor." Nyanyian merdu ala ibu mulai terdengar, kebiasaan yang gak akan pernah terlewatkan, mungkin Naila akan kangen dengan nyanyian ibu tiap pagi kalau dia sudah diboyong Rafly ke Singapura nanti.
Yah... keputusannya sementara Naila akan melanjutkan satu semester lagi di sini, kemudian akan ikut dan melanjutkan kuliah di Singapura. Segala biaya kuliah dan biaya hidup Naila sekarang sudah ditanggung Rafly. Lucu juga ya pemikiran gadis itu, otaknya gak terlalu encer seperti Nadya soal pelajaran, tapi sangat jitu memikirkan masa depannya, dengan menikahi Rafly, suami kayanya.
"Kerjaan aku numpuk, Bu. Kamis gak jadi lembur, Jumat gak masuk, makanya Senin ini kudu punya tenaga ekstra buat menjalani aktivitas yang membosankan." Ucap Nadya dengan telaten menghabiskan jatah sarapannya.
"Kamu naik motor?"
"Iyalah, mau naik apalagi?"
"Kirain dijemput Alan."
"Emang boleh?"
"Kalau antar jemput sih boleh, tapi kalau menjalin hubungan gak boleh."
"Yah...gak usah antar jemput kalau gitu, Bu. Kesannya Nadya cuma manfaatin mobilnya doang, tapi berantakin hati Alan, gak baik ah."
Ibu terdiam, ada rasa bersalah juga tak merestui mereka, tapi mau gimana lagi, kalau sudah kepercayaan susah untuk diabaikan.
"Baguslah, segera cari pengganti Alan, Nad, ingat umur."
"Umur Nadya masih kinyis-kinyis, Bu. Nadya mau menikmati masa muda Nadya dulu."
"Percaya deh yang uang gajinya utuh!"
"Eh buat ibu lah!"
"Pakai aja semua sekarang, Rafly udah nanggung biaya hidup ibu juga. Nih!" pamer beliau dengan menunjukkan kartu debet dari bank X dengan tulisan platinum.
"Ceileh, Ibu Sumirah jadi Hoyang kayah sekarang!" celetuk Nadya menggoda sang ibu.
"Enak aja, meskipun dapat dari Rafly ibu tetap buka orderan kue dan catering lah, gak enak kalau mengandalkan uang anak mantu."
"Terserah ibu, lah, yang penting ibu bahagia, kalau kerja gak usah ngoyo, toh sumber dana hidup ibu sekarang banyak."
"Bahagia ibu itu kalau kamu nikah juga, eh...nunggu setahun dulu deh, pamali kalau nikah dalam tahun yang sama."
__ADS_1
"Pamali lagi. Udah ah, Nadya berangkat!" pamit Nadya yang langsung salim dan mengecup pipi gembul ibu.
"Hati-hati!" jawab Ibu yang kemudian menjawab salam dari Nadya. Beliau melihat putri sulungnya begitu semangat kerja, terselip doa juga agar Nadya segera menemukan jodoh yang baik dan bertanggung jawab seperti Rafly.
*****
"Widih yang habis lamaran!" ledek Mini, kebetulan gadis **** itu motornya berada di samping Nadya yang masih betah bermain ponsel di atas jok motor. Maklum jatah absen masih setengah jam lagi.
"Lamaran pala lu peyang, adik gue yang nikah, bukan acara lamaran."
"Gak usah ditutupi kenapa sih, Nad. Pak Alan tuh udah keliatan lopdet sama lu mah!"
"Miniku sayang, aku gak lamaran sama Pak Alan, karena aku gak bisa sama Alan." Ucap Nadya yang terlebih dulu menyimpan ponselnya dalam tas lalu merangkul pundakini, dan berjalan bersama masuk ke lobi kantor.
"Kenapa?"
"Adik gue nikah sama adik Alan!" bisik Nadya pelan, sontak saja Mini berhenti seketika, menatap wajah Nadya dengan mata melotot, kedua telapak tangannya menutup bibir Mini, kaget setengah mati.
"Jadi kalian...?"
"Mantan!"
"Astaghfirullah, Nad. Kok gini cerita cinta Lo!"
"Udah ah, yuk naik lift mumpung belum ramai." Ujar Nadya seraya menarik tangan Mini untuk masuk ke lift. Sudah ada beberapa karyawan ya g datang, menatap Nadya dengan tatapan tertentu. Ada yang sedih, kesal, bahkan bertemu Nadya langsung memalingkan muka. Pasti karena foto Erick kemarin, emang dasar manajer keuangan yang kelewat usil.
