
"Mas Alan!" panggil seseorang yang berhasil membuat Alan terpaku di tempat ia berdiri, tak jauh dari meja Nadya dan teman-temannya hingga Nadya pun ikut menoleh ke sumber suara.
Intens Nadya menatap ke arah seorang gadis cantik, mungkin usianya sepadan dengan Nadya, yang mendekati Alan. Tak lama kemudian, Nadya dibuat melongo, gadis itu langsung merangkul lengan Alan begitu saja, terlebih ucapannya membuat Nadya seketika terdiam.
"Katanya tadi gak bisa datang? Eh...kok tiba-tiba muncul di sini, pasti Mas Alan mau kasih kejutan ke Jihan, kan?" ucapnya dengan suara yang dibuat manja, byuh panas nih kuping.
"Loh, Lan? Katanya banyak kerjaan?" belum sempat menjawab, mama Alan datang dari arah toilet dengan membawa tas jinjing.
"Ayo kita di private room aja!" ajak gadis itu yang masih betah bergelendot di lengan Alan, meskipun Alan berusaha melepasnya. Terlebih pandangan Alan menuju Nadya yang sama sekali tak menggubrisnya, entah gak mau tahu atau gak mau lihat.
"Apaan sih!" sentak Alan ketus, tepaksa ia menghempaskan tangan Jihan, risih. "Aku mau ketemu sama Nadya di sini, bukan sama mama atau cewek ini." Ujar Alan menjelaskan pada mama yang sontak mendengar nama Nadya langsung celingukan.
"Jihan, Mas!" ralat gadis itu dengan manja, malah sekarang menempelkan tubuhnya pada Alan, dih.
"Mana Nadya?" tanya mama kaget.
Alan pun meninggalkan ibu dan Jihan lalu mendekati meja Nadya, saat itu gadisnya sedang berbicara dengan teman perempuannya yang kemungkinan kerja di Bank konvensional, dilihat dari seragamnya. Buru-buru Alan mendekati Nadya, namun sayang Mama dan Jihan ikut mendekat.
Nadya yang awalnya tak mau merusak suasana cafe dan reuninya, kini harus memasang wajah ramah pada Mama Alan, bersikap menghormati saja pada mertua sang adiknya itu.
"Eh mama, assalamualaikum!"
"Ya Allah, Nad. Mama kangen!" ucap beliau sambil memeluk calon menantu tak jadinya ini. "Mbak pinjam Nadyanya sebentar ya?" izin mama Alan pada teman Nadya yang diajak ngobrol tadi, mau tak mau Sela, salah satu teman Nadya mengangguk juga. Membiarkan Nadya dibawa oleh wanita paruh baya yang cantik dan elegan itu.
" Mama apaan sih, sini Nad sama aku aja!" pinta Alan yang menghalangi langkah mama mengajak Nadya berbicara, namun langkah Alan harus terhenti karena rengekan gadis manja di sampingnya.
__ADS_1
"Dia siapanya kamu sih Mas, Tante Shofi aja gak seramah gitu sama aku!" celotehnya sambil cemberut, namun lagi-lagi Alan tak menghiraukannya. Fokusnya hanya pada Nadya dan mama yang sedang duduk di meja nan jauh dari Alan dan Jihan. "Mas!" tegur Jihan geram karena dirinya tak digubris sama sekali.
"Alan?" panggil seseorang, bos ganteng itupun menoleh dan seketika moodnya semakin anjlok. Ada Nathan yang menghampiri tempat duduknya bersama Jihan. Entah apa maksud pemuda itu mendatangi meja Alan, yang jelas Alan harus berterimakasih pada Nathan yang bisa dijadikan pengalihan dari ocehan Jihan.
"Duduk, Dis!" ucapnya sok ramah, "Gue panggil Yudis aja ya, meniru Ibu!"
Nathan hanya mengangguk saja. Ia tahu Alan sangat tidak nyaman duduk berdampingan dengan gadis itu, dan sedari tadi panda Alan ke arah Nadya. Nathan sadar kalau sahabatnya itu telah dicintai laki-laki yang sedang duduk resah di depannya.
"Memang siapa, Lan?" tanya Nathan yang melirik sekilas ke arah Jihan, hanya basa basi saja.
"Anaknya teman nyokap gue!" jawab Alan asal.
