SULUNG

SULUNG
PELAKOR


__ADS_3

Selepas makan malam, Alan mengantarkan Nadya. Ia tak mau keluar lebih lama karena Nadya sepertinya masih tak nyaman...hem lebih tepatnya masih belum percaya Alan sudah memutuskan Jihan terlebih dirinya belum bicara dengan mama Shofi.


"Ibu bagaimana?" tanya Alan ketika sudah sampai di dekat rumah Nadya. Terpaksa ia menuruti sang kekasih yang minta turun agak lebih jauh dari rumahnya.


"Baik, beliau kangen sama kamu, cuma ya gitu." Nadya membeberkan perasaan ibu, namun dirinya juga tidak mengizinkan Alan bertemu dengan ibu selagi belum membereskan masalah perjodohan dengan Jihan.


"Nanti kalau aku sudah bicara dengan mama, jangan melarang aku bertemu dengan ibu ya?"


Nadya mengangkat alis, "Kenapa?"


"Aku kan mau putrinya, jadi aku juga mau pdkt sama emaknya lah!"


Nadya menatap Alan lekat, senyum tipis tersungging untuk pemuda itu. "Kenapa?" tanya Alan yang heran dengan tatapan intens Nadya.


"Kamu cinta banget sama aku?"


"Ck...pakai nanya lagi, sayang dan cintaku buat kamu."


"Heleh gombal, palingan sama Jihan juga gitu."


"Sumpah, aku gak pernah bilang kayak gitu sama Jihan."


Nadya tertawa ngakak, puas sekali mendengar ungkapan hati sang bos, eh masih jadi pacar atau masih mantan, entahlah.


"Besok harus keluar sama aku, aku gak mau kamu dekat sama Ihsan atau cowok lain."


"Hadeh!" Nadya mengeluh sembari memutar bola matanya jengah. Tak lama kemudian Nadya pun sudah masuk ke dalam rumah dan disambut ibu.


"Mana motor kamu?" tanya ibu yang menyambut uluran tangan Nadya, salim.


"Di kantor, Bu. Tadi diantar sama mas Alan."


"Loh kok gak mampir."


"Ibu, dia pacar orang loh!"


"Halah, pacar orang sih pacar orang tapi ibu yakin dia masih cinta sama kamu."


"Dan sayangnya kami gak bisa bersatu. Nadya bersih-bersih dulu, Bu!" pamitnya kemudian ngeloyor ke kamarnya. Menyesal juga berkata seperti itu, takut sang ibu merasa bersalah karena tak merestui hubungan mereka.


Setelah membersihkan diri dan sholat isya, Nadya pun bergabung dengan ibu di ruang keluarga, beliau sedang melipati kardus untuk orderan kue besok. Tak lupa ia membawa ponselnya karena setengah jam lalu, Alan terus mengirimi pesan.

__ADS_1


"Alan ya, Nad?' tanya Ibu ketika menyadari putrinya lebih sibuk bermain ponsel ketimbang melipat kardus kue.


Nadya hanya nyengir dan mengangguk, lalu meletakkan ponsel itu ke meja, dan beberapa detik kemudi berdering lagi. Malah panggilan video, ibu yang sempat melirik ke layar ponselnya menyuruhnya menjawabnya, meski ibu yang ngobrol karena Nadya mengambil jilbab instannya terlebih dulu.


"Kangen Ibu!"


"Eh menantu tak jadi ibu, apa kabar."


"Yah kok tetep gak jadi sih,asih cinta loh sama putri ibu." Jawab Alan dengan nada kecewa yang dibuat-buat.


"Lah bukannya udah punya tunangan ya Anak ganteng."


"Bukan saya, Bu yang mau tunangan, orang lain." Elak Alan menghindari pembahasan tentang Jihan.


"Eh...kata Naila kok udah punya calon. Kalau gitu Nadya, ibu carikan calon suami aja ya, banyak loh anak teman pengajian Ibu yang single." Entah apa maksud ibu, agak gak keterima kalau Nadya disepelehkan Alan, tapi mau gimana, Ibu sendiri yang kunjung memberi restu.


"Yah ...jangan dong. Mantu yang cocok buat pasangan Nadya itu cuma Alan, Bu!"


"Ih... ngomongin apa sih!" protes Nadya yang serba tertutup, duduk di sebelah ibu masih dengan panggilan video Alan.


"Ini lagi ngrengek jadi mantu ibu!" ucap Ibu sambil menyerahkan ponsel Nadya.


"Gak usah PHP, udah punya tunangan juga. Ngapain video call?"


Paha Nadya ditepuk ibu cuku kencang hingga mengaduh, "Sakit, Bu!"