"Ntar siang makan bareng ya?" pinta Mini, Nadya tahu Mini masih penasaran akan ceritanya, ia pun mengangguk setuju. "Gue traktir deh!" ucap Mini sebelum mereka berpisah ke bilik masing-masing, dan mendapat acungan jempol dari Nadya.
"Assalamualaikum selamat pagi!" sapa Nadya begitu masuk ke ruangan.
"Wassalamu'alaikum, nyonya Alan!" jawab Ersa dengan nada mencibir.
"Apaan Nyonya Alan, gak ada sebutan gitu." Tegur Nadya sambil cemberut, kenapa sih Alan terus yang dibahas. Ia meletakkan tas dan segera menyalakan komputernya.
"Bener, Nad, foto itu?" tanya Ersa bahkan sampai duduk di depan meja Nadya.
"Enggak, Mbak. Pak Erick aja yang nyebelin."
"Nikahannya siapa?"
"Adikku, Mbak!"
"Ya Allah, Nad. Berarti bener kamu gak bisa sama Pak Alan?" Ersa memastikan.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Ngapain aku juga bohong, saat ini kami memang sudah putus."
"Terus aku harus seneng apa sedih nih?" Godanya, menyebalkan memang.
"Senang aja, noh... silahkan ngantri, kalau mau lewat jalur pintas aku bantu deh."
"Ck...serius nih."
"Serius lah!"
"Heleh, palingan juga kamu tambah dekat sama Pak Alan kalau keseringan kontek kontekan."
"Nah tuh tahu, tau ah, aku mau ke marketing dulu, laporan mereka banyak yang gak beres sih, heran deh."
"Nah keluar deh judesnya kalau urusan kerjaan."
Nadya pun berlalu membawa tumpukan laporan keuangan devisi marketing, dengan semangat 45, mengabaikan bisik-bisik mengenai foto hasil perbuatan Erick kemarin.
"Pagi!" sapa Nadya ketika masuk ke ruangan marketing, sudah ada Mini dan beberapa anak marketing lain, ia pun memberi laporan yang akan direvisi, sudah ada catatan kecil juga.
"Terimakasih, Bu Bos!" ledek Putra, salah satu anak marketing yang biasa berurusan dengan devisi keuangan.
"Sama-sama anak buah bos!" Nadya sengaja membalas ledekan Putra, tak mau ambil pusing deh apa kata mereka memaknai foto itu, nyatanya malah dia dan Alan jadi mantan. Cukup Ersa cs plus Mini yang tahu hubungan sebenarnya.
Baru saja tiba di meja kerja, Erick memintanya ikut meeting dengan karyawan tetap yang terpilih. Duh..
"Kan bapak udah saya kirimi hasil training hari Kamis kemarin, kenapa saya harus ikut lagi?"
"Alan yang mau!"
"Nah kan, ujung-ujungnya gak profesional gini saya gak suka, devisi lain juga cuma manajernya aja loh, Pak."
"Ck...ya udah kalau gak mau, jangan nyesel ya kalau Alan kepincut sama asisten barunya!"
"Hah? ada asisten pribadi lagi, Pak Rilo?" bukan Nadya yang tanya, tapi Cindy. Kepo maksimal kenapa Alan menambah asisten pribadi?
"Tuh Cindy yang kepo, Cindy aja yang diajak meeting."
"Udah ikut aja kenapa sih, jadi pajangan juga cocok." Ujar Erick tak mau dibantah, memang ia mendapat pesan dari Alan agar mengajak Nadya. Entah apa tujuannya, yang penting ia berhasil membawa Nadya ikut meeting, meski wajahnya tampak cemberut.
"Hai, Nyonya...." sapa Rilo dengan senyum meledek.
"Saya gak jadi ikut rapat Pak Erick." Potong Nadya yang menangkap gelagat sapaan aneh Rilo, ia pun putar balik, namun suara Erfina menginterupsinya.
__ADS_1
"Tunggu di ruangan Pak Alan saja, Nad kalau gak mau ikut meeting!" ucapnya lirih, namun tetap saja bisa didengar anggota meeting yang sudah duduk manis.
"Ck...semua menyebalkan." Gerutu Nadya disambut tawa kecil Erick. Rese'.