
Voucher belanja senilai lima ratus ribu di supermarket milik Alan, diberikan pada pasangan Edo dan Niken ya memenangkan game pasang bulu mata ini. Mereka berhasil menuntaskan tantangan tersebut kurang dari satu menit. Luar biasa, bahkan Nadya pun berceloteh "Wuih...Mbak Niken, pantas jadi MUA nih."
Todongan traktiran disanggupi Alan, malam nanti akan ada acara barbequan yang semua bahan dibelikan Alan, eh...lebih tepatnya dibelikan pakai uang Alan tapi yang belanja tetap Rilo, kekekek.
Tepat pukul setengah 11 siang, cuaca cukup mendukung saat itu, tidak terlalu panas hanya mendung saja. Sekarang tim acara ikut dalam kegiatan outbound, penanggung jawab outbound tetap saja langsung dari EO.
Outbound ini dilakukan secara berkelompok. Setiap orang akan mengambil undian yang menentukan di kelompok mana ia akan berada.
Nadya, Cindy, Erick, Ihsan, dan Mini menjadi satu kelompok. Alan yang tahu Nadya satu kelompok dengan Ihsan, ketar-ketir juga karena sejak tadi Ihsan berusaha dekat dengan Nadya meskipun Alan selalu setia di samping Nadya.
"Gue ikut dong, tapi masuk kelompok Nadya boleh?" interupsi Alan secara tiba-tiba. Mereka sih hanya mengangguk saja, tapi Nadya hanya berdecih dan memutar bola matanya malas. Posesif sekali batinnya.
"Awas aja kalau melarang aku ini itu, aku di sini buat refreshing bukan diikat terus sama kamu." Omel Nadya ketika Alan sudah berdiri di sampingnya, mendengar instruksi kegiatan outbound yang pertama.
"Tergantung lah, kalau urusan sama cowok beda lagi." Ucap Alan dengan wajah datar dan menoleh sinis pada Nadya. Sedangkan gadis cantik itu hanya mendengus kesal, lagi-lagi sifat posesifnya keluar.
"Cowok apaan sih." Gemes Nadya pada peringatan Alan, padahal dia tak pernah dekat dengan cowok lain. Kalau dengan karyawan lain juga hanya sebatas pekerjaan, tak pernah chat pribadi sekalipun.
"Noh...ada yang melirik kamu terus, untung aja aku dekat sama kamu."
Nadya pun menoleh ke arah kanannya, tampak matanya bertemu dengan mata Ihsan, mungkin kepergok menatap Nadya, Ihsan pun mengangguk sambil tersenyum padanya.
"Ihsan yang kamu maksud?"
"Siapa lagi."
Nadya terkekeh, "Oke."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Gak ada maksud!" jawab Nadya tegas, ia pun kembali fokus pada aturan instruktur outbound.
Tak berselang lama, setiap kelompok sekarang sudah membawa pipa yang dihubungkan dengan beberapa tali rafia. Di atas pipa diberi bola kasti, dan tali rafia dipegang oleh setiap orang dalam kelompok tersebut. Setiap kelompok harus membawa bola tersebut hingga ke garis finish.
Konsentrasi, dan kerja sama adalah kunci dari permainan ini. Masing-masing kelompok sudah bersiap di garis start. Begitu peluit dari instruktur berbunyi, mereka berlari berhamburan menuju pipa dan bola tersebut.
"Pegang talinya yang kenceng, jangan sampai kendor. Perhatikan langkah kita jangan sampai langkah kita keserempet dengan kaki kawan. Mengerti?" ucap Alan serius, meskipun ini hanya permainan tapi jiwa pemimpinnya masih mendominasi.
Kelompok Alan pun mulai bergerak dengan pelan, mata mereka fokus pada pergerakan bola yang mulai oleng karena pergerakan langkah mereka.
"Allahu Akbar, eh pelan-pelan nariknya!" ketus Cindy yang deg-degan juga, bola agak oleng mau jatuh.
"Fuh..Fuh..." Nadya malah bertingkah konyol, meniup bola itu agar tidak oleng ke kiri.
"Cuma niup aja, lagian gak ngaruh juga!" bantah Nadya jutek.
"Eh tarik-tarik Mini." Titah Erick terburu-buru. Mini kaget hingga dia menarik kuat talinya, dan....
Bola jatuh.
Kelompok Alan kalah.
Nadya langsung ngelempos ke tanah, wajahnya cemberut, tinggal lima langkah lagi menuju finish. "Capek gue." Rengek Nadya kesal.
Cindy hanya jongkok sambil menunduk, menghembuskan nafas pelan, keringat di pilipisnya ia usap sembarang dengan kaos olahraganya.
__ADS_1
"Yah.... kelompok Pak Rilo, Edo hati-hati, ya. Kelompok bos Alan kalah tuh, kebanyakan pacaran si sama Nadya makanya bolanya jealous." Lagi-lagi Agung nyeplos dengan seenaknya. Kelompoknya sudah kalah setelah dua kali melangkah dari garis start.
Puk
Nadya melempar sandal, tepat mengenai bamper si Agung, karena udah menuduhnya ia dan Alan pacaran di tengah-tengah permainan. "Sialan Lo." Protes Nadya tambah kesal. Sedangkan Agung hanya terkekeh saja.
"Mayan nih sandalnya, swall*w." Ucap Agung dengan mengacungkan sandal Nadya, berlagak akan membuangnya juga.
"Eh.....mau dilempar ke mana tuh!" Nadya berlari dengan satu sisi nyeker, alhasil ia dan agung kejar-kejaran rebutan sandal jepit itu.
"Balikin gak. Gue kempesin perut Lo, Gung!" ancam Nadya dengan nafas tersengal-sengal.
"Traktir gue dong, Nad. Pajak jadian loh dengan Pak Alan." Ucap Agung dengan sedikit berteriak meski masih berlari menghindari Nadya yang sudah membawa batu lumayan gede.
"Ogah, berhenti gak Lo!" Nadya terpaksa berhenti, ia sudah capek berlari.
"Nih, gue takut sama tatapan Pak Alan." Agung menyodorkan sandal jepit Nadya, ia menyadari sejak tadi Alan menatap tak suka pada Agung.
"Biarin aja, dia emang kayak gitu. Padahal kita udah mantan." Ucap Nadya sambil memakai sandal jepitnya.
Agung si kepo, tak menggubris tatapan Alan, ia sengaja jalan beriringan dengan Nadya. "Yakin kalian putus, Pak Alan masih cintrong banget sama Lo gitu."
"Bodo amat." Ucap Nadya ketus.
"Ya udah jadi Lo free dong ya diajak PDKT. "
"Boleh, asalkan bukan Lo!" Cicit Nadya sambil tertawa ia berlari meninggalkan Agung yang sudah berkacak pinggang, sebal dengan Nadya yang menolaknya sebelum mengungkapkan.
__ADS_1
"Sialan Lo, Nad."