
"Maksud kamu kita berteman saja?" Alan kembali memastikan apa yang diucapkan Nadya barusan. Dia ditolak kah?
"Ya berteman, Mas Alan. Gak usah pakai status pacaran, atau lebih tepatnya atasan dan bawahan."
Alan tersenyum miring tak menyangka respon Nadya justru tak mau menjalin hubungan dengannya lagi. Beneran ditolak nih?
"Kenapa?"
Nadya tersenyum tipis, mengubah posisi duduk dengan menatap lampu-lampu Villa. Pandangannya lurus tanpa menatap ke arah wajah tampan di sampingnya.
"Capek." Ucapnya santai, menoleh sebentar lalu menatap lurus lagi. "Kadang kalau menuruti ego, aku juga pengen sama kamu, Mas. Gak mikir pamalinya ibu. Bahkan, kalau diajak kawin lari sama kamu aku juga mau."
"Ayo, sekarang?" tawar Alan dengan senyum mencibir juga.
Nadya terkekeh. "Gak lah, pernikahan itu seumur hidup, doa dan restu orang tua pasti yang utama untuk kebaikan kehidupan berumahtangga. Aku gak maulah maksa keadaan yang ibuku gak setuju, meskipun gak masuk akal juga."
"Emang gimana sih perasaan kamu ke aku, sayang?" tanya Alan.
"Sayang, cinta sama kamu. Pengen nikah sama kamu."
"Trus kenapa mau berteman sama aku."
Puk... Nadya memukul lengan Alan, "Dibilangin capek kok."
"Iya capek gimana?"
__ADS_1
"Capek, putus sambung. Capek gak dapat restu, capek bertahan kalau ujung-ujungnya gak jadi nikah. Kasihan cowok yang antri."
"Siapa cowok yang antri kamu?" tanya Alan ketus.
Nadya menempelkan jari telunjuk sambil berpikir, mengawang cowok yang antri untuk dirinya. "Saat ini gak ada sih, gak tahu kalau kamu jauh dari aku nanti. Pasti banyak."
"Ck... sombongnya, Masya Allah, Nyonya Alan."
"Apaan sih!"
"Meski kamu mau berteman sama aku, tetap saja aku gak mau. Aku tetap menganggap kamu wanitaku."
Nadya tertawa sampai menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Wanitaku. Hadeh.... gombalnya jago banget."
"Dibilangin gak percaya, udah ah gak usah berteman-berteman segala. Kita tetap saja, jadi pasangan kekasih, ya?"
"Tapi aku juga gak mau."
"Kita coba pasti bisa, Mas. Kita punya hubungan juga karena terbiasa, begitupun dengan berteman pasti akan terbiasa juga."
"Jangan dong, Nad. Tiga bulan kemarin tuh benar-benar buat aku linglung. Kamu tanyakan deh sama orang yang udah aku sembur."
"Percaya, Mbak Ersa udah pernah kena juga."
"Nah makanya, jangan bikin aku linglung gitu lah sayang."
__ADS_1
"Belajarlah, siapa tahu ada cewek yang sudah dipersiapkan sama Allah buat kamu, Mas."
Alan terdiam, ia sadar Nadya memang sudah putus asa akan hubungan ini. Tapi egonya masih ingin mereka menjadi sepasang kekasih.
"Ya udahlah, Nad. Biarkan aku bertahan akan perasaan ini, dari awal aku juga minta untuk putus pelan-pelan."
"Silahkan, itu hak kamu, mas. Tapi tolong jangan bersikap posesif sama aku ya!"
"Gak janji, apalagi kalau urusan dengan cowok, aku gak rela lah. Aku berjuang buat dapetin kamu susah banget tahu."
"Terserah..Terserah, semoga bukan aku yang berurusan dengan cowok, tapi kamu yang mendapat pasangan lebih dulu."
"Kenapa sih doanya kayak gitu."
"Ya karena aku gak mau maksa keadaan. Oke kalau gak bisa bersatu, maka gak usah dipaksa."
"Dan bukan Alan namanya kalau tidak berjuang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan."
"Udah ah, cukup pembahasan kali ini. Kita sama-sama ego tinggi, jadi tidak akan ada titik temu. Kita jalani saja sesuai hati nurani kita masing-masing. Asalkan tidak menggangu kenyamanan satu sama lain. Oke."
" Gak oke."
"Terserah." Nadya beranjak pergi, merasa sudah cukup ngobrol dengan Alan malam ini.
"Aku antar."
__ADS_1
"Terserah." Nadya pun melangkah lebih dulu. Setiap langkah ia memantapkan diri, harus legowo putus dari Alan, harus lapang kalau suatu saat nanti Alan menemukan tambatan hatinya, tapi dalam sudut hatinya masih ada harapan agar ia menjadi wanitanya Alan sesungguhnya.