
Hufh
Nadya menghembuskan nafas berat, sekarang ia sudah di depan loby kantor, sebentar lagi ia pasti akan bertemu dengan Alan, karena sejak tadi pagi Alan mengirim pesan akan menunggu Nadya di kantor.
"Ikut aku!" baru saja Nadya melangkah masuk, tangannya sudah ditarik Alan menuju lift khusus petinggi. Nadya memejamkan mata, menyiapkan hati untuk berbicara dengan Alan. Tampak sekali bos ganteng itu gusar, sama dengan Nadya, luarnya aja tampak kalem, tapi dalam hati sakit dan kecewa.
"Mas!" sapa Nadya menatap wajah Alan dengan seksama, tak tega kalau memutuskan hubungan ini lagi.
"Kita bicara di ruanganku saja ya!" lihatlah, betapa lembutnya tutur kata Alan pada Nadya, dalam hatinya pun ia tahu keputusan yang akan diambil Nadya, dan ia sedang mengontrol emosinya agar nanti bisa bicara baik-baik dengan Nadya.
Pintu lift terbuka menuju ruangan Alan, sudah ada perempuan cantik yang menyapa Alan dengan senyuman ceria, tapi sayang sang bos hanya mengangguk datar. Main mata Erfina pada Nadya seolah bertanya ada apa, namun Nadya yang berjalan di belakang Alan hanya menggeleng saja.
"Jangan ganggu saya dulu, batalkan meeting saya hingga makan siang!" Titah Alan sebelum mengajak Nadya masuk ke ruangannya.
Erfina dan Mutia hanya saling tatap.
"Mbak, mereka kenapa?" tanya Mutia kepo sambil berbisik.
"Tengkar mungkin, wajah Pak Alan semakin seram. Udah yuk balik kerja, toh ruangan Pak Alan kedap suara jadi kita gak akan dengar suara aneh-aneh percuma!" cicit Erfina diiringi tawa.
"Suara aneh apa?"
Erfina menghela nafas pendek, "Ada dua kemungkinan, suara erotis atau suara marah-marah."
"Eh..kok gitu!"
"Udah anak kecil belum nyampe, ayo kerja ntar kita disembur sama bos ganteng lagi!" Erfina pun mulai menatap layar komputernya, begitu juga dengan Mutia.
Lain halnya di dalam ruangan Alan, suasana hening masih mendominasi, Alan dan Nadya sama-sama diam, duduk bersebelahan di sofa dengan pemikiran masing-masing.
"Kita putus saja ya, Mas?" tawar Nadya dengan pandangan lurus, tak mau menatap Alan, tak tega.
"Sudah kuduga."
"Kemarin yang tak merestui hanya ibuku karena pamali, sekarang mama punya calon yang baik untuk kamu, jadi--"
"Kenapa sih kamu gampang banget menyerah, ayolah sayang, kita berjuang bersama."
"Kenapa kamu gak mencoba dekat dengan perempuan itu, Mas?"
__ADS_1
"Aku bukan tipe pria yang mau coba-coba, terlebih urusan masa depan."
"Cobalah patuh sama mama, Mas, bahagia kan beliau, turuti keinginannya. Aku takut....aku takut banget kamu jadi anak durhaka, membantah terus keinginan beliau," tumpah sudah air mata Nadya, di mulut ia begitu lancar merelakan Alan, tapi tidak untuk hatinya.
"Jangan menangis sayang!" Alan hanya bisa memberikan selembar tisu, dan mengusap air mata sang kekasih tanpa memberikan pelukan, karena ia sangat menghormati Nadya.
"Cobalah, Mas. Awal dari suka dan cinta karena terbiasa dekat, bukalah hati kamu buat dia. Aku gak mau Mas menjalani hubungan yang tak jelas restunya dari orang tua kita."
Alan menghembuskan nafas berat, "Biarkan aku egois sekali ini saja, Nad. Sudah terlalu banyak kepentinganku untuk keluargaku, aku juga ingin mencintai Dan dicintai sama kamu, itu saja."
"Ingatlah, Mas. Kalau kita berjodoh apapun jalannya pasti kita akan bersama, percayalah. Aku mohon untuk kali ini, turuti mama ya?"
Alan diam.
Nadya yang merasa pembicaraan mereka selesai pun pamit undur diri, Alan tetap pada posisi yang sama duduk diam datar sembari menautkan jari tangannya satu sama lain, membiarkan Nadya pergi begitu saja.
Yah....sejak itu, Nadya dan Alan benar-benar putus komunikasi. Keluar dari ruangan Alan saat itu, Nadya langsung menghubungi mama dan bilang kalau hubungan keduanya sudah berakhir, Nadya pun menyerahkan urusan perjodohan itu pada mama.
Beliau pun tak henti-hentinya minta maaf pada Nadya karena harus memaksa putus, tapi mau bagaimana lagi beliau juga tak mau anak sulungnya jadi perjaka tua.
