
Kesibukan Nadya bertambah banyak, karena sepulang kerja ia harus meeting virtual untuk gathering, meski tidak lama dan kebanyakan candaan tetap saja mengurangi jatah istirahatnya di kala malam.
"Jumat besok Nadya ke puncak, Bu!" pamit Nadya yang baru selesai meeting virtual, sembari merapikan laptop dan buku agendanya.
"Sama Alan?"
"Kok tanyanya gitu?"
"Ya siapa tahu sama Alan. Tiba-tiba Ibu kangen sama Alan, Nad. Udah lama ya gak main ke sini."
"Lumayanlah!" jawab Nadya datar.
"Kalian benar putus ya, Nad?"
"Beneran, Bu."
"Kamu ikhlas?"
"Jelas gak lah, Bu. Orang masih sayang sama dia. Kita kan putus karena dipaksa keadaan."
Ibu terdiam, ada rasa sesal lantaran tidak merestui hubungan mereka dan sekarang malah besannya ikut-ikutan tak merestui.
"Kata Naila, dia mau tunangan? Beneran?"
Nadya mengangguk saja, terlalu sakit kalau membahas pertunangan Alan lebih jauh, apalagi calon yang dipilihkan mama Shofi kelewat minus, e astaghfirullah... kok jadi judge orang seenaknya.
"Ibu gak setuju kalau Alan dapat kayak gitu, Nad, tapi gimana ya?"
Nadya tersenyum, "Lah kan kita gak berhak juga sih menentukan mantu buat mama Shofi, Bu!"
"Apa ya yang buat Jeng Shofi mau menjodohkan mereka?" Cantik dan kaya sih, Nad. Tapi masa' umbar aurat gitu ya calon mantu Jeng Shofi?
"Selera hoyang kaya mungkin, Bu! Ya bukan maksud julid atau sok alim ya Bu , cuma Nadya rasanya nyesek kalau lihat Jihan sama Mas Alan jalan berdua, apalagi nempel gitu."
__ADS_1
"Eh nempel bagaimana?"
"Gini nih!" Nadya mempraktekkan posisi Jihan kalau sedang berjalan dengan Alan.
"Alan juga mau?"
"Mau!" jawab Nadya singkat, pasalnya ketika Jihan ke kantor tak pernah terdengar Jihan diusir atau Alan marah karena kedatangan gadis itu.
Ibu menghembuskan nafas kasar, semakin merasa bersalah karena masih teguh memegang teguh pamali sehingga anaknya harus dipaksa mengakhiri kisah asmaranya, wajar juga kalau Alan mau ditempeli calon tunangannya, mungkin Alan awalnya terpaksa namun lama-kelamaan juga menerima karena terbiasa. Begitupun dengan Nadya, mungkin sekarang masih marah, kecewa gak ikhlas akan hubungan Alan, tapi percayalah gadis itu juga akan melupakan kisah ini dengan cara apapun, salah satunya larut menjadi wanita karier.
Seperti halnya siang ini, setelah makan siang dia bersama Rilo dan Ihsan meeting bersama perwakilan EO untuk gathering Jumat besok. Benar - benar tak repot sih kalau pakai EO, vila, transportasi, catering, marchendise seperti kaos dan Tote bag untuk kenang-kenangan acara tahun ini juga mereka handle, bahkan hadiah untuk pemenang permainan di sana pun siap juga, yang penting ada dana lancar semua.
"Kamu nanti pulang jam berapa, Nad?" tanya Ihsan setelah meeting bersama EO bubar.
"Jam 5an mungkin, kenapa Shan? Tumben tanya?" Nadya pun heran dengan pertanyaan Ihsan, padahal mereka hanya sebatas kenal tak terlalu dekat.
"Kamu gak mau cari camilan atau keperluan buat gathering besok?" Ihsan mulai menunjukkan modus PDKT pada Nadya, sepertinya gosip tentang putusnya Alan sudah terdengar hingga ke Ihsan, makanya pemuda itu berani mengajak Nadya jalan. Rilo yang masih di situ, dan pura-pura membalas pesan sengaja mau tahu jawaban Nadya. Ia yakin Nadya masih menyimpan rasa untuk Alan.
"Hem gimana ya, rencananya sih mau hari Kamis pulang kerja buat belanjanya." Nadya terkesan menolak secara halus. Namun Ihsan tak peka.
