SULUNG

SULUNG
TAKUT DOSA


__ADS_3

Setelah berdiam diri di ruangan keuangan bersama Nadya, Alan mendapat umptan kesal dari Rilo. Bilangnya setelah makan siang tadi mau menemui Nadya sebentar, nyatanya hingga satu jam sebelum kantor bubar Alan baru balik ke ruangan, dan sialnya bersama Nadya.


"Kalau gue gak telpon Lo, gak bakal balik kan Lo?"


"Di sini siapa sih yang jadi bosnya?" sindir Alan yang duduk di kursi kebesarannya. Mulai membuka laporan yang perlu ditandatangani.


"Lo juga, Nad. Gak usah goda-goda kalau di kantor, bikin otak dia oleng aja." Rilo yang ceriwis makin ceriwis saja karena kesal, dari tadi ia dan Erfina meneliti berbagai laporan yang biasanya dikerjakan sendiri oleh Alan, tapi lihatlah Alan hanya memberikan tanda tangan saja tanpa mengoreksi terlebih dahulu.


"Pak Rilo salah paham kayaknya, Pak Alan sendiri yang berdiam diri di ruangan saya." Nadya tak maulah disalahkan sepihak, orang dia dan anak keuangan sudah mengusir bos ganteng beberapa kali, tapi Alan saja yang tak mau beranjak.


"Lain kali tendang aja kalau gak mau pergi." Beneran Rilo kesal setengah mati pada pasangan kekasih itu.


"Jangan dong, sakit nanti pacar saya!" Nadya sengaja menambah kekesalan Rilo dengan pengakuannya, namun Alan hanya tersenyum tipis. Setiap kali Nadya mengumbar status mereka Alan berbunga-bunga.


"Ck.....nikah aja deh kalian, puyeng gue lihat kebucinan."


"Siapa juga yang nyuruh lihat!"


"Ya kalian yang kelewat berulah, di kantor gak profesional. Apaan dulu bilangnya mau profesional meski beda status. Prettt!"


Nadya tertawa, berhasil juga membuat Rilo emosi. Asisten pribadi yang ogah banget dengan urusan kertas itu semakin keki karena Alan begitu membela ucapan Nadya, terbukti sejak masuk ruangan ia hanya diam sambil senyum tipis gak jelas.


"Mbak Erfina kok diam aja?" okelah Nadya


saatnya diam, tak menimpali ledekan Rilo, lebih baik berinteraksi dengan Erfina yang tampak cemberut tapi takut lah untuk ngoceh seperti Rilo lakukan.


"Gak pa-pa, Nad." Ucapnya singkat, sambil membuka beberapa dokumen yang butuh ditandai tangani Alan.


"Mbak, siap-siap pulang saja, biar aku yang kerjakan." Nadya berinisiatif saja, kasihan juga Erfina kalau sampai lembur gara-gara menunggu tanda tangan Alan.


"Gak pa-pa, Pak?" Erfina perlu meminta persetujuan Alan, pasalnya Nadya adalah kekasih bosnya. Takut dimarahi saja kalau Nadya sakit atau kecapekan.


"Iya silahkan siap-siap pulang."


"Sengaja banget menerima, prett. Aslinya mau berduaan terus itu." Rilo menyeletuk, meski fokusnya pada layar laptop.


"Diam kenapa sih!" pekik Alan sambil menepuk kepala Rilo dengan penanya.


Drt...drt...


Ponsel Alan berbunyi, panggilan dari mama Alan.


"Iya, Ma?"


"Waalaikumsalam cowok!" Nyonya Shofi sengaja menjawab salam, menyindir Alan yang tak pernah mengucap salam terlebih dulu ketika menerima panggilan dari mama.

__ADS_1


"Iya, Assalamualaikum cewek!" goda Alan jahil, geli juga bilang seperti itu. Apalagi di depannya ada Nadya yang menatapnya curiga, terlihat sekali kerutan di dahinya.


"Mama!" ucap Alan dengan gerakan bibir tanpa suara. Nadya pun tersenyum kikuk. Ia kembali melakukan tugas Erfina.


"Hem....ya kalau dia mau, Hem gak janji, Ma. Iya aku usahain, jam 7 mungkin, Ya Allah iya mamaku sayang."


Alan kemudian menutup ponselnya, kadang Nadya pengen ngomel akan sikap Alan pada mamanya. Terkesan cuek dan ketus banget.


"Sayang--"


"Bu Nadya, staf keuangan!" potong Rilo mengingatkan. "Ini kantor jangan sembarangan yang yang-an."


"Ck...Nadya sayang!" Alan tak meralat, ia semakin gencar saja membuat Rilo kesal. Bahkan Alan tahu, konsentrasi Rilo buyar tatkala Alan dan Nadya terlibat obrolan kecil layaknya sepasang kekasih.


