
"Eh...kamu beneran mau poligami, Mas?" tanya Mama Shofi ketika mereka sudah berada di dalam mobil untuk pulang.
"Kalau nikahnya sama Nadya, gak bakal Ma. Dapetin dia susah banget, eh ...malah mau disakiti." Seloroh Alan dengan berkali-kali mendial nomor Rilo.
"Kamu tuh Nadya terus mas, gak ada gitu pandangan cewek lain."
"Gak ada, Ma."
"Heran deh, kamu tuh ganteng, relasi kamu banyak, masa' sih ketemu klien atau karyawan kamu yang cewek gitu gak ada satupun yang nyantol?" tanya Mama sembari menatap putra sulungnya.
"Ada, Ma."
"Siapa?" tanya Mama antusias.
"Nadya."
"Hufh...susah emang ngomong sama orang yang bucinnya kebangetan."
"Bucin? temannya micin, Ma?" sindir Alan yang heran mamanya bisa tahu bahasa gaul budak cinta.
"Mutia, asisten pribadi kamu tuh juga jomblo, kan? kenapa gak coba didekati?"
"Entahlah, Ma. Setiap bertemu cewek, yang diingat Alan ya cuma Nadya sih. Dari segi wajah oke, kecerdasan gak usah ditanya, ramah pakai banget, sopan juga. Paket komplit kan?"
"Kalau Mutia?"
"Cenderung pasif, Ma."
"Lah emang Nadya awal-awal dekat sama kamu gak pasif?"
"Pasifnya Nadya tuh beda, Ma."
"Bedanya?"
"Pasif berprinsip."
"Apaan, Mas, Mas. Kamu aja yang punya istilah kayak gitu, kalau pasif m'a, pasif aja."
Alan hanya diam, tak menanggapi ocehan mamanya lagi, nanti dibilanv bucin lagi.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Alan ketika sambungan telpon untuk Rilo yang kesekian kalinya diangkat.
"Besok aja langsung ke sini, selesaikan masalah Lo dulu. Nadya masih aman kok!" Jelas Rilo yang memang saat makan siang Nadya bergerombol dengan sesama teman wanitanya, tak ada yang perlu dilaporkan Rilo pada Alan.
"Kalau enggak nanti sore atau habis Maghrib deh, gue ke lokasi."
"Gak usah maksa, Lan."
"Gue gak tenang aja, apalagi Nadya sepertinya diincar Ihsan itu!"
"Hadeh, cemburu terus bos. Yakin nih masih emosi kalau mau bertemu dengan Nadya?"
"CK...gak usah sok ceremah Lo, ya udah gue tutup dulu." Pamit Alan pada Rilo.
Mama masih sibuk dengan ponselnya, wanita paruh baya itu cukup aktif berbisnis, sebagai single parent beliau cukup sukses melebarkan kemampuan berbisnisnya dan merawat dua buah hatinya sekaligus. Alan pun mengakui itu, meski hubungan dengan sang mama renggang lantaran paksaan agar meneruskan perusahaan papanya di usia muda, Alan sangat menyayangi ibunya. Hanya saja gengsinya lebih besar untuk bergelendot manja atau balik ke rumah utama. Sangat berbeda dengan Ardhan, meskipun sudah menikah tetap bermanja dengan sang mama.
"Kamu masih sering ke rumah Nadya, Mas?" tanya Mama tiba-tiba, memecahkan keheningan di dalam mobil itu..
"Sejak tiga bulan ini, gak pernah, Ma. Orang udah putus sama anaknya, masa' menemui ibunya."
Puk
"Ya elah, Ma. Udah ikhlas banget."
"Kalau ikhlas dekat dan menyayangi itu, mau kamu putus atau enggak tetap saja jaga silaturahmi ke beliau."
"Hem gitu ya, Ma."
"Kamu sih terlalu sering mengunjungi mama sampai gak tau trik apa menggaet hati mertua." Sindir Mama Shofi.
"Ck....nyindir, Ma."
"Oh merasa?"
"Lagian, Alan lebih seneng tinggal sendiri daripada di rumah utama direcokin kawin mulu."
"Nikah sayang, bukan kawin."
"Iya, Nikah, mama ku sayang."
__ADS_1
"Sepertinya mama udah lama ya gak dipanggil sayang sama kamu."
"Terus aja nyindir."
"Ya emang kenyataannya begitu." Mama bersungut-sungut tak mau kalah. "Gimana kalau kita ke rumah besan, bilang aja jemput Naila."
"Ya elah, Ma. Ardhan juga pasti udah nyempil di pojokan rumah, ngapain juga jemput Naila ada lakinya yang bisa ajak pulang ke rumah utama."
Mama terdiam sebentar, "Ya udah, kalau gitu antar mama ke rumah besan. Nanti mama bakal bujuk besan buat restuin kamu."
"Beneran?"
"Tapi ada satu syaratnya?"
"Mama sama anak sendiri aja pakai syarat segala."
"Iya dong, otak berbisnis kita biar semakin cerdas."
Alan tertawa, apa hubungannya coba. "Ya udah apa syaratnya?"
"Kalau kamu berhasil nikah sama Nadya, kamu harus pulang ke rumah utama. Mama kesepian, Mas. Adik kamu malah berniat menetap di SG."
Hufh...
"Oke...bisa dipertimbangkan."
"Enak aja, gak bisa ya jawaban gantung gitu."
"Ya elah, Ma. Alan dan Nadya kan ingin privasi Ma, gak direcokin mama terus."
"Suudzon ya kamu sama mama, berdosa loh. "
"Ya maaf."
"Oke deal ya?"
Mau tak mau Alan pun mengangguk, okelah untuk sekarang lebih baik menuruti mama dulu, siapa tahu dengan bantuan beliau, Gusti Allah pun memberikan jalan yang mudah untuk mendapatkan restu Ibu Nadya. Aamiin.
"Mampir dulu ke toko roti, cari oleh-oleh."
__ADS_1
"Siap Nyonya." Alan menurut saja, ia pun segera menuju outlet bakery searah dengan rumah Nadya.