"Gak usah ketus, wong kamu juga masih cinta." Celetuk Ibu yang membuat Alan tertawa bahagia, sedangkan Nadya hanya mendengus kesal. Ia lagi mode jutek agar Alan menjauhinya dulu eh...si Ibu malah bongkar aib. Sungguh terlalu.


Dan seperti biasa, obrolan Alan dijawab dengan ketus oleh Nadya, namun Alan tak sakit hati, wajah kesal Nadya justru membuat ia bahagia karena wajah gadis itu cukup menggemaskan. Ia justru semakin semangat menggoda untuk menjemputnya besok pagi dan mewanti-wanti agar jaga jarak pada Ihsan atau cowok lain.


Meski kesal karena kuping panas mendengar pesan Alan yang terus diulang, tapi dalam hati Nadya begitu bahagia. Cinta Alan untuknya masih begitu besar, pemuda itu benar-benar menolak Jihan rupanya.


"Besok kalau mau pergi kabari!"


"Iya!"


Karena sudah janji akan selalu memberi kabar kapan Nadya keluar dengan Ihsan, sejak berangkat kantor hingga selesai makan siang. Alan terus saja mengirimi chat pada Nadya memastikan posisi Nadya masih di kantor. Argghhh bos ganteng itu semakin rese'. Mau tak mau, ketika Ihsan menghampiri Nadya ke ruangan, Nadya pun meminta izin mengajak Alan, dan Ihsan hanya tersenyum kecut dan mengangguk lemah. Situasi macam ini, menolak Alan tapi dia bosnya, menerima Alan sama halnya bohong karena pastinya bosnya itu akan memonopoli gadis incarannya ini.


Ishhh menyebalkan.


Dengan sangat terpaksa Ihsan pun mengajak anak keuangan lain, seperti Cindy, Ersa, serta anak marketing Nafisah dan Fikri sebagai temannya menghadapi bos galaknya di mall nanti. Sialan memang merusak rencana.

__ADS_1


Rombongan karyawan dan bosnya itu pun sampai di mall, mereka berpencar mencari barang yang mereka butuhkan, dan nanti bertemu di food court lantai 3.


"Kamu mau beli apa Nad?" tanya Ihsan, ia terpaksa memberanikan diri berdiri di sisi kiri Nadya, dan tak melirik sama sekali ke sisi kanan Nadya.


"Camilan, dan kebutuhan cewek, San. Kamu?"


Nadya menghargai Ihsan, mau bagaimanapun Ihsan lah yang memberi ide untuk belanja persiapan gathering besok.


"Sama, camilan dan kebutuhan cowok juga. Barengan yuk, anak-anak udah pencar semua nih."


Ehem


Alan mulai beraksi, ia kesal karena Nadya begitu ramah pada Ihsan sampai mengabaikan dirinya.


"Ya udah bareng aja, toh kita niatnya kan memang belanja bareng. Maaf ya ada pengganggu yang tak diajak."


Ihsan hanya tersenyum kaku, dirinya masih waras untuk menahan tawa karena sindiran Nadya pada orang yang sialnya berstatus bos mereka. Kalau bukan bos mungkin Ihsan akan menyindir juga.


"Kamu nyindir aku?"


"Enggak. Situ aja yang baper, Yuk San!" Nadya pun ketus menanggapi Alan, dan meninggalkan kedua cowok yang masih bersitatap tajam.


"Mari Pak Alan."


"Gak usah deketin Nadya, dia pacar saya!"


"Oh enggak kok, Pak. Saya hanya berteman dengan dia."


"Teman tapi mesra maksud kamu?"


"Iya Pak, masak teman sepermainan." Sahut Ihsan yang langsung berlari sebelum bosnya ngomel.


"Eh...."


Hampir satu jam berkeliling mall, Nadya pun pamit sholat dan akan langsung menuju food court setelahnya. Ihsan dan Alan masih mengekori gadis itu, meski keduanya saling berdebat dan Nadya sudah malas melerainya, seperti anak kecil saja.


"Kamu duduk di sampingku aja sayang!"


"Iya aku duduk sini!" sudah lelah dan tak mau berdebat, Nadya pun memilih duduk di samping Alan. Bos ganteng itu tersenyum lalu pergi memesan makanan, meski sudut netranya terus menatap Ihsan dan Nadya yang bercengkrama..Sial...Ihsan tak kunjung memesan makanan malah mengambil kesempatan duduk berdua dengan Nadya. Ish.....


Saat Alan menuju ke meja, tiba-tiba Nadya dihampiri oleh seorang wanita dan disiram dengan air mineral. Sontak saja Nadya berjingkat, dan Ihsan pun melotot ke arah wanita itu.

__ADS_1


"Pelakor!" ucapnya dengan lantang sehingga membuat tatapan semua pengunjung mengarah ke meja mereka.


__ADS_2