SULUNG

SULUNG
SALING MENJAGA


__ADS_3

Senyum mengembang tercetak jelas di raut gadis yang sedang berjalan menuju kelasnya, sembari membawa buku ia terus bersenandung seiring dengan langkahnya. Kabar akan kakaknya yang sudah punya calon, dan calon kakak dinilai Naila cukup bisa membahagiakan Nadya, ia semakin yakin berbagi cerita dengan teman tapi mesranya. Rafly.


/Kamu pulang kapan, kakakku sudah punya calon/


Begitu pesan Naila yang dikirim pada Rafly sebelum ia berangkat kuliah.


"Ceria banget nona?" ledek Lala, sahabat Naila ketika melihat Naila begitu bahagia ketika masuk kelas dan duduk di sampingnya.


"Gue bakal nikah bebeb."


"Cih...umur belum 20 tahun mau kawin."


"Nikah bebeb!"protes Naila pada Lala.


"Kenapa sih Lo harus nikah di usia muda, gak sayang sama masa depan Lo? usia dini sudah gendong bayi."


"Eh....Gue nikah dan kawin belum tentu langsung jadi anak kaleee. Lagian biar kakak gue tuh gak mikirin hidup gue terus, kasihan, banting tulang mikirin hidup gue doang."


"Sabar, Nai. Mungkin kakak Lo juga lebih bahagia ketika Lo udah menemukan pangeran hati Lo."


Naila mengangguk, lega rasanya cara meringankan beban Nadya dengan menikahi Rafly.


/Alhamdulillah, sebulan lagi ya/


Begitu balasan Rafly, pemuda ini memang sudah diobrak agar segera menikah, terlebih karena permintaan sang mama. Rasanya mama Rafly sudah frustasi memikirkan nasib percintaan dua anak bujangnya. Yang satu gila kerja yang satu sekolah terus. Alhasil ketika Rafly dikenalkan oleh sepupunya pada sosok Naila, ia bersyukur Naila adalah gadis baik. Selama berkomunikasi dengan Naila, gadis itu memang seperti bayangan wanita yang diidamkan oleh Rafly. Semoga ketika pertemuan pertama mereka di dunia nyata bulan depan, Naila tetap sama dengan gadis yang dikenalnya selama beberapa bulan terakhir.


*******


"Ikut gue." Rilo tiba-tiba menarik pergelangan tangan Nadya ketika gadis itu sedang berjalan bersama teman-temannya di lobi. Hendak keluar menuju kantin untuk makan siang.


Sontak semua mata tertuju pada Rilo dan Nadya, apalagi wajah Rilo terkesan jutek. Apakah Nadya melakukan kesalahan hingga Rilo marah? Tapi Nadya sudah tidak pernah terlihat berhubungan dengan Rilo secara langsung, ada apa sebenarnya? Hufh....kalau dipikir lebih dalam serasa tak masuk logika.


"Duh...lepas kenapa sih Pak Rilo," Nadya berusaha melepas genggaman Rilo, ia pun agak terseok mengimbangi langkah Rilo yang panjang. Pemuda itu tak mengindahkan ocehan Nadya yang terus saja merengek untuk dilepaskan.


"Masuk!" titah Rilo membuka pintu mobil yang terparkir di depan lobi.


"Mau apa sih?" Nadya masih protes, ia tak kunjung masuk ke mobil, namun Rilo tetap mendorong pundak Nadya agar segera masuk ke mobil.

__ADS_1


"Pak..saya itu laper, kerjaan saya banyak, Pak. Duh..." Terus saja Nadya menggerutu saat Rilo sudah duduk di belakang kemudi.


"Eheeem!"


Sontak Nadya menoleh ke belakang. Alan. Melotot dong ya, kaget. Dia nyerocos gak karuan, eh ada ayang bebeb di belakang.


Puk


Alan memukul pundak Rilo, ia kesal karena sahabat playboynya itu main tarik seenaknya saja pada gadis idamannya.


"Kok bapak ada di sini?" tanya Nadya masih terkejut.


"Ck... panggilan apa itu, Nad!" protes Alan yang mendadak kesal pada Nadya hanya karena panggilan bapak.


"Biasa aja, Nad. Sama gue, manggil Alan dengan panggilan sayang kalian aja, anggap aja gue pajangan mobil."


"Guk..guk dong!" canda Nadya diiringi gelak tawa.


"Sembarangan!" Rilo main toel pipi Nadya hingga Alan harus memukul pundaknya lebih keras lagi. "Aduh, Bos. KDRT terus!"


"Makanya tangan Lo kondisiin."


