SULUNG

SULUNG
BERDEBAT


__ADS_3

Mobil kantor sudah berada di halaman rumah mama Shofi, Pak Dul menurunkan koper Alan dan membawanya masuk dan meletakkannya di depan kamar Alan. Pak Dul pun segera pamit, karena Nadya nanti akan diantar Alan sendiri. Nadya masuk ke kamar tamu untuk membersihkan diri dan segera sholat maghrib yang mepet dengan isya.


Tok


Tok


Tok


Mama Shofi mengetuk pintu kamar tamu, memberikan kaftan untuk ganti Nadya. Kasihan kalau masih mengenakan baju kantor.


"Gak usah deh, Ma. Gak pa-pa pakai baju ini. Gak lama juga kan aku di sini." Tolak Nadya, tak enak juga karena sepertinya kaftan itu baru. Tag price masih menempel.


"Ayolah, Nad. Mama kangen sama Alan. Agak lama ya di sini, mama nimbrung deh. Nanti pulang jam 10an yah. Nanti kalau kamu pulang, Alan juga ikut pulang."


Nadya memandang Mama Shofi iba. Terlihat jelas beliau kurang perhatian oleh orang terdekatnya. Sampai memohon pada Nadya agar Alan tetap di rumah beliau. Miris sekali.


"Nanti kalau ibu kamu marah, mama yang bela." Makin tak enak saja, Nadya pada mama Shofi. Hufh...benar-benar ya Alan itu. Gak perhatian banget sama emaknya.


"Iya, Ma."

__ADS_1


"Nah, ganti baju ini ya atau pakai baju Naila, masih tertata rapi kok di kamar Ardhan."


"Iya, pakai baju Naila aja, Ma."


Nadya pun diantar mama shofi ke kamar Ardhan, mengambil kaos dan celana jeans serta jilab serut milik Naila. Pasti Alan komplain karena Nadya memakai baju Naila yang biasanya press body.


Setengah 8 malam, Nadya, Alan dan Mama Shofi duduk di ruang keluarga. TV dibiarkan menyala dengan volume kecil, sedangkan ketiganya terlibat obrolan serius.


"Nanti kalau kalian menikah mau tinggal di mana?" tanya Mama Shofi tiba-tiba. Padahal beberapa detik lalu topiknya masih seputar bisnis IT Alan.


"Ya di rumah Alan, Ma." Jawab Alan to the point.


"Nadya juga bingung, Ma. Kalau Nadya menikah ibu sama siapa. Nadya sadar juga kalau pasti ikut mas Alan." Ucap Nadya sendu.


"Gak usah sedih sayang, rumah ibu, rumah mama cuma setengah jam dari rumah aku. Kita bisa bolak balik. Yang pentinv kita punya privasi untuk keluarga kecil kita."


"Iya aku tahu." Jawab Nadya lirih. Mama Shofi memperhatikan wajah Nadya. Memang ketimbang Naila, sosok Nadya lebih penurut pada ibunya. Alhasil, masalah perasaannya pun ibunya sangat menentukan.


"InsyaAllah, setiap orang tua yang merestui anaknya menikah pasti sudah ikhlas kalau terpisah tempat tinggalnya. Terlebih anak perempuan yang harus ikut suami."

__ADS_1


"Aku gak bakal melarang kamu ketemu Ibu, sayang."


"Ya siapa juga yang mikir gitu, Mas." Protes Nadya ketus. Alan sangat baik, Nadya tak pernah terbersit pemikiran seperti itu.


"Menikah itu ibadah sabar terlama. Ujian cinta kalian bisa datang dari segala arah. Untuk itu tetaplah menjaga cinta kalian sampai maut memisahkan. Mama ditinggal papa dulu juga linglung. Istilahnya separuh jiwa mama pergi. Meninggalkan dua anak laki-laki dengan perusahan besar, tentu sangat sulit. Mama pun sangat berterimakasih pada Alan. Mau mengemban amanah papa dan banting setir pindah jurusan."


"Noh...mama udah mengapresiasi kehebatan kamu. Peluk gih." Usul Nadya dengan senyum mengejek.


"Mama sekarang bilang makasih, beberapa tahun lalu gimana mengomeli aku dan Ardhan tentang perusahaan. Hampir setahun mama jadi monster."


Mama Shofi yang duduk di dekat Alan langsung menonyor pipi putra sulungnya. "Sembarangan."


"Cih..mama gak ngaku. Emang bener kok. Apalagi perusahan sudah baik eh....malah bikin perjodohan. Itu yang bikin aku malas tinggal di sini. Lagian nih ma kalau belum waktunya aku ketemu jdoohku, usaha mama gak bakal berhasil."


"Jelek amat doamu, Lan."


"Lah bener kok, udah berapa kali mama promosiin aku ke teman mama. Malu kali. Kaya' aku gak laku aja."


"Lah emang waktu itu kamu gak laku." Mama Shofi masih ngotot. Nadya terbengong. Perdebatan mama shofi dan Alan malah berlanjut. Jadi bingung sendirikan, tadi memohon agar Alan lebih lama di rumah utama, eh...sekarang malah diajak tengkar.

__ADS_1


Alan juga, byuh dikit aja ngalah sama Mama juga gak bisa. Ya Allah, apa ini cara perhatian keduanya, ah...sangat menyebalkan.


__ADS_2