
Dengan menggunakan piyama Teddy bear, Nadya menemui si babang ganteng versi Naila. Terkejut sampai terbengong, Nadya menemui tamunya.
Alan, mau apa dia?
"Ngapain, Pak?" tanya Nadya ketus, biarlah dia dianggap tak sopan oleh bos rese'nya lama-lama kalau dia tidak membangkang bisa semakin ngelunjak tuh bos.
"Cuma mau nganter ini!"
Lagi... Nadya bengong, ada martabak telor dan martabak manis dengan cita rasa premium ala mall mewah diberikan Alan kepada Nadya.
"Buat?"
"Saya kebetulan lewat sini, sekalian saja beli ini buat kamu, itung-itung sebagai tanda terimakasih karena menemani mama saya belanja."
"Oh, terimakasih juga." Nadya masih menjawab dengan sedikit ketus, pasalnya outlet yang menjual ini jauh dari rumah Nadya, klise sekali alasan Alan, bilang aja mau ngapel.
"Kalau begitu saya balik dulu, ya. Besok saya jemput!"
"Saya besok bareng Mbak Ersa kok, Pak. Bapak gak perlu repot-repot jemput saya."
Alan hanya mengangguk, tak mungkin juga ia memaksa gadis itu. Apa yang diucapkan Rilo tadi siang bakal ia lakukan sedikit demi sedikit. Ada gunanya juga si playboy itu ternyata.
'Nadya tuh cewek punya prinsip, Bos. Kalau mau menaklukkannya harus pakai strategi, Pepet terus pelan-pelan aja, jangan langsung gas pol'
Oke...sejak hari ini, Alan punya tugas baru yaitu menyusun strategi untuk menaklukkan hati Nadya. Sudah saatnya dia memikirkan masa depannya dengan membangun rumah tangga, apalagi yang ia cari sekarang, harta dan jabatan sudah, pendidikan juga sudah, terlebih sang mama sudah meminta cucu, dan Nadya adalah gadis yang tepat untuk diperjuangkan melengkapi masa depannya kelak.
"Ini mah, kelihatan banget tuh bos lopdet sama Lo, Nad!" celoteh Ersa yang mulai memasukkan satu per satu martabak telor dan manis, buah tangan dari Alan.
"Makaaaan terossss katanya mau diet." Sindir Nadya yang sudah mulai khusyuk lihat drakor.
"Siapa tahu di dalam martabak ini ada jampi-jampi, yang bikin tambah cuinta sama bebeb!"
Nadya hanya memutar bola matanya jengah, sampai segitunya sih terobsesi sama Alan, padahal sudah banyak yang naksir kok masih pada antri. Nah kalau Alan nikah lomba mewek kejer dah tuh. Nadya membiarkan Ersa menghabiskan camilan dari Alan ditambah kehadiran Naila semakin membuat ricuh kamar Nadya.
Ersa memang sering menginap di rumah Nadya, apalagi dia anak rantau yang nge-kos di Jakarta. Dengan keluarga Nadya, ia cukup dekat, apalagi dengan Naila, klop banget. Setipe lagi topik obrolannya, cowok bening.
Nadya hanya fokus melihat drakor, bahkan ia sampai terisak-isak menyaksikan adegan yang menyayat hati. Tak peduli dengan Ersa yang masih ngoceh dengan Naila, lupa Bu kalau besok kerja.
Tap
Nadya sudah ngantuk, terpaksa ia mematikan laptop dan berniat tidur. Malam ini ia semakin kesal karena Naila ikut tidur. Ya Allah pengen jambak dua orang itu, ngoceh dan menguasai kasur Nadya.
Drt..Drt....
__ADS_1
Baru saja Nadya merem, ponselnya berbunyi, Pak Alan calling....
Ersa langsung menarik tubuh Nadya agar bangun, "Nad, bebeb ganteng telpon loh!"
"Angkat aja!" Nadya masih
"Ya Allah....rizeki nomplok dengar bebeb Alan malam-malam, pengantar tidur." Oceh Ersa kegirangan.
"Babang ganteng padahal naksir banget loh sama Mbak Nadya, tapi dia cuek mana jutek lagi." Gerutu Naila yang memutuskan tidur di kamarnya saja ketimbang desak-desakan di kasur Nadya.
"Halo!"
"Malam,Nad."
"Nad..Nad...bangun, dicari bos nih." Ersa berbisik dengan memukul lengan Nadya. "Maaf, Pak Alan, Nadyanya sudah tidur."
"Kamu siapa?"
"Hemmm...saya ...saya Ersa."
"Oh...baiklah."
Tut
Hanya mendengar suara Alan, Ersa kegirangan, ia sampai memukul-mukul lengan Nadya dengan gemas, lali berganti menangkup pipinya saking bahagianya mendapatkan suara merdu pengantar tidurnya. Lebay.
Bersenandung dan menggelayut manja di lengan Nadya, Ersa lakukan saat masuk lobi. Nadya sampai risih dibuatnya.
"Pagi cantik." Sapa Denis, salah satu penganggum Nadya, yang satu devisi dengan Mini. Ia pun berjalan di samping Nadya sengaja juga, sudah lama tak jumpa dengan gadis cantik yang berbalut hijab itu.
"Wih...Denis ya, makin cakep nih." Puji Ersa yang langsung nimbrung obrolan, padahal gak disapa.
