SULUNG

SULUNG
HUJAN


__ADS_3

Alan masih memegang gengsinya untuk minta maaf. Setelah dari cafe, ia langsung menuju ruangannya tanpa tanya ini itu pada Mutia yang sudah anteng di meja kerjanya. Erfina hanya melirik ke Mutia, "Ada apa?" tanya Erfina dengan gerakan bibir sepelan mungkin.


"Marah sama Ibu Bos." Ucap Mutia tak kalah pelan. Erfina hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja, Bos Alan? ngambek sama ibu bos? yakin deh gak bakal lama. Orang udah bucin akut, pasti gelagapan gak dengar kabar dari sang istri barang semenit, apalagi saat ini sedang mengandung anaknya, Hem paling sebentar lagi layanan intercom akan berdering kita tunggu saja.


10 menit berlalu, Erfina dan Mutia masih anteng, ruangan Alan pun masih tertutup rapat. Hingga menjelang pulang barulah ruangan bos ganteng itu terbuka.


"Saya mau langsung pulang, dokumen letakkan di meja saya saja." Ucapnya sambil menenteng tas kerjanya, dan tak lupa ponsel yang sudah menempel d telinga kanannya.


Erfina dan Mutia hanya mengangguk saja, lebih tepatnya penasaran siapa yang dihubungi. Bos melangkah menuju lift, dua perempuan itu sampai tak berkedip melihat punggung si bos yang sudah menghilang.


"Kita gak penting banget si Mbak, melihat bos Ampe segitunya." Protes Mutia dengan mencebikkan bibirnya. Mereka penasaran sih semarah apa bosnya itu pada Nadya. Kelihatan banget kalau bucin begitu, masa' iya bisa marah.


Erfina pun iseng, mengirim pesan ke manajer Erick. Setahunya manajer keuangan itu tidak ada dinas luar sore ini.


Pak Erick, Bu Bos di ruangan gak?


Tulis Erfina, sumpah deh dua sekertaris itu melakukan hal yang gak penting sekali, baru kali ini mereka penasaran dengan kepentingan pribadi si bos.


Lama menunggu, hampir 15 menit pesan Erfina dibalas.


Masih, kenapa?


Erfina melotot, tidak percaya kalau Nadya ditinggal begitu saja oleh Alan. Kejadian yang sangat langka.


"Mutia, geger dunia padepokan nih. Nadya ditinggal pulang sama Pak Alan."


"Hah? Sumpah Mbak? Marah beneran berarti." Mutia pun mendekati Erfina dan membaca room chatnya dengan Pak Erick. "Kasihan bu bos, ntar pulang sama siapa?"


Erfina mengedikkan bahu. Cukup sampai di sini urusannya dengan kepentingan pribadi Alan. Erfina pun menuntaskan tugasnya, dan segera pulang saat pukul empat lewat. Jiwa keponya sih masih dominan, iseng aja keluar dari lift menuju devisi keuangan. Dari jendela, tampak Nadya masih berkutat dengan berbagai kertas, kemudian layar komputer juga masih menampilkan excel.


"Marah beneran Pak Alan." Gumam Erfina lalu segera pulang.


Di sisi lain, Nadya pun sama dengan Alan. Ia menyibukkan dirinya dengan menyelesaikan tugasnya. Sejak balik dari cafe ia tak menyentuh ponselnya. Bahkan melirik pun tidak. Jam kantor sudah lewat setengah jam lalu, tapi anak keuangan belum beranjak untuk mengakhiri pekerjaannya termasuk dirinya.


"Kamu pulang bareng siapa, Nadya?" tanya Erick tiba-tiba. Ia baru saja mengecek pesan masuk di grup kuliahnya. Ada foto Alan yang sudah duduk di cafe bersama beberapa temannya.


"Sendiri mungkin." Jawabnya asal. Ia lagi badmood dengan Alan, otomatis enggan juga semobil. Toh sampai jam segini Alan juga tak mengirim pesan sama sekali.

__ADS_1


"Oke, gue cabut dulu mau nongkrong sama suami loh."


Nadya terdiam, mencerna ucapan Erick. Jadi Alan udah keluar kantor dan gak pamit dirinya. Masih marah rupanya, dah lah biarkan saja. Nanti juga bakal baik sendiri. Nadya pun meneruskan pekerjaannya hingga Maghrib tiba dan hujan mengguyur sangat deras. Di kantor sih masih anak keuangan masih lengkap. Memang anak keuangan paling cepat pulang selepas maghrib.


"Tumben, Nad. Pak Alan gak jemput Lo, aneh aja sejak nikah Lo gak pernah pulang semalam ini." Cindy mulai curiga.


"Eh....iya ya, biasanya Pak Alan jam 4 udah bertengger di mari, tapi sekarang..."


"Dia lagi ada meeting di luar, setengah 7 baru bisa jemput." Ucap Nadya sambil membereskan meja kerjanya, dan memasukkan charger, serta dompetnya. Berusaha bersikap santai agar Cindy dan Ersa tak curiga kalau dirinya ditinggal Alan dan gak ada kabar mau menjemputnya juga.


"Mau ditemani atau enggak. Gue mau pulang, udah dijemput teman kos gue."


"Masih hujan, Mbak Ersa." Cindy mengingatkan kondisi di luar.