"Plus calon mantu!"
"Gak usah ngarah deh!" sentak Alan tak suka, terlebih ada Nathan yang notabenenya naksir Nadya. Jangan sampai gadis manja ini mengumbar apa yang direncanakan oleh mama bisa bahaya.
Nathan hanya mengangguk saja, "Udah ada calon ya, Nadya free dong?"
"Gak usah ngasal juga." Balas Alan dengan ketus. Enak aja bilang fra fre fra fre, dapetin Nadya tuh susah. Main ambil aja.
Lain halnya Alan, kini Nadya diajak bicara serius sama mama Alan. Duduk berdampingan dengan tangan mama terus menggenggam tangan Nadya, seolah mengatakan beliau tak rela jauh dari Nadya.
"Menurut kamu gimana, Nad?" tanya mama Alan setelah meminta Nadya bicara jujur akan hubungannya dengan Alan beserta restu besannya dan beliau pun mengutarakan niat beliau juga.
"Kami sepakat untuk menjalani dulu, Ma. Kemarin-kemarin sempat menghindar, tapi gak bisa juga, makanya kita masih bareng kayak gini."
__ADS_1
"Mama tahu, Nad. Alan tuh kalau udah cinta dan sayang sama cewek, gak bakal bisa move on. Amanda aja baru bisa move on berapa tahun. Entahlah anak itu susah banget buat suka sama cewek."
Nadya mengulas senyum tipis, ada rasa bahagia juga mendengar sifat Alan yang sangat setia pada satu wanitanya.
"Kalau kalian stuck kayak gini, kapan nikahnya?"
"Nadya juga gak tahu, Ma. Nadya juga gak suka dengan hubungan gak jelas kayak gini."
"Kalau begitu kamu jauhin Alan saja ya, Nad. Sebagai ibu juga gak nyaman kalau perasaan anak saya digantung sampai kapan karena pamali gini. Mama membawa Jihan, berniat menjodohkan sama Alan. Kamu bisa bantu mama kan buat meyakinkan Alan?"
Nadya hanya diam. Menjauh dari Alan? Lalu membiarkan Alan berjodoh dengan gadis lain, heh ...takdir apa lagi ini. Kenapa sih banyak banget rintangan buat halal dengan Alan. Apa mungkin pamali ala Ibu sudah berjalan? Astaghfirullah.
"Mama yakin itu terbaik buat mas Alan?" tanya Nadya tegas. Oke ... kondisi saat ini, baik ibu dan mama sudah menuju tak memberi restu, ada baiknya Nadya memang segera ambil keputusan.
"Mama yakin, Nad. Secara garis keturunan baik, ya ..bibit, bebet dan bobotnya mama sudah yakin."
Nadya pun memalingkan wajahnya ke arah Alan berada, pandangan keduanya bertemu, bos ganteng itu tersenyum padanya, ah senyuman itu. Relakah Nadya melepasnya? Saat ibu tak kunjung memberi restu, tapi membiarkan mereka untuk menjalani hubungan, ada rasa lega pada Nadya. Tapi sekarang, calon mertuanya memilih jalan lain. Meski tak rela, tapi Nadya takut kalau memaksa tetap menjalani hubungan ini, Mama Alan akan murka dan menjadi sosok ibu mertua kejam ala drama melankolis ikan terbang.
"Nadya coba ya, Ma. Mas Alan harus diberi alasan yang logis agar percaya."
Mama Alan hanya tersenyum lalu menepuk genggaman tangan Nadya. "Mama sayang sama kamu, Nad. Andai kamu tidak berkorban demi Naila, mama pun langsung menyetujui Alan nikah sama kamu."
"Belum rizeki Nadya, Ma untuk jadi nyonya Alan." Jawab Nadya masih dengan tenang.
"Maafin mama ya, Nad!"
__ADS_1
"Mama gak perlu minta maaf, sebagai ibu pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya." .
Sekali lagi Nadya dipeluk erat oleh mama Alan. Berat hati beliau melepaskan calon mantu baik seperti Nadya, tapi mau bagaimana lagi. Membiarkan Alan jomblo terlalu lama cukup bahaya, lantaran putra sulungnya itu masa bodoh dengan urusan cinta. Hem takut jadi perjaka tua.