"Pak Alan beneran sama perempuan tadi, Nad?" tanya Cindi ketika mereka makan siang seusai sholat dhuhur.
"Iya, mau tunangan kayaknya." Jawab Nadya dengan berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. Menceritakan pertunangan sang mantan cukup membuat hatinya teriris. Meski kabar pertunangan itu diperoleh dari Naila juga sih. Masih belum pasti juga, tapi kenyataannya gadis itu selalu menempel pada Alan. Gak ada kerjaan banget.
"Sabar ya, Nad!"
Nadya mengangguk dan tersenyum saja, memang dirasa anak keuangan, sikap Nadya sekarang lebih banyak pendiam daripada sebelumnya. Kadang kalau pekerjaan lagi longgar, ia tertangkap sedang melamun atau bahkan mengusap air matanya. Menyedihkan.
Pun dengan Alan, aura dingin dan ketus mendominasi wajah bos ganteng itu, hampir tiap hari dirinya uring-uringan, bahkan Rilo pun sampai heran dengan sifat Alan ini, beberapa kali dia terkena imbasnya dan berakhir segala macam dokumen harus melalui Rilo terlebih dulu sebelum ditanda tangani Alan.
"Sumpah, Nad. Cuma Lo yang bisa jinakin Alan." Di sinilah Rilo, di ruangan Nadya memohon agar Nadya berhubungan lagi dengan Alan. Sudah hampir tiga bulan mereka tak komunikasi dalam bentuk apapun.
Nadya dan Alan sering bertemu di meeting kantor, ataupun acara keluarga Alan. Mereka hanya sekedar tersenyum saja, tak ada saling lirik atau bercengkrama meskipun keduanya sudah berhadapan.
"Kenapa sih Pak Rilo, Pak Alan memang hobi marah-marah juga, gak ada sangkut pautnya sama aku."
"Dengerin gue, Nadya kunyu!"
"Ih...jelek banget panggilan kunyu!"
__ADS_1
"Makanya dengerin gue. Lo dan Alan putus udah berapa bulan?"
Nadya berpikir sejenak, "Tiga bulan mungkin."
"Nah...sejak itu Alan berubah, yang tadinya jutek level 5 sekarang level 25. Bayangkan Nad, melejit lima kali lipat dan Lo bisa mikir kan betapa stresnya kita bertiga. Dia semakin gila kerja tapi semakin tajir, gaji kita bertiga naik juga sih."
Sadar gak sadar Rilo hanya butuh teman curhat mengenai tingkah labil Alan, dan Nadya yang mendengarnya hanya tertawa ngakak, "Ya seimbang lah, Omelan dan gaji naiknya sebanding."
"Plis Nad, gue mending gaji normal kayak biasanya asalkan telinga, hati dan badanku sehat Nad, ayolah Nad!"
Nadya masih tertawa, ia masih meneruskan pekerjaannya sambil mendengar ocehan Rilo. "Lah sekarang Pak Rilo bisa longgar, kan? Jadi Pak Alan gak sejutek itu."
"Eh kunyu cantik, Alan lagi pergi sama Jihan makanya gue bisa napas sekarang."
"Berarti Pak Alan bisa jinak itu dengan Nona Jihan, baik-baiklah sama Nona Jihan." Saran yang membuat Nadya harus memaksa senyuman muncul di wajah cantiknya.
"Males gue sama cewek kayak gitu!" keluhnya lagi.
"Dih... ngomongin bos dan calonnya, gak takut kenak semprot?" sindir Erick yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.
"Diem Lo. Lo juga sering kan kena omel Alan?"
"Tapi kan gue punya ancaman."
"Ancaman apa?" bukan Rilo yang tertarik, tapi Nadya, heran saja Rilo yang dekat banget dengan Alan saja bisa kena omel, tapi Erick malah bisa mengancamnya.
"Gue bakal lamar Lo, lah!"
"Gebleg!" Rilo langsung melempar tutup pulpen ke arah manajer keuangan mendengar ancaman konyolnya, sedangkan Nadya tertawa ngakak, tak habis pikir ancaman konyol itu justru melunakkan juteknya Alan.
"Kelihatan banget kalau Nadya anak keuangan adalah kelemahan Alan." Ujar Erick dengan nada mengejek pada Nadya yang terdiam, mungkin terharu juga Nadya masih ada di hati Alan.
"Gak lah, sekarang tuh kelemahan Pak Alan Nona Jihan lah!" Nadya mengelak daripada ia tertangkap masih mengharap cinta Alan.
"Cie yang sudah benar-benar move on, lapang banget nyebut Nona Jihan. Gue jadi penasaran ekspresi lo kalau mereka akan segera tunangan, dan Alan keluar saat ini untuk persiapan tunangan mereka!" Ujar Rilo sebelum balik ke ruangannya.
Tunangan?
Benarkah?
__ADS_1