"Ha... Ehm....bo-boleh deh!" Jawab Nadya tergagap, ia sempat melirik ke arah Rilo, entahlah Nadya merasa percakapan dengan Ihsan ini, bakal diaduin dengan Alan, duh ge-er banget yak.
"Oke...kalau gitu hari Kamis, kamu gak usah bawa motor, aku jemput aja ya?"
"Hem gak usah, kita bareng pas belanja aja!"
"Oke..! Aku balik dulu ke ruangan, mari Pak Rilo!" pamit Ihsan sebelum ke luar, masih memasang wajah ceria karena berhasil mengajak Nadya kencan versi Ihsan.
"Ck....kalau Alan tahu, pasti tuh Anak dipindah ke kantor cabang!" gerutu Rilo yang masih terdengar Nadya.
"Gak bakal, Pak Alan udah cinta mati gitu dengan Nona Jihan!" sahut Nadya yang masih merapikan nota pembayaran dengan pihak EO tadi lalu memasukkan ke Excel bagian keuangan.
"Orang sambil merem aja tahu, Nad. Kalau Alan ogah banget dengan Jihan, Lo tahu..."
__ADS_1
"Udah deh Pak Rilo, mereka kan mau tunangan, aku gak mau merusak apa yang membuat mereka bahagia. Terutama mama Shofi."
"Dan kamu ikhlas Alan mendapat istri seperti dia?"
Nadya terdiam.
"Memang dia banyak kelebihan di mata orang, tapi satu kekurangannya yang dibenci Alan menutup semua kebaikan Jihan di mata Alan, dan kamu tahu kekurangan apa?"
Nadya menggeleng.
"Kekurangan bahan pakaian!"
Sontak Nadya tertawa ngakak, karena dari nada bicara Rilo terdengar asisten ganteng itu jijik pada calon Nyonya CEOnya.
Drt...drt..obrolan mereka terhenti saat panggilan masuk dari Alan, Rilo sadar ia sudah terlalu lama meninggalkan Alan. Harusnya ia sudah melaporkan hasil pertemuan ini dengan EO eh malah keasyikan ngobrol dengan Nadya.
"Hallo!" sapa Rilo yang meloudspeaker panggilan telpon Alan, sengaja juga.
"Di mana?" tanya Alan dingin.
"Masih nemenin calon Nyonya Lo,"
"Kamu sama Nadya? Aku VC ya pura-pura aja, biar gak ketahuan kalau aku lagi melihatnya."
Rilo hanya geleng-geleng kepala saja, bucinnya Alan masih kelewatan. Seorang pemimpin perusahaan bisa ya memiliki ide konyol seperti itu. Ah biarkan saja, membantu orang kangen tak masalah.
Sedangkan Nadya, jangan ditanya, sejak Rilo menunjukkan nama penelpon, ia langsung diam, tersenyum kecut ketika mendengar ide konyol Alan. Ya Allah....Alan masih punya rasa dengan dirinya.
"Gimana meetingnya?" tanya Alan pura-pura, ia sudah mendapatkan wajah Nadya yang serius dengan laptopnya, Rilo pintar sekali mengatur angel agar Nadya juga tertangkap di video tersebut.
"Lo kenapa sih, Lan. Habis ini gue ke ruangan Lo, gak usah basa basi deh. Bilang aja mau ketemu Nadya!" Rilo yang sudah terlanjur gemas malah membuka aib Alan. Tak berlangsung lama panggilan itu terputus, dan Rilo pun tertawa terbahak-bahak. "Lo lihat kan, rasa dia masih besar buat Lo!"
"Tapi takdir kita gak mendukung, mau gimana dong!" ujar Nadya dengan memaksakan senymnya.
__ADS_1
"Percayalah, Nad. Alan tidak akan bertunangan dengan Jihan, ia akan melakukan banyak cara untuk menggagalkan perjodohan ini. Kamu tenang aja, Lo masih jadi ratunya!" ujar Rilo yang beranjak keluar ruangan sesaat setelah menepuk pundak Nadya, seolah memberikan kekuatan agar Nadya sabar, tunggu tanggal mainnya Alan kembali pada Nadya.
Selepas Rilo pergi, air mata sudah menetes di pipi Nadya. Sungguh ia mengharapkan hal itu terjadi, bahkan dalam hati kecilnya akan sabar menunggu hingga Alan menerimanya kembali.