"Dia bawa mobil, takut macet. Gue tinggal ya?"


Nadya dan Cindy mengangguk saja. Imel memang lagi gak masuk, alhasil tinggal dua orang yang ada di ruangan itu, dan setelah sholat maghrib keduanya turun di lobi.


"Gak pa-pa nih gue tinggal?" pamit Cindy, hujan sudah mulai reda. Tinggal pakai jas langsung jalan, daripada nunggu lama khawatir malah hujan susulan.


"Iya gak pa-pa. Bentar lagi, Mas Alan jemput kok." Ujar Nadya tetap santai, Cindy juga tidak curiga. Sejak duduk di lobi tadi, Nadya memang bermain ponsel, mungkin menghubungi Alan. Tapi siapa sangka, Nadya ternyata memesan taksi online.


Alan tiba di rumah tepat isya. Ia langsung menuju ke kamarnya, betapa terkejutnya Nadya tidak ada di kamar. Ia pun menuju dapur karena mungkin Nadya dan mamanya menyiapkan makan malam.


"Nadya mana?" Belum juga Alan bertanya pada mama, eh sudah ditodong pertanyaan yang sulit dijawab Alan.


"Dia belum pulang, Ma?" Alan balik tanya.


"Maksud kamu? Kamu gak pulang bareng sama dia?" Mama sudah naik pitam, suaranya sudah meninggi. Alan pun tak berani menatap wajah beliau. Sejak tinggal di rumah utama, Nadya selalu diperhatikan sang mertua. Wejangan tiap hari untuk menjaga Nadya pun terus Alan terima sampai bosan malah, dan sekarang ia sekali mengabaikan wejangan itu. Mama murka.


"Kamu jangan menyesal ya kalau Nadya kenapa-napa."


"Bisa-bisanya kamu nongkrong gak ingat jemput istri."


"Ingat istri kamu lagi hamil, mana sekarang hujan. Kamu tuh mikir apa sih, Lan.


Berbagai omelan dari Mama menemani Alan malam itu, dua telinga bekerja secara berbeda. Yang kanan mendengar nada sambung ponsel sang istri, yang kiri mendengar omelan mama. Bahkan beliau lemas karena overthinking terhadap keadaan Nadya.

__ADS_1


Alan yang menghubungi kantor semakin lemas tatkala Pak Satpam mengatakan Nadya sudah pulang naik taksi selepas maghrib tadi.


"Kebangetan kamu, Mas." Cecar Ardhan kesal dengan sikap Alan yang kekanak-kanakan akibat cemburu.


Alan hanya diam, tak mengelak ataupun menyanggah omelan mama ataupun sang adik. Ia khawatir, sungguh khawatir keadaan istrinya.


*Kamu di mana sayang???


Astaghfirullah, maaf sayang*


Alan masih terus menghubungi Nadya hingga telpon rumah berdering. Bi Min, ART di rumah utama mengangkat telpon dan menyapanya. Beliau langsung memberikan kepada Alan karena yang menelpon adalah Nadya.


"Kamu di mana sayang?"


"Aku di minimarket jalan X, udah dekat ke rumah sih. Cuma kejebak banjir, macet kasihan pak taksinya nanti kalau putar balik, banyak jalan yang ditutup. Jadi aku terpaksa turun di sini. Bisa jemput aku?"


"Aku jemput, tunggu di situ saja."


Alan tak berpikir panjang. Ia hanya memikirkan Nadya. Tanpa berpamitan ke mama atau Ardhan ia mengambil kunci motor dan jaket, segera ke garasi dan memakai mantel. Melaju dengan hati-hati menuju minimarket tempat Nadya berada.


Jarak minimarket dari rumah utama memang lumayan dekat, gak sampai 15 menit Alan sudah sampai. Ia terpaksa melewati jalan alternatif untuk menghindari banjir. Terlihat kendaraan yang mengular, pantas saja Pak Taksinya ngotot menurunkan sang istri di sini.


"Kamu gak pa-pa?" tanya Alan begitu melihat Nadya duduk dengan teh hangat di depannya.


"Gak pa-pa, Mas. Cuma khawatir aja orang rumah nyariin aku, jam segini belum pulang." Ucapnya dengan nada lembut, sambil menatap Alan dengan canggung.


Alan duduk di sebelah Nadya, menggenggam tangannya erat. "Kenapa gak telpon?"


"Aku ceritanya lagi ngambek sama kamu."


Alan tersenyum, "Maaf, aku yang salah. Gak seharusnya aku cemburu juga." Jawab Alan sambil memakaikan jaketnya di tubuh Nadya. Nadya tersenyum manis, inilah Alan suaminya yang begitu perhatian meskipun cemburu akut. Betapa bersyukurnya mendapat suami seperti dia, paket komplit tidak ada duanya.


"Halo baby...maaf ya, papa gak jemput mama di kantor tadi?" sapa Alan sambil memegang perut Nadya.


"No problem papa." Jawab Nadya berlagak anak kecil sambil tersenyum.


"Nanti malam papa tengokin deh." Ujar Alan sambil menatap wajah cantik Nadya dengan seringai mesumnya. Sedangkan Nadya hanya memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Ujung-ujungnya ke situ." Gerutu Nadya diiringi tawa sang suami.


__ADS_2