"Ini kita mau kemana sih, Saya lagi banyak kerjaan nih."


"Udah tenang, Nad. Gue udah bilang Erick."


"Hufh....jangan lebih dari jam 1 ya, Pak."


"Tergantung bos lah!"


"Hem....kita keluar sampai jam berapa?" tanya Nadya dengan menoleh ke jok belakang, ternyata Alan menatap Nadya, entah sejak kapan dia menatap gadis cantik itu.


"Iya, paling lambat setengah 2 kita sampai kantor."


Nadya tersenyum, ia tidak mau pekerjaannya menumpuk meskipun yang mengajaknya adalah Alan. Ia sudah berjanji dalam dirinya, menerima Alan bukan berarti harus mentang-mentang dan tidak profesional bekerja. Alan menjadi calon suaminya ketika di luar kantor saja, ketika di kantor jelas dia atasan yang menilai kinerjanya.


Restoran yang menyajikan ayam bakar sambal ijo dipilih Rilo sebagai tempat makan siang mereka.

__ADS_1


"Jadi kapan kalian nikah?" pertanyaan Rilo yang membuat Nadya langsung tersedak. Kurang ajar.


"Hubungan kita tidak untuk konsumsi publik." Alan yang menjawabnya, meskipun tangannya menepuk punggung Nadya dengan pelan.


"Cih.....tidak untuk konsumsi publik, tapi langsung main pegang aja Lo!"


"Gue reflek!"


"Udah saya gak pa-pa!" terang Nadya dengan wajah yang sudah tidak Semerah tadi. "Pak Rilo udah deh keep silent aja kenapa sih, kan saya semakin takut menjalin hubungan dengan atasan."


"Eh....gak boleh putar balik." Cegah Alan tak terima.


"Kebelet kawin, Pak!" ledek Rilo, geli juga melihat Alan yang naksir berat dengan Nadya sampai takut sekali berpisah, wajar sih baru dimulai juga. Terlebih pemuda itu sudah lama tidak merasakan indahnya menyukai lawan jenis.


Ketiganya makan dengan sangat tenang, tak ada ledekan atau candaan yang membuat pasangan baru itu emosi. Justru Rilo memberikan saran agar keduanya tampil biasa, tak perlu menunjukkan kebucinan masing-masing. Kalau sembunyi-sembunyi justru nasib Nadya yang gak enak, dicaci para penggemar Alan bila ketahuan nanti.


"Santai aja, kalau digosipin gak usah didengar."


"Idih, kalau ngomong enak banget!" sindir Nadya dengan nada mengejek.


"Buat hidup bahagia dari diri sendiri kenapa sih Nad, kalau Lo ditanya lagi dekat dengan Alan jawab aja Pak Alan yang naksir gue."


Nadya menoleh pada Alan, ternyata cowok itu malah datar saja. "Kok gak marah dibilang Pak Alan naksir gue?" tanya Nadya heran.


"Memang kenyataannya begitu sayang."


"Gak usah lebay Lo, Lan. Kalau di kantor jangan bilang sayang-sayang."


"Cih...kenapa juga harus nurut sama si Playboy ini, Yang. Kita jalani hubungan sesuai dengan kita aja, tak perlu menghiraukan saran dia. Kayak dia cowok baik-baik aja."


"Sembarangan. Sekarang gue setia kali sama Vika."


"Iya, setiap tikungan ada." Ledek Nadya yang menyebutkan kepanjangan dari kata SETIA.


Memang sesuai ucapan Alan, pemuda itu benar-benar menjalani hubungan dengan Nadya sangat apik. Di kantor ia bahkan tak pernah sekalipun menyenggol Nadya. Membiarkan gadis itu bekerja tanpa ada gangguan dari para penggemarnya.


Kangen? Pasti. Satu gedung tapi tak bersua. Kadang ada rasa tak tahan juga untuk mengajak Nadya ke ruangannya, sekedar ditemani kerja, tapi ia waras untuk tidak menomorsatukan kepentingan pribadinya, toh setiap ada waktu luang ia selalu mengirimkan pesan pada Nadya.

__ADS_1


Pulang kantor? Alan menyempatkan mampir ke rumah Nadya, gak setiap hari sih, kalau gak ada jadwal meeting ataupun keluar kota pasti ngapel deh.


Malam Minggu? Nadya hanya tiga kali kencan dengan Alan dan itupun ditemani Rilo-Vika. Mereka sekedar jalan-jalan di mall saja. Benar-benar terlihat biasa saja menjalani hubungan ini, tak ada kebucinan tingkat dewa, yang ada hanya saling menjaga nama baik. Itu saja.


__ADS_2