"Cakep banget, tapi di PHP mulu, Mbak." Ujar Denis sengaja menyindir Nadya yang tak kunjung menerima pernyataan cintanya.
"Kapan juga PHP, aku mah udah nolak kamu." Nadya sadar siapa yang jadi topik pembicaraan Denis dan Ersa.
"Merasa buk?" ledek Ersa cekikikan.
"Ntar siang aku traktir ya, kangen nih gak pernah makan sama kamu, bareng Mini doang."
"Lihat nanti ya, Den. Cewek inceran kamu lagi dipepet juga sama cowok lain."
"Mbaaakkkk!"
__ADS_1
"Bener, Nad?" tanya Denis serius, bahkan sampai berhenti menghalangi langkah Ersa dan Nadya.
"Apaan. Gak ada, pagi-pagi gak usah dengerin radio rusak." Gerutu Nadya sambil menepuk pundak Denis dan segera berlalu, antri lift tentunya.
"Siapkan hati yang lapang, karena sebentar lagi Nadya jadi cewek orang." Bisik Ersa sebelum menuju lift yang sedang ditahan Nadya. Meninggalkan Denis yang masih terpaku dengan berita pagi ini. Sakit, Neng. Patah hati tak sedini gini kali.
"Mbak Ersa cepetan!" teriak Nadya karena sudah mendapat ocehan dari karyawan lain untuk segera menutup lifnya.
Pagi ini, Nadya harus bekerja keras menyelesaikan tugasnya karena kemarin setelah makan siang dia santai kayak di pantai, menemani belanja mama si bos. Dapat bonus belanjaan lagi, dan hari ini, Nadya siap berkutat pada laporan dengan berbagai angka, bahkan ponsel pun hanya disilent dan diletakkan di dalam tas.
"Nad, ikut saya meeting dengan semua devisi." Titah Pak Erick tiba-tiba.
"Kok dadak, Pak?"
"Entahlah, sepertinya ada hal yang tidak beres dengan proyek dengan Bu Trisya."
"Terus apa yang dibawa meeting nanti."
"Bawa rancangan biaya produksi dari Proyek Bu Trisya. Kemarin siapa yang handle ya?" Mungkin karena mendadak, Erick jadi tidak fokus, ia lupa kalau semua rancangan anggaran proyek selalu dihandle langsung oleh Erick sendiri.
"Ya Pak Erick, lah!" jawab Cindy sewot.
"Duh...iya lupa." Erick segera mencari berkas yang dia mau di lemari penyimpanan khusus proyek.
Setelah ketemu, Erick dan Nadya berjalan menuju ruang meeting, sudah ada para manajer dan perwakilan staf masing-masing devisi. Wajah mereka tegang karena kalau sudah berkumpul dengan orang penting gini pasti ada masalah.
"Nad, sini!" Erfina memanggil Nadya begitu saja, ada Rilo dan Alan di dekat Erfina, sepertinya memang masalah serius.
"Nad, kamu ingat gak proposal final yang diberikan asisten Trisya sebelum kita ke rumah sakit dulu?" Rilo mencari proposal itu, karena itu adalah proposal final yang berlanjut ke tanda tangan kontrak. Ah mumet sekali.
Saat itu Nadya hanya mencatat poin penting pertemuan dengan asisten Trisya. Tak ada pembahasan pergantian bahan baku, tapi setelah mau produksi pihak Trisya mengklaim kalau bukan ini bahan bakunya, dan bilang sudah tertuang di proposal terakhir.
"Kenapa kalian bisa ceroboh sekali sih, apa kalian ketika meeting dengan asisten Trisya bercanda saja. Dan Kamu Rilo, saya tahu kelemahan kamu soal berkas, tapi dengan masalah proposal proyek kamu selalu bisa diandalkan. Apa karena Nadya di dekat kamu lalu menganggap enteng proposal dan main percaya saja dengan Trisya."
"Dan kamu, Nadya. Saya kira kamu wanita cerdas yang bisa teliti dengan apapun keadaannya, tapi ternyata zonk. Kamu tidak layak."
Deg
Di depan umum bro, sumpah menusuk hati seketika. Banyak karyawan yang menatap perdebatan keempat orang di ujung meja meeting tersebut. Tak menyangka Alan bisa sengamuk itu, gosip tentang Alan menyukai Nadya pun terpatahkan karena gadis itu diejek di depan umum. Sadis.
"Gak usah nyalahin, Nadya. Saat itu-" ucapan Rilo segera dipotong oleh Alan.
"Cukup! Yang jelas sekarang kita sudah tanda tangan kontrak dengan penyuplai bahan baku, jelas berbeda dengan apa yang diminta Trisya."
__ADS_1
Nadya kincep, tak perlu membantah, toh memang dirinya juga turut andil saat itu, menemani Rilo meeting, dan saat itu memang baik Rilo dan Nadya cukup payah menghandle kantor karena Alan sakit.
Meeting cukup alot, banyak pertimbangan akan produksi produk makanan bayi yang akan diluncurkan, kerjasama dengan Trisya begitu rumit karena harus berganti bahan baku..Trisya yang keras kepala perlu dibujuk agar tetap menggunakan bahan baku yang juga sudah diuji kualitasnya, bahkan akhirnya Rilo memberikan unsur untuk memperpanjang kerjasama dengan Trisya setelah produk dengan bahan baku ini selesai, baru menggunakan bahan baku sesuai Trisya inginkan. Solusi ini agar kedua belah pihak tidak merugi.