SULUNG

SULUNG
HAPPINESS


__ADS_3

Kelahiran bayi laki-laki yang biasa dipanggil Baby Tristan ini berhasil mengubah suasana rumah utama, menjadi lebih ceria dan ramai. Sang oma, Mama Shofi tak henti-hentinya mengabarkan pada kerabat, kolega bahkan costumer langganan usahanya tentang cucu pertamanya yang langsung dijadikan pewaris tunggal bisnisnya, butik dan beberapa outlet toko kue. Belum lagi, beliau membuka usaha baju bayi dengan menggandeng designer ternama. Alhasil, rumah utama selalu ramai menerima tamu dan hadiah untuk menengok Baby Tristan.


"Hari ini masih ada tamu?" tanya Alan yang baru selesai mandi langsung bermain bersama Teistan, mengelus pipi bulatnya dan menggoyang-goyang tangan putra sulungnya itu. Padahal Tristan lagi sibuk menyusui bahkan hampir terlelap.


"Masih...malah dapat jam tangan anak mahal banget lagi. Heran aku tuh, orang kaya kalau beli kado gak pakai mikir harga ya." Ucap Nadya sambil berbisik, khawatir Tristan akan bangun juga. Ia pun memindahkan Tristan dengan sangat hati-hati ke dalam box bayi.


Alan hanya tersenyum, ia menepuk sisi ranjang yang kosong agar sang istri juga merebahkan tubuhnya di sisi Alan. "Anggap aja, rizekinya Tristan. Kangen banget aku."


Nadya langsung menatap tajam sang suami, gelagat manja sang suami membuat Nadya curiga. "Aku masih nifas, Mas."


"Pakai cara lain dong, kan udah ahli. Awww..." Alan meringis karena cubitan di lengannya. Nadya mendengus kesal, suaminya itu selalu ketagihan dengan tubuhnya. Bahkan Nadya hanya libur saat di rumah sakit saja, selebihnya Alan terus menempel di dekatnya. Menyebalkan.


Nadya khawatir saja setelah nifas bisa-bisa kebobolan kalau Alan bersikap manja terus, terlebih mama Shofi melarangnya untuk KB. Beliau meminta banyak cucu dari Alan, karena si Ardhan masih belum mau menikah. Tentu permintaan sang mama sangat disetujui Alan. Nadya pasrah sajalah, tak mau ambil pusing. Mau hamil lagi gak pa-pa, berjarak juga gak pa-pa. Sekarang ia hanya menikmati menjadi ibu baru yang harus bahagia, memberikan ASI untuk Tristan sebanyak mungkin.


Alan pun begitu, urusan bisnis di luar kota diserahkan pada Rilo saja, sebisa mungkin ia tak mau lama keluar kota atau negeri. Kalaupun kepentingannya mendesak dan lama, pasti Nadya dan Tristan diboyong untuk ikut.


Kini, bayi ganteng itu sudah bisa jalan, mengoceh tak jelas menambah tingkah lucunya. Beberapa kali Nadya mengajak Tristan ke kantor Alan, dan disambut bahagia oleh teman kantor Nadya dulu. Mereka berebut menggendong Tristan, bahkan ada yang menawari Tristan jadi menantunya. Allahu Akbar.

__ADS_1


*Gak dapat Pak Alan, dapat anaknya buat jadi mantu boleh lah.


Aduh Pak Alan junior ini kok ganteng banget ya.


Bakat playboy neh*


Nadya hanya tersenyum ketika sang anak dipuji begitu. Berbeda dengan Alan yang cemberut di kala Tristan digendong sana sini.


"Nanti Tristan capek Sayang diajak main mereka, bawa ke ruangan ku saja." Protes Alan.


"Hem....baiklah."


"Jangan cemberut dong,..cup." Nadya mencium sekilas bibir Alan, namun seorang pebisnis seperti Alan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menekan tengkuk sang istri. ********** pelan dan lembut namun tetap menuntut, tangannya sudah tak bisa dikondisikan, hingga


"Orang tua gak ada akhlak, anaknya dibiarkan sama karyawan eh... bapaknya malah enak-enakan." Suara Rilo berhasil memisahkan tautan bibir Nadya dan Alan. Sontak saja Nadya menunduk malu, baru kali ini ia kepergok mesum di ruangan sang suami. Ia pun segera turun dari pangkuan Alan dan segera mengambil Tristan.


"Halah...bentar lagi ma Pak Rilo bakal ngerasain juga." Cibir Nadya kesal.

__ADS_1


"Nikahnya itu buat legalitas saja sayang, dia mah udah celap celup ke mana-mana. Pacarannya sama siapa, nikah sama siapa." Sindir Alan. Yah...Rilo pacaran lama dengan Vika tapi menikahnya dengan Mutia bulan depan. Cukup mengejutkan tapi mau bagaimana lagi, mereka yang menjalani.


"Sindir aja terus.....denger ya Nadya, nanti gue saingan sama kalian buat cetak yang lebih lucu lagi."


"Heleh, kamu baru mau cetak yang pertama, gue udah mau dapat yang kedua." Balas Alan tak mau kalah.


"Apaaaaaa?"


"Massss." Nadya ikut geram karena Alan membocorkan kehamilan kedua Nadya yang masih 8 Minggu.


"Hobi apa gimana sih, Tristan baru jalan udah punya adik, hadeh...."


"Biarin aja, udah sana hush..." Alan mendorong Rilo untuk keluar dari ruangannya. Jika ada Nadya dan Tristan ia lebih memilih memanjakan mereka. Entahlah, rasanya Alan selalu ingin berdekatan dengan mereka. Hanya ada rasa syukur dan bahagia bila menatap sang istri. Hubungan yang sempat putus sambung, tak ada restu, menguras emosi dan patah hati. Kini semakin bahagia dengan kehadiran Tristan dan adiknya. Tak ada ungkapan yang bisa menggambarkan kebahagiaan Alan selain...


"Makasih sudah membuatku bahagia dengan memiliki kalian berdua." Ucapnya sambil memeluk Nadya yang menggendong Tristan.


"

__ADS_1


__ADS_2