"Apa?" tanya Nadya dengan menyodorkan dokumen. Ia menatap Alan dengan berkerut kening, Alan sepertinya susah mengungkapkan apa yang ada di dalam otaknya. "Kenapa?"


"Mama mau ketemu kamu!"


"Sekarang?"


"Enggak sekarang, mungkin setelah jam 7. Kita pulang jam 7an aja ya, Maghriban di kantor."


"Ketemu di mana? Duh...kucel gini ketemu Mama!"


"Ecie.. manggilnya mama!" goda Rilo lalu tertawa ngakak. Ternyata Alan cepat juga mengenalkan Nadya sebagai kekasihnya.


"Kayaknya kamu sekarang harus bawa stok baju di kantor deh sayang."


"Buat?"


"Ya kan kita kencan hampir tiap hari selepas pulang kantor."


"Kita nikah aja yuk, kok lama-lama aku takut ya dengan hubungan ini."


Alan terdiam seketika, begitu juga dengan Rilo. Bahkan asisten pribadi ganteng itu sampai menghampiri keduanya, sengaja duduk di samping Nadya di kursi depan meja Alan.


"Eh...Lo ngomong apa, Nad?" Rilo mencoba mencerna maksud Nadya barusan.


"Saya takut dengan hubungan dengan Mas Alan. Tiap hari ketemu, tiap hari kencan, dosa banget aku."


"Yuk."


"Main yak yuk yak yuk aja Lo, Lan!" potong Rilo sebal.


"Bisa gak sih kita kayak awal-awal gitu, sekedar chat dan telpon doang. Semakin kesini kita sering berduan loh, Mas."

__ADS_1


"Hem ..dari awal aku kan bilang ayo nikah, kamunya aja yang masih memikirkan Naila. Denger ya sayang, aku sanggup membiayai hidup keluarga kamu."


"Aku gak mau hutang Budi sama siapapun." Nadya masih ngotot, tak mau menerima tawaran Alan.


"Ya udah kalau kamu gak mau aku kasih cuma-cuma, biarkan Naila bekerja di toko kue atau roti mama. Gimana?"


Nadya terdiam sejenak, "Nanti aku bilang ke Naila."


"Lo tuh harus mikirin masa depan Lo juga, Nad. Setidaknya menikah dengan Alan, insyaallah hidup keluarga kalian terjamin, betul gak bos?"


"Untuk kali ini kamu boleh dengerin saran dari Rilo, sayang!"


Nadya mengangguk. Jujur ia menjalani hubungan lawan jenis itu takut, karena pasti akan banyak dosa yang tercipta. Memang gaya pacaran Alan-Nadya cukup sehat, sentuhan tangan saja bisa dihitung dengan jari. Tapi percayalah, saat berduaan, tatapan penuh cinta selalu muncul.


"Kita selesaikan ini dulu ya, setelah itu kitake rumahku."


"Berdua? Gak mau, Mas."


"Ada mama sayang."


"Gue ikut deh."


"Haisshh...malah dipikir aku cewek gampangan, di rumah cowok, datang sama dua cowok. Gini nih ya efek dari pacaran itu, gampang banget bikin dosa."


"Yang, jangan bilang gitu dong. Aku tuh niat banget nikahin kamu, makanya ayo kita nikah biar semua yang kita lakukan halal."


"Lagian apa susahnya sih nikah sama Alan, Nad?" tanya Rilo, gemas juga sama Nadya. Kurang apalagi pada diri Alan hingga Nadya meragu. Soal kehidupan keluarga Nadya? Yakin deh Alan sanggup memberikan pekerjaan yang membuat hidup Naila layak kalau Nadya menolak jatah bulanan untuk ibu dan Naila secara gratis.


"Bukan susah, Pak Rilo. Hanya saja ada perasaan yang mengganjal. Aku sendiri juga gak tahu apa."


"Makanya, malam ini kita temui mama. Beliau sekarang sudah di perjalanan ke rumahku. Kalau kamu masih gak nyaman, Rilo bawa Vika deh."


"Eh kok jadi bawa bebeb gue?"


"Ya terus siapa lagi cewek yang bisa diandalkan buat nemenin Nadya?"


"Mbak Ersa aja deh, kayaknya dia lembur hari ini. Belum pulang mungkin sekarang."


"Ersa anak keuangan teman kamu?" tanya Alan memastikan.


Nadya mengangguk.


"Boleh."


"Siap." Nadya terlalu antusias sehingga reflek beranjak dari kursi, namun Alan segera mencekal pergelangannya. "Ditelpon aja sih, gak usah ke bawah."

__ADS_1


"Oh iya!" cengir Nadya.


__ADS_2