
Suasana kekeluargaan dan sangat menyenangkan di villa sangat berbeda jauh dengan kediaman Jihan. Pagi menjelang siang, keluarga terpandang itu kedatangan tamu Nyonya Shofi dan Alan. Mau tidak mau, Nyonya Shofi memutuskan ide perjodohan Alan dan Jihan. Percuma saja ia memaksa kalau Alan benar-benar menolak. Apalagi Jihan sudah dinilai sangat minus dengan menyiram Nadya.
"Jeng Shofi sudah pasti tahu kan apa yang sudah dilakukan putra tersayang Anda dengan putri saya?" tanya Om Sony dengan menahan emosi, matanya tajam mengarah pada pasangan ibu dan anak itu.
"Tahu, makanya saya kesini. Ya beritikat baiklah, masa' langsung putus gitu aja!" Nah seperti inilah Mama Alan, begitu ramah dan menghadapi semua masalah dengan kecerewetannya. "Saya minta maaf sedalam-dalamnya, atas sikap Alan terhadap Jihan dan keluarga Pak Sony. Saya awalnya juga kecewa, tapi mau gimana lagi, saya gak bisa memaksa anak saya juga. Mereka nanti yang menjalani, kalau salah satu pihak terpaksa menikah dan tidak mencintai pasangannya, mau jadi apa rumah tangga mereka. Bukankah kita berniat menjodohkan anak kita agar mereka bahagia. Kalau dari awal sudah begini saya pun mau menuruti kemauan anak saya."
"Eh tidak bisa ya Jeng Shofi, itu sama saja Jeng Shofi PHP Jihan dong. Situ lupa betapa getolnya promosi kebaikan dan kegantengan Alan." Mulai deh jiwa emak-emak ala Tante Marta tak mau kalah, apalagi menyangkut kehidupan sang putri tunggalnya.
"Ya itu memang salah saya, padahal dari awal Alan juga gak mau sama Jihan, tapi tetap saya yang maksa." Nyonya Shofi begitu merendah, agar pertemuan kali ini tidak diliputi emosi dan dendam akan keputusan akhir.
"Kalau kami tidak mau memutuskan perjodohan ini?" tantang Pak Sony.
Nyonya Shofi diam, berpikir juga wajarlah karena dirinya juga memaksa untuk memutuskan perjodohan ini.
"Kalau Om mau, putri Om hidup sengsara sih gak masalah, terlebih nanti saya akan melakukan poligami." Alan yang sejak tadi kincep akhirnya bersuara. Meski hubungan dengan sang mama tidak terlalu dekat, tapi ia juga tidak mau mamanya disudutkan oleh keluarga Jihan, di depan matanya lagi.
"Maksud kamu?"
"Saya mencintai wanita lain, jelas saya akan memperjuangkan wanita saya dong, apalagi laki-laki diberikan jatah memiliki empat istri kan? Cukup adil juga nantinya, saya menikah dengan wanita pilihan mama dan pilihan hati saya."
__ADS_1
"Kurang ajar!" Om Sony dengan cepat mengambil kerah kemeja Alan dengan rahang yang mengeras.
"Pa sudah, Pa!" pinta Nyonya Marta yang kaget dengan tindakan brutal sang suami, Jihan hanya melongo sejak tadi, karena ia juga merasa malu bertemu Alan sejak aksi penyiraman pada Nadya.
"Aku gak terima kalau putri kesayanganku dipermalukan seperti ini, Ma!"
"Dipermalukan? Bahkan aku belum sebar undangan ke teman sosialita kita kan, Jeng Marta! Dipermalukan seperti apa yang kamu maksud, Pak Sony yang terhormat?" tantang Nyonya Shofi yang tak terima juga Alan dicengkrem seperti itu, ya meskipun hanya kerah kemejanya sih, hehe.
"Kami keluarga terhormat, tentu banyak yang sudah mendengar kalau Alan akan menjadi menantuku, lalu kalian ingin memutuskan sepihak apa ini tidak dipermalukan namnya?" sentak Pak Sony.
Hufh...
"Maksud kamu?" Om Sony mulai terpengaruh dengan ucapan Alan.
"Tanyakan pada putri Anda sendiri Om!" ujar Alan dengan ketus.
"Jihan!" panggil Om Sony dengan nada tinggi.
"Maaf, Pa...." Jihan berucap sambil menunduk, ia tak berani menjelaskan kesalahannya di depan sang papa. Sedangkan Pak Sony, hanya berdecak saja mendengar anaknya yang meminta maaf, itu menandakan putrinya bersalah.
__ADS_1
"Maafin Jihan, Pa. Untuk perjodohan ini lebih baik diakhiri saja, Mas Alan gak cinta sama aku, Pa. Jihan capek kalau mengejar Mas Alan juga."
Semua diam.
"Jihan juga merasa malu dan kecewa, selama ini Jihan gak pernah ditolak tapi dengan Mas Alan sejak awal ditolak, sakit rasanya. Pa." Ia menangis, kasihan juga sebenarnya.
"Papa kan orang kaya, terhormat relasinya banyak, gak usah lah menghara dengan Mas Alan lagi, masih banyak kok anak rekan papa yang lebih ganteng dan lebih kaya dari Mas Alan." Lanjutnya dengan arogansi nomor wahid.
Alan dan Nyonya Shofi yang sempat iba dengan Jihan beberapa detik lalu langsung melengos ketika kesombongan keluarga kaya itu muncul lagi.
"Jadi kamu juga mau mundur dari perjodohan ini?" tanya Om Sony pada Jihan, karena ia selalu mewujudkan keinginan Jihan.
"Iya, pacar aku juga anak orang kaya." Ceplos Jihan tanpa sadar mengungkap aibnya sendiri.
Alan tersenyum miring, "Dengarkan, Om. Mau dijodohkan dengan saya tapi masih punya pacar, bisa dianggap selingkuh bukan ya?" sindir Alan yang membuat Tante Marta gelagapan.
"Sudah, Lan." Tegur Nyonya Shofi.
"Ya sudah, saya dengan terpaksa menyetujui perjodohan ini batal. Dan saya harap, saya tidak akan menjalin kerjasama dengan kamu anak muda sombong." Ujar Pak Sony langsung meninggalkan tamunya begitu saja.
__ADS_1
"Sure!" jawab Alan mantap diiringi senyum bahagia, sudah menyelesaikan masalah perjodohan. Setelah keluar dari rumah Jihan, ia pun memberi ultimatum kepada sang mama untuk tidak menjodohkannya lagi. Ia akan menunggu Nadya sampai restu di dapat.