SULUNG

SULUNG
RESTU IBU


__ADS_3

Saat di mobil, Alan dan Nadya diam. Pikiran mereka kalut, karena Alan yakin Nadya akan menomorsatukan kebahagiaan Naila.


"Sayang!"


"Apa?"


"Hubungan kita----" Alan berhenti, tak berani membalas lebih terkait kelanjutan hubungan keduanya.


"Secara Agam sih boleh setahuku, Aku dan kamu, Naila dan Ardhan. Toh aku dan Ardhan kalau mereka sudah menikah hanya saudara ipar. Hanya saja ibu, Mas?"


"Kenapa?" Alan takut, teramat takut kalau ada pertimbangan lain dari calon mertuanya. Nadya hanya menghembuskan nafas pendek, lalu mulai cerita tentang Gok Ras dan Yu mi serta adiknya yang menikahi sepupu Yu Mi, itu saja dianggap pamali sama ibu, apalagi sekarang Alan dan Ardhan yang notabene saudara kandung akan memperistri Nadya dan Naila yang sekandung juga. Apa gak dobel pamali itu??


Alan terkekeh mendengar cerita Nadya. Hanya sebuah kepercayaan toh, "Kalau secara agama boleh, ya sudah sih gak masalah."


"Tapi Mas..."


"Lalu kamu mau mengorbankan hubungan kita?"


"Aku bingung."


"Maaf ya Nad, dari awal aku sudah menginginkan kamu menjadi istriku, tapi kamu selalu mengulur-ulur seakan penawaranku gak penting. Kamu serius gak sih sama hubungan kita?" hilang sudah kesabaran Alan pada sikap Nadya. Bahkan ia tak sadar sudah membentak Nadya pula. "Maaf!" lanjutnya.


"Aku serius, Mas. Hanya saja aku tidak bisa melakukan sesuatu hal tanpa restu dari ibu."


"Sayang, ini sudah zaman millenium, gak ada yang kayak gitu-gituan, mungkin saja ibu hanya cocoklogi."


"Entahlah, Mas."


"Dan kamu mau menyerah akan hubungan kita kalau ibu tidak setuju akan hubungan kita?"


"Mas menikah itu bukan hanya kita berdua, tapi keluarga besar. Kamu punya mama, aku punya ibu. Hubungan kita bakal diridhoi Allah kalau orang tua kita ikhlas memberi restu, Mas."


Alan tersenyum miring. "Dengan kata lain, aku bersiap untuk patah hati yang kedua kali?"


Nadya paham maksud Alan. Pilihan memutuskan hubungan demi pernikahan Naila-Rafly memang sempat terlintas dalam benak Nadya sejak tadi. Biarlah untuk kesekian kalinya ia mengalah untuk kebahagiaan adik semata wayangnya.

__ADS_1


"Pulanglah, Sayang. Mungkin Ardhan sudah di dalam, silahkan rembukan dan semoga mendapat keputusan yang membuat kalian sekeluarga bahagia."


"Mas!" Nadya menahan setengah mati air matanya, ia juga gak rela kalau harus putus. Bahkan hatinya pun sudah mantap menerima Alan untuk segera menikah, tapi keadaan yang membuat ia harus tegas.


Tanpa membalas panggilan Nadya, Alan keluar dari mobil menuju sisi pintu Nadya, ia membukakan tanpa menatap wajah kekasihnya.


"Hati-hati, Mas." Nadya tak mau berdebat lagi, kepalanya cukup pusing bagaimana mengungkapkan kenyataan yang ada pada sang ibu. Ia pun membiarkan Alan pergi gitu saja, dengan kekecewaan pastinya.


Masuk ke dalam rumah, ternyata tidak ada orang sama sekali, Naila sepertinya belum pulang, dan ibu mungkin masih ke Bu Retno, tetangga yang sedang ada hajatan khitan. Ia pun membersihkan diri lalu sholat isya. Hatinya tak tenang, karena hampir satu jam tak ada kabar dari Alan.


Ia pun mengirimkan pesan, menanyakan posisi Alan di mana, apakah sudah di rumah atau masih dalam perjalanan. Karena setahu Nadya, jika tak ada urusan bisnis, Alan lebih suka di rumahnya.


"Udah pulang, Nad?" tanya ibu mengangetkan Nadya saat dia mengambil buah di dalam kulkas.


"Ibu ngangetin aja, iya udah pulang dari tadi."


"Mau berkat dari Bu Retno, ibu dibawakan kue banyak banget."


"Enggak deh, mksh."


Jiwa emak-emak keluar dah, kalau lihat calon mantu hoyang kayah dan ganteng bawaannya setuju aja, padahal kemarin-kemarin minta Nadya dulu yang nikah. Hufh.


"Iya, Ardhan memang anak orang kaya, Bu!"


"Eh kok Ardhan, Rafly, Mbak!" tegur Ibu meralat.


"Namanya Ardhan Rafly Wiratama, Bu!"


"Hem kamu kok kenal?"


"Rafly adik kandung Alan, Bu!"


"Oh....eh gimana-gimana," sepertinya ibu baru sadar status Alan - Rafly.


"Iya calon mantu ibu itu saudara kandung. Alan kakakny Ardhan."

__ADS_1


"Astaghfirullah!" pekik Ibu kaget, beliau sampai menghentikan acara menata kue-kue dari hajatan Bu Retno. Beliau langsung mendekat pada Nadya, menatap lekat wajah sang putri.


"Ya Allah, Nad. Terus bagaimana?"


"Bagaimana apanya, Bu? Ya udah tinggal nikah aja!" Nadya berusaha sekuat tenaga bersikap santai, tidak berpikir macam-macam, menunjukkan betapa ia dan Naila sudah siap menikah dengan pasangan masing-masing.


"Sembarangan!" beliau langsung menonyor pipi Nadya, namun anehnya gadis itu malah tertawa ngakak. Entah karena respon ibu yang lucu atau dia menyamarkan perasaannya. "Ya Allah Gusti, Kok gini?" baru deh Nadya terdiam, beliau menatap raut wajah teduh sang ibu. Tak tega, mungkin beliau sedang bingung harus merestui siapa.


"Kenapa sih, Bu?"


"Mbak, kamu tahu kan Gok ras dan Yu Mi yang kapan hari ibu cerita?"


Nadya terdiam, inilah yang ia takutkan ketika mengetahui status Alan dan Ardhan. "Iya, Nadya ingat."


"Ibu gak mau, Nad. Salah satu dari kalian menderita saat menjalani kehidupan rumah tangga nanti."


"Menderita atau enggak, tergantung kita sendiri, Bu. Bagaimana kita harus bersikap dalam berumah tangga."


"Banyak hal yang bisa menjadikan rumah tangga bahagia, Nad. Termasuk restu ibu."


"Pasti, Bu! Nadya pasti akan meminta restu ketika akan menikah dengan Alan sama ibu."


"Kalau kamu menikah dengan Alan berarti Naila yang mengalah. Pamali, Nad. Kalau kamu menikah dengan Alan, dan Naila menikah dengan Rafly."


"Bu, secara agama aku adalah saudara ipar Rafly, Bu. Jadi gak masalah kan kalau aku menikah dengan Alan. Kecuali Ardhan menikahi aku dan Nadya sekaligus, itu yang gak boleh."


"Hidup itu kita pegang dua hal, Mbak. Agama dan Adat istiadat. Percayalah, Nad. Gak baik juga kalau kalian memaksakan dengan pasangan masing-masing sedangkan mereka terikat saudara kandung. Pamali, Nak."


Nadya diam. Ingin menangis juga, rasa pada Alan tentu tidak bisa ia hilangkan seketika, perasaan sayang dan disayangi baru ia rasakan saat bersama Alan, haruskah ia menyerah begitu saja, dan menomorsatukan kebahagiaan sang adik.


"Kamu pikirkan dengan Alan, Nad. Karena bagaimanapun keputusan ibu hanya merestui salah satu diantara kalian. Alan baik, Rafly juga baik, tapi status mereka yang kurang patut untuk pernikahan kalian. Pikirkan matang-matang. Ibu tahu perasaan kamu dengan Alan, begitupun dengan Naila. Jadi ibu harap ada solusi terbaik untuk kalian semua."


Ucapan ibu cukup membuat Nadya meneteskan air mata, bendungan air matanya jebol seketika. Ia bisa saja memaksa putus dengan Alan, tak perduli ia akan sakit hati. Tapi bagaimana dengan Alan, ia terlalu baik. Nadya tentu merasa berdosa kalau sampai menjadi penyumbang sakit hati Alan.


Astaghfirullah

__ADS_1